Kebudayaan yang Berotak ke Ampu Kaki

(Membaca cerpen Gus tf Sakai)

Oleh Fadlillah Malin Sutan

(Tulisan ini dimuat di suratkabar Padang Ekspress, tgl 13/07/2014, halaman 19)

Dalam sejarah, setiap bangsa mempunyai latar budaya yang menghidupinya. Latar itu mungkin bernama tradisional atau modernitas.Sulit dan bahkan mustahil untuk ditemukan ada manusia yang dibesarkan tanpa tradisi budaya yang melingkupinya, tanpa kebudayaan yang mengasuhnya, tanpa kebudayaan yang dijalani dan jiwainya.Kebudayaan dijalani manusia, seperti kata Navis (1999:9) yang mengutip pepatah Minangkabau;yang berjalan di sepanjang jalan.

Kaki yg TerhormatTerlepas suatu kebudayaan dianggap oleh kebudayaan lain sebagai bukan kebudayaan atau dengan istilah tidak berbudaya, akan tetapi tidak berbudaya itu pun suatu kebudayaan.Dengan demikian,mustahil manusia hidup tanpa kebudayaan. Dalam sisi lain, kebudayaan juga merupakan nilai-nilai yang dijalani manusia sebagai jati diri, harga diri, dan kehormatan. Ketika suatu kelompok manusia, suku, kaum, puak, bangsa, menyatakan kebudayaannya bernilai baik atau mulia, namun bagi bangsa yang lain belum tentu bernilai baik bahkan mungkin saja berlawanan dengan nilai yang mereka anut. Nilai-nilai kebudayaan suatu bangsa tidak semua sama, bahkan berbeda dan berlawanan. Sebagaimana kata pepatah, lain lubuk lain ikan, lain padang lain hilalang.

Persoalan kebudayaan inilah yang agaknya mungkin dikemukakan Gus tf Sakai dalam cerpen Kaki yang Terhormat.Masalah yang diceritakan sebagai suatu kebudayaan suatu bangsa atau suku yang dimetaforakan cerita ini.Diceritakan tentang filosofi dan tradisi budaya yang diturunkan seorang nenek kepada keluarga dan anak cucunya.Cerpen itu berangkat dari masalah budaya Minang sebagai latar, hal itu disebabkan kosa kata khas menjadi petanda dan penandamenunjukan (indeksikal) bahwa cerpen itu berlatar budaya Minang. Petanda atau penanda itu antara lain;panggilan Mamak, merupakan panggilan khas dalam budaya Minang dari tradisi budaya matrilineal, untuk saudara laki-laki ibu. Juga ada beberapa istilah, seperti; Mak Etek, Atuak, Adang, tradisi makan sirih, peruntungan, setiap anak laki-laki pergi merantau.

Dalam cerpen itu diceritakan bahwa bukan sesuatu yang salah bila ada suatu bangsa menjadikan kaki sebagai sesuatu yang terhormat, sebagai sebuah perumpamaan.Kaki bukan sesuatu yang hina, sebaliknya sesuatu yang terhormat. Kenyataan ini tentu berlawanan dengan bangsa “yang lain” menjadikankepala sebagai sesuatu yang paling terhormat, kepala sebagai sesuatu yang mulia. Sesungguhnya ini tentu tidak menjadi persoalan, akan tetapi yang menjadi persoalan adalah ketika suatu kebudayaan yang mempunyai nilai-nilai yang menghormati kepala tetapi dalam realitas masyarakat kebudayaan itu menjadikan kaki sebagai sesuatu yang paling terhormat.

Ketika suatu bangsa seharusnya menghormati kepala, tetapi dalam dalam realitas bangsa itu menghina kepala dan melakukan penghormatan terhadap kaki, padahal meletakan penghormatan kepada kaki dalam nilai-nilai budayanya adalah suatu bentuk penghinaan atau kebodohan.Di sini diletakan penghormatan kepada kaki manusia adalah sebagai metafor, dalam satu sisi dapat diartikan menjadikan kaki sebagai pimpinan yang paling terhormat.Sebagaimana juga ketika kepala yang terhormat maka kepala dijadikan pemimpin, dan kepala identik dengan akal, yakni akal yang memimpin kehidupan manusia.Dalam hal ini kepala metafor dari akal dan kaki metafor dari kebodohan.Kebudayaan yang menghormati kebodohan, dan membuang akal pikiran atau rasionalitas sebagai pedoman dan pemimpin kehidupan, dengan pengertian yang berkembang dalam masyarakat adalah kebodohan kebudayaan atau kebudayaan kebodohan.

Jika memang benar demikian, adalah suatu hal yang tragis dan satir, jika cerpen ini memang merupakan masalah yang berlatar budaya Minang, ia dapat saja menjadi suatu sindiran yang sangat tajam dan tragis, nyaris sarkastik. Pada kenyataannya (begitu juga secara konseptual) budaya Minang lebih memuliakan kecerdikan, artinya menjadikan kepala sebagai sesuatu yang terhormat, tetapi bukan berarti tidak ada individu dan kelompok masayarakat yang melakukan sebaliknya.Adapun begitu pentingnya rasionalitas dalam budaya Minang, terungkap dalam kalimat-kalimat sehari-hari di Minangkabau;apakah waang bautak atau indak (apakah kamu berpikir atau tidak), lai bautak waang (apakah kamu tidak berpikir) bautak ka ampu kaki (jangan meletakan otak di empu jari), juga ada ungkapan indak babanak (tidak berfikir).Bahkan dalam sikap hidup bangsa Minang ketika pergi merantau, maka di rantau ia hanya boleh bodoh tiga hari, bila hari keempat ia masih bodoh maka ia akan dipulangkan ke kampung.

Kecerdikan di dalam kebudayaan Minang terbagi dua, (1) cerdik yang baik dan (2) cerdik yang buruk, maka akan dikenal dengan cerdik pandai, cerdik cendikia; sebagai yang baik, adapun yang tidak baik, dikenal dengan istlah cerdik buruk, galia, bagi orang luar dikenal dengan istilah licik, dan di Jakarta atau perantauan pulau Jawa dikenal dengan istilah Padang Bengkok. Namun cerpen ini jadi sindiran tajam kepada budaya Minang, seolah-olah cerpen ini mengatakanbahwa budaya Minang pada hari ini menjunjung tinggi ke-galia-annya dan membuang kecendikiaannya. Akan tetapi cerpen ini terbuka, untuk setiap kebudayaan, bukan hanya budaya Minang, bahwa ia menjadi metafor sindiran tajam ketika budaya buruk meraja-lela, sementara budaya baik disingkirkan dan menjadi sesuatu yang aneh, sebagaimana merajalelanya korupsi, yang mengkorup kemanusiaan dari manusia.

Dalam budaya Minangkabau ada istilah yang dikenal dengan berotak kepada ampu kaki, dalam pengertian bahwa kebodohan yang terjadi sudah tidak tertolong lagi. Akibat kebodohan itulah yang menyebabkan suatu bangsa tidak menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kebodohanlah yang menyebabkan suatu bangsa menjadi budak di negeri sendiri, mereka tidak segan-segan menjual harga dirinya, menggadaikan negerinya, dan rela menjadi budak di negeri sendiri.Merampok kekayaan bangsanya sendiri, jelas merupakan kebudayaan yang bodoh.

Pada sisi lain cerpen Sakai ini, juga mempunyai tafsiran lebih luas dan akan dapat dipahami orang dalam pengertian bahwa memang ada suatu bangsa yang mempunyai tradisi kebodohan dan memuja kebodohan sebagai suatu keluhuran. Namun dalam satu bangsa akan selalu ditemukan dua tradisi, yakni tradisi kecerdasan yang sering disebut dengan kearifan lokal atau local genus, sedang yang kedua adalah tradisi kebodohan yang juga sering dititip dalam istilah yang dikatakan udikan, kampungan, kolot, kuno, bahkan yang lebih tajam babar, primitif, belum beradab. Setiap nenek moyang suatu bangsa pada hakekatnya mempunyai dua sisi itu, sebagaimana juga pada hari ini dan masa depan. Mustahil suatu bangsa hanya mempunyai tradisi kecerdasan saja tanpa ada tradisi kebodohan.Adalah sungguh tragis bila tradisi kebodohan yang diangkat dan dimuliakan oleh suatu bangsa, sementara tradisi yang cerdas dibuang. Sebagai suatu perumpamaan, hanya bangsa yang bodoh yang membiarkan kebudayaan korupsi (banyak juga yang mengatakan bahwa korupsi bukanlah kebudayaan, bahwa yang disebut kebudayaan hanyalah yang baik-baik saja) meraja-lela, berkembang biak, sehingga tidak mampu untuk dilerai lagi.

Begitu parahnya penyakit korupsi, seolah-olah cerpen ini juga mengatakan pada sisi lainnya bahwa; persoalan korupsi berpangkal dari keluarga, bahkan sejak dari neneknya, terutama persoalan mind set dan bertindak.Begitu juga kebudayaan, apapun pun, dimulai dari keluarga, tradisi keluargalah yang mengajarkan dan mentradisikan, disadari atau tidak, kemudian dikukuhkan oleh lingkungan dan tradisi yang menghidupinya.Namun sebagian ahli mengatakan bahwa yang dapat memutus mata rantai itu adalah pendidikan.Namun ternyata banyak juga kaum terdidik yang melakukan korupsi, sebagaimana Harun dalam cerita itu.Begitulah, terasa cerpen itu mengalir dengan tenang tetapi sangat dahsyat metafora yang disimpannya.Metafora itu lansung menuju ke hulu jantung perenungan kebudayaan.Wallahu a’lam bissawab.***

*) Fadlillah, gelarMalin Sutan, staf pengajar Sastra Indonesia FIB Unand, sedang Studi S3 Kajian Budaya di Unvi.Udayana.Denpasar.

Haji; sebelum Kepulangan Terakhir Para Perantau

Oleh Fadlillah Malin Sutan

(Tulisan ini dimuat di Padang Ekspress Minggu, 21 September 2014)

Haji pada hakekatnya bentuk lain dari manifestasi hidup manusia (dalam pandangn kemusliman) tentang “kepulangan dari perantauan”. sebelum kepulangan terakhir, merupakan sebuah perjalan spiritual. Hal ini yang dihadirkan dalam novel Ular Keempat (UK), oleh Gus tf Sakai (2005). Sebuah bentuk lain dari penghayatan empirikal spiritual, yakni menghadirkan secara pengalaman nyata bagaimana “rasa kepulangan dari perantauan” itu “ada” atau “hadir dalam diri’. Dengan demikian teks Haji dalam novel UK, merupakan reinterpretasi dari teks perantauan manusia sesungguhnya, dengan pengertian sederhananya; ia merupakan penjabaran hakekat inti dari teks perantau, yang mengisyaratkan bagaimanapun ia akan pulang.

Tentu timbul pertanyaan, yakni, mengapa teks hanya merupakan representasi dari “emperikal kepulangan”. Hal itu disebabkan salah satu makna tafsir yang muncul ke permukaan dari teks Haji adalah “kembali kepada Pencipta” (aku memenuhi panggilanMu ya Tuhan), dan makna kepulangan sesungguhnya adalah “kembali kepada Pencipta” (kami datang ya Allah). Pencipta adalah “kampung sesungguhnya” bagi “para perantau” (hamba Allah), baik dalam terminologi sufistik, maupun terminologi religiusitas. Manusia ke dunia hanya pergi merantau. Sebagaimana kepulangan sesungguhnya adalah kematian; sehingga ia berada dalam epistemologi “innalillah wainnailahi rojiun”, yang berarti; kepunyaan Allah kembali kepada Allah (Qs. 2;156). Pencipta adalah “kampung halaman” dan hidup di dunia merupakan “perantauan”, “Ranah” sesungguhnya dari manusia.

 

Oleh sebab itu novel UK dapat dibaca dalam tema besar tentang “perantau”. Tidak ada sesuatu pun yang dibawa oleh perantau selain amal ibadah dan kebersihan jiwa. Sebagaimana diperlambangkan oleh ibadah haji, tidak ada yang dibawa ke Mekah, dengan tubuh yang dibalut kain putih, hanya ibadah dan ketulusan hati. Seluruh prosesi ritual haji adalah; 1. Mîqât (batas waktu dan tempat melakukan ibadah haji dan umrah), 2. Ihram (niat melaksanakan ibadah haji atau umrah dan memakai pakaian ihram (pakaian ihram adalah dua helai pakaian tak berjahit untuk menutup badan bagian atas dan sehelai lagi untuk menutup badan bagian bawah, berjahit untuk perempuan), 3. Tawaf (mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali, berlawanan arah jarum jam), 4. Sa’i (berjalan dari bukit Shafa ke bukit Marwa sebanyak 7 kali), 5. Wukuf di Arafah (berdiam diri di padang Arafah sejak matahari tergelincir pada tanggal 9 Zulhijah sampai terbit fajar pada tanggal 10), 6. Melontar Jumrah (melempar batu kerikil ke arah 3 buah tonggak, yaitu ûlâ, wustâ, dan ukhrâ, masing-masing 7 kali). Semua dalam tema besar “aku datang ya Allah” (labaika ya Allah).

 

Kepulangan seorang manusia yang sesungguhnya adalah kepulangan yang selayaknya dalam kekayaan rohani, bukan dalam kekayaan materi. Adapun kekayaan materi selayaknya diperlukan untuk memperkaya dan mematangkan kekayaan rohani. Pada makna kepulangan, dapat dipahami hakaket manusia mempunyai kemampuan untuk melepaskan diri dari cekraman kecintaan kepada materi. Ketidakmampuan melepaskan diri dari cekraman itu menghadirkan ibadah haji yang gagal, kepulangan yang sia-sia.

 

Dengan demikian “kepergian” dan “kepulangan” seorang perantau, pada hakekatnya merupakan perjuangan yang sungguh-sungguh dan berat. Ini diperlambangkan dalam suatu epistiemik semiotik oleh ibadah haji dengan sai dan ibadah jumrah, bahwa perjuangan adalah perlawanan; sikap tidak mau menerima terhadap penindasan dan penzaliman, yang secara manusiawi sikap itu dipresentasikan dengan akhlak yang mulia. Dengan demikian, kehadiran perantauan sebagai hakekat hidup merupakan suatu suasana jiwa yang selalu dalam bepergian dan pulang.

 

Dalam novel, yang terjadi sebaliknya, tokoh Janir melakukan Haji dengan niat yang berbeda, tidak lagi dalam koridor ibadah kepada Tuhan, tetapi untuk prestise (2005:170). Dengan demikian, secara emperikal spiritual, yakni hakekat haji; tidak ditemukannya, kalau haji merupakan bentuk lain dari ‘kepulangan’ kepada Allah, maka Janir tidak merasakan itu. Sebagaimana Janir tidak pernah menyatakan kehendak untuk pulang ke Minangkabau, dan dalam terminologi bangsa Minang, ia disebut dengan “merantau Cino”.

 

Merantau Cino dalam terminologi bangsa Minang, merupakan tradisi merantau yang tidak akan kembali dan tidak memungkinkan untuk kembali (agaknya ini yang dimaksud oleh Sakai [2005:181] dengan layang-layang putus tali). Hal itu terjadi disebabkan oleh ekonomi, politik, agama, budaya atau adat, sehingga tanah atau tempat untuk kembali memang tidak ada. Alasan ekonomi antara lain karena harta dan tanah asal sudah terjual habis atau alasan politik antara lain karena pergolakan pemberontakan. Adapun alasan agama antara lain disebabkan pindah agama atau berbeda aliran agama. Kemudian alasan budaya dan adat antara lain kerena melanggar hukum adat dan budaya sehingga mendapat hukuman diusir dari nagari sendiri dan sudah malu untuk pulang. Namun ada juga yang merantau Cino disebabkan oleh kemauan sendiri, yang memang tidak suka dengan hidup di kampung halaman. Fenomena budaya seperti ini memang sudah biasa terjadi.

Adapun Janir, merantau disebabkan oleh alasan politik, karena terjadi pergolakan pemberontakan PRRI di Minangkabau. Dalam sejarah, gelombang perantauan bangsa Minangkabau paling besar akibat pemberontakan PRRI. “Ketidakpulangan” Janir secara hakekat dalam ritual haji ada hubungan dengan “ketidakpulangannya” secara konkret dalam budaya. Perantauan yang tidak pulang adalah fenomena yang dihadirkan Janir, dalam hakekat perantau ini sesungguhnya bentuk lain dari teks Malin Kundang yang merupakan fenomena teks yang tidak pernah pulang. Pada idealnya; Malin yang baik-lah yang selayaknya pulang, akan tetapi dalam realita cerita; yang pulang adalah teks Malin Kundang yang buruk. Teks Malin Kundang merupakan teks perantau yang gagal secara moral. Walaupun tidak dapat dikatakan begitu sama dengan teks Malin Kundang, maka Janir dapat dimasukan juga sebagai perantau yang gagal secara spiritual. Adapun yang membedakan Janir dengan teks Malin Kundang adalah persoalan spiritual dan moral, adapun secara materi mereka tidak gagal dalam perantauan.

Ketidakpulangan perantau memberikan pengertian terputusnya teks rantau dengan teks kampung. Teks yang terputus itu, mungkin diibaratkan dengan tali layang-layang yang putus. Layang-layang yang putus tali, melayang-layang dibawa angin entah kemana, ini yang disebut dengan “hanyut serantau”. Layang-layang yang putus pun hancur berkeping-keping diamuk orang atau tersangkut di pohon besar, tergantung tinggi, megah, berhujan berpanas. Pada pihak lain, gambaran putus tali itu pun manifestasi dari bangsa Minang yang terputus dari akar budayanya, bentuk lain dari ketergila-gilaan terhadap budaya asing dengan gelora dan amuk perasaan rendah diri dengan budaya sendiri. Kata lain dari ketercerabutan budaya itu adalah putus tali, dan putus tali ini juga diibaratkan dengan seseorang yang sakit jiwa atau gila, maka disebut dengan “putus tali satu” (putus urat sarafnya). Ketika putus tali satu itu maka ia terputus dengan segala-galanya, hanyutlah serantau ketika galah yang satu itu yang patah. ***

Simpang Tui, Kuranji, 2014.
*) Fadlillah, gelar Malin Sutan, staf pengajar Sastra Indonesia FIB Unand.

Haji dan Silaturahim Rantau dan Ranah

Oleh Fadlillah Malin Sutan

(Tulisan ini dimuat di Republika Minggu, 12 October 2014)

 

Haji adalah prosesi ibadah umat Islam yang dahsyat. Tidak banyak sastrawan yang mengangkatnya dalam karya sastra. Salah satu novel tentang haji adalah karya Gus tf Sakai (2005), yakni Ular Keempat (UK). Novel ini sebenarnya pergulatan batin perjalanan haji tokoh utama, sebagaimana yang ditulis di bagian sampul belakang. Pergulatan itu, pada persoalan hakikat kemanusiaan, politik, ekonomi, dan kebangsaan.Semua disajikan dengan gaya surealisme, tetapi ada juga yang mengatakan realisme magis.

 

Ada suasana teks satiris di bagian akhir novel ini, suasana bagaimana manusia beragama tergelincir dengan kemegahan. Pergi berhaji sampai berkali-kali, hanya untuk keegoisan diri, yang pada hakikatnya bertentangan dengan arti berhaji itu sendiri, yakni ibadah. Suasana itu akan menjadi satir dan ironis bila dihubungkan dengan teks sufistik Hasan al-Bashri dengan tukang sol sepatu Sa’id Ibnu Muhafah di Kota Damsyiq.Inilah teks yang tersembunyi dari teks novel UK, yakni tentang teks sosialitas dan kemanusiaan yang kuat.

 

Teks mimpi Hasan al-Bashri tentang tukang sol sepatu dari Kota Damsyiq mendapatkan haji mabrur walau tidak pergi haji. Ketika dia (Hasan al-Bashri) bangun, dia cari tukang sol sepatu itu. Ketika bertemu, tukang sol sepatu itu mau bercerita, bahwa dia tidak ada apa-apanya, selain hanya rela memberikan uang yang dikumpulkan dari rencehan ke rencehan, yang diniatkan untuk berhaji, kepada seorang janda dengan enam orang anaknya yang kelaparan di suatu gubuk.

 

Tukang sol sepatu itu menceritakan bagaimana didapatinya seorang janda sedang memasak daging yang sangat lezat dan harum sekali. Tetapi janda itu berkata kepada tukang sol sepatu itu, “Daging ini halal untuk kami tapi haram untuk tuan, karena daging ini adalah bangkai keledai …. Bagi kami daging ini adalah halal, karena apabila kami tak memakannya tentulah kami akan mati kelaparan.”

 

Terasa suasana satir dan ironi, bagai sindiran tajam, bila diperhadapkan dengan bagian penutup novel UK (2005:159), “Tanah, lumpur- lempung rendah, begitulah. Haji, teruslah. Lupakan mereka: anak semangmu, tetangga yang papa, para fakir, kaum duafa. Huah-ha-ha ….” Dalam kenyataan, juga banyak ditemukan bagaimana orang berkali-kali naik haji tanpa berpikir betapa sangat perlunya menolong orang miskin, fakir, atau kaum dhuafa (daripada naik haji berkali- kali). Teks haji berkali-kali melupakan teks orang miskin, fakir, dan dhuafa, padahal dua teks itu harus bersinergi, bersilaturahim. Memutuskan dua teks itu adalah memutuskan silaturahim.

 

Dengan demikian dalam kalangan orang Mus lim, hubungan antarteks adalah silaturahim. Jika Julia Kristeva dan Jaques Derrida menyebutnya intertekstualitas, maka bagi orang-orang Muslim mungkin dapat disebut teori silaturahim, karena setiap sesuatu di alam ini menurut orang Muslim berhubungan; silaturahim.

 

Hubungan antarteks itu, interkstualitas, atau silaturahim itu, dalam konteks Muslim, berpijak pada dua hal, yakni rahmatan lil-alamin, dan hablumminannas wa hablumminnallah; bahwa kamanusiaan manusia itu baru baik, baru jadi manusia, ketika baik hubungan dengan teks alam (jadi rahmat), baik hubungan dengan teks seluruh manusia, baik hubungan dengan Pencipta teks, yakni Allah. Dengan demikian teks dalam ranah kemusliman ada tiga, yakni teks alam semesta, teks manusia, dan ketiga adanya Pencipta teks (dalam agama Hindu Bali dikenal dengan konsep spiritual Trihitakarana). Akan tetapi pada bagian Pencipta teks inilah yang tidak ada dalam antarteks atau intekstualitas Julia Kristiva dan Derrida.

Bagi Derrida, tidak ada teks di luar teks, artinya semuanya adalah teks, dengan demikian dapat dipahami tidak ada Pencipta teks, bagi Derrida. Seterusnya, dalam prosesi ritual haji, sebenarnya mempertemukan ketiga teks itu dalam silaturahim.

 

Kemanusiaan manusia Muslim adalah kemampuan menghadirkan kondisi silaturahim dan mematangkannya dalam diri dengan tempaan yang kuat. Sehingga, kemanusiaan Muslim akan berada dalam tataran manusia yang baik, yakni insan-kamil. Dalam pengertian lain, manusia bukanlah suatu kesunyian teks karena ia dapat memahami kedalaman jalinan teks yang berkelindan dengan apik.

 

Pada pihak lain, teks haji dan teks novel itu bersilaturahim, yakni teks perlawanan terhadap penindasan dan penzaliman. Dalam terminologi Muslim, perbuatan penindasan dan penzaliman hanya merupakan epistemologi iblis dan setan, begitu juga penindasan, perusakan, pembakaran, pengeboman, penghalangan untuk kebaikan, walau atas nama agama sekalipun; karena teks Muslim adalah rahmat, bukan laknat.

 

Sebagaimana tokoh Janir yang terzalimi oleh penguasa, hal itu itu tidak saja Janir, tetapi juga bangsanya (kasus PRRI) serta jamaah haji (kasus jamaah kapal Gamela; tidak boleh naik haji, pulang dari haji harus meminta maaf kepada yang mulia duli pemerintah). Janir sendiri pun dizalimi oleh dirinya sendiri (“metafor ular keempat”). Maka hakikat ibadah haji adalah persoalan perlawanan terhadap usaha penzaliman yang datang dari mana saja, terutama dalam diri sendiri.

 

Titik teks silaturahim merupakan penegakan keadilan kepada teks alam dan teks manusia, inilah titik keseimbangan. Hubungan teks silaturahim dengan Pencipta teks, baru lancar (ikhlas, khusuk), ketika hubungan teks silaturahim dengan alam dan manusia sudah selesai dengan baik (jika tidak, sesungguhnya ikhlas dan khusuk sulit hadir dalam diri). Hubungan teks silaturahim rusak akibat pemutusan, perusakan, dan penganiayaan terhadap teks alam dan hubungan dengan manusia. Inilah yang menimbulkan gelombang kesedihan, kesakitan, dendam, kesunyian, menimbulkan energi negatif, karena silturahim sudah tidak ada lagi.

 

Tampaknya, teks haji dalam novel UK, merupakan simbol perlawanan terhadap otoritas kekuasaan yang tidak adil (adil dalam pengertian terminologi Muslim, yakni meletakan sesuatu pada tempatnya; dan yang dikatakan zalim atau menganiaya adalah tidak meletakkan sesuatu pada tempatnya). Di samping itu, di luar dunia Muslim, yakni dunia yang memandang realitas Muslim adalah bahwa dunia Muslim (cf. teroris), haji (cf. stigma negatif-jahat; oleh berbagai narasi sastra film dan realitas, seperti haji dalam terminologi Pramoedya Ananta Toer), bangsa Minang (stigma bangsa pemberontak) merupakan dunia yang dipinggirkan. Tetapi pada pihak lain, aspek positif dan hakikat kehadirannya merupakan suatu hal yang tidak terbantahkan dan bagaimana hal itu menyeruak ke dunia internasional.

 

Simpang Tui, Kuranji, 2014

*) Fadlillah, gelar Malin Sutan, staf pengajar Sastra Indonesia FIB Unand.

Biografi Museum Kekuasan

Membaca novel Andika Cahaya, karya Darman Moenir

Oleh: Fadlillah Malin Sutan

(Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Unand)

1) Artikel ini sudah dimuat di harian Haluan Minggu 08 Juli 2012 M/ 18 Sya’ban 1433 H, rubrik kultur halaman 21.

Andika Cahaya, novel Darman Moenir itu, sepertinya tidak berbicara tentang cahaya, pada hakekat ia berkisah tentang kegelapan. Perangai manusia yang diibarat bagai metabolisme yang sakit manahun. Pada akhirnya, yang jadi korban, peradaban sebuah bangsa, sia-sia (Moenir,2012:146,147), sampai tiga generasi. Pembusukan itu, mencapai klimaks dieksekusi perubahan zaman. Dari kegelapan perangai manusia itu, tentu, ada memungkinkan terawang pembaca untuk berpikir tentang perlunya cahaya, tentang Nur, kebenaran.

andika-cahayaNovel, yang terbit tahun 2012 itu, memang suatu fiksi, tetapi tidak dapat dibantah bahwa dia berbicara tentang fakta-fakta. Karena, tidak akan ada suatu fiksi yang murni fiksi, begitu juga tidak akan ada suatu fakta yang murni fakta, ketika dia berada di tangan manusia. Sebagai suatu fiksi, itu benar, tetapi bagaimana dia mengandung fakta-fakta di dalamnya, dan bagaimana dia membungkus fakta, pada sebuah cerita, itulah novel.

Adalah fakta, Harun Zain Gubernur Provinsi Sumatera Barat, pada waktu itu, dan Hasan Basri Durin adalah Walikota Padang. Tersebutlah beberapa nama, yang mereka bukan fiktif, Ali Akbar Navis, Taufik Abdullah, Anhar Gongong, Mochtar Lubis, Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Sutardji Calzoum Bachri, Boestanoel Arifin, Hoerijah Adam dan Prof. Dr. Mestika Zed, M.A., Nama-nama organisasi Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM), Bundo Kanduang, orsospol Golongan Karya, sampai kepada  penjual obat di lantai dasar Pasar Bertingkat, Pasar Raya di kota Padang. Nama wilayah; ranah Minang, Luhak Tanah Data, Luhak Limopuluah Koto dan Luhak Agam. Nama kota-kota, Padang, Batu Sangkar Padang Pariaman, Bukit Tinggi,  Paya Kumbuh, Sawah Lunto, Lubuak Basuang, nama nagari; Pariangan, Simabua, Batu Basa, Tabek, Sawah Tangah dan Sungai Jambu, sampai kepada pergolakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Nama-nama jalan; Diponegoro, Chairil Anwar, Bundo Kanduang dan tempat bernama Taman Melati, rute Pasar Raya dan Aie Tawa, sampai Simpang Tabiang, Lubuak Aluang, nama tempat Simpang Enam, Parak Karambia, Bandar Puruih, Lubuak Minturun.

Dari sekian banyak nama itu, adalah fakta diantara jalinan fiksi,  ada satu nama yang menonjol daripada nama tempat, kota, dan gedung. Satu nama dari banyak nama,  yakni nama museum itu,  tidak fakta. Dia seperti menggantikan fakta, akan tetapi pada pihak lain, dia mempersiapkan diri untuk melahirkan pertanyaan, mengapa tidak ada nama Adityawarman. Padahal nama itu mengandung sejarah, kekuasaan, agama, budaya dan ekonomi politik. Mengapa Adityawarman tidak pernah disebut sedikitpun. Itulah, sebagai fakta, nama sesungguhnya museum Sumatera Barat. Mengapa yang dihadirkan nama Andika Cahaya. Pada sisi lain, ini seperti penolakkan terhadap kehadiran Adityawarman, jika tidak dikatakan mengganti, indeksikal atau menunda kehadirannya. Agaknya, di sini kata kunci, ia sebagai novel.

Siang Hari Museum dan Malam Mesum

Dari biografi kebusukan kekuasaan tiga penguasa di sebuah Museum (Jotambi, Drs. Ikrar Gantiang dan Dra. Lulu Permata Sari) yang dikisahkan dalam novel itu, apakah akan takut tercoreng nama baik Adityawarman, sehingga cukup dipakai nama fiktif Andika Cahaya. Atau sebagaimana C.C. Berg menganggap nama Adityawarman identik dan dapat dihubungkan dengan Arya Damar, dan pengertian lain dari Andika Cahaya.

Tetapi siapa yang dapat mengatakan Adityawarman tidak terlepas dari kebusukan kekuasaan, sebagaimana dikatakan J.L. Moens (1986: 37,56,57), dalam tahun 1297, Adityawarman menerima pentahbisan-Bhairawa tertinggi di sebuah lapangan mayat yang menyebarkan bau busuk yang tak tertahankan, duduk di atas tumpukan mayat-mayat sambil tertawa-tawa bagai setan dan minum-minum darah. Mid. Jamal (1985:18) pun juga mengatakan bahwa  Adityawarman bagi orang Minang memang bergelar Sri Paduka Berhala (Tuangku Rajo Bahalo). Semua itu juga mengarah kepada patung Adityawarman yang mengerikan (patung raja yang terbesar di Indonesia, yang pernah ditemukan), patung seorang raja yang yang berdiri di atas tengkorak-tengkorak kepala manusia. Fenomena yang luar biasa. Ngingatkan orang pada lambang bendera para lanun, bajak laut.

Diantara kisah Adityawarman yang baik-baik, ini sisi kritik yang kritis. Begitu berkuasanya Adityawarman, sehingga Majapahit pun tak berkutik semasa hidupnya, namun mengapa tidak ada cerita mitos, dongeng dan mistik tentang tokoh itu. Ada beberapa tokoh  menghubungkan dan mengatakan Dang Tuanku dan Cidua Mato sebagai Adityawarman, atau Datuk Perpatih dengan Ketemanggungan. Namun rakyat Minangkabau tidak mengatakannya begitu. Bahkan M. Nasroen (1971:33) dengan tegas mengatakan Adityawarman adalah orang asing, walau termasuk raja yang paling berkuasa di Minangkabau. Dia berada di luar masyarakat Minangkabau. Adityawarman tidak mempunyai suku menurut adat Minangkabau dan dia tidak mempunyai hak atas tanah sedikitpun. Adityawarman tidak berurat berakar di bumi dan masyarakat Minangkabau. Menurut adat Minangkabau, Adityawarman hanya orang sumando dan anaknya adalah orang Minangkabau. Ini menarik, sebagaimana juga dikatakan Wisran Hadi (2000:156-157) bahwa kedatangan Adityawarman dicatat sebagai permulaan kerajaan di Minangkabau, padahal jauh sebelum Swarnabhumi, Sriwijaya dan Singosari, Minangkabau sudah ada di bumi. Uli Kozok (dalam cermahnya di Unimed pada tanggal 09 Maret 2010) meragukan kalau Adityawarman putra Dara Jingga.

 Dengan demikian, novel ini berbicara tentang bangsa, peradaban yang membelakangi masa depan, dan bergegas ke masa lampau yang penuh misteri. Padahal sebuah museum selayaknya hadir dari alam pemikiran bangsa yang menghadap dan mengejar masa depan. Sebagaimana dikatakan Boestanoel Arifin Adam (Moenir,2012:30), bahwa negara-negara maju memaknai dan menghargai peradaban adalah dengan jalan memaknai dan menghargai kebudayaan. Akan tetapi semua menjadi terbalik, bagaimana sebuah kemuliaan kemudian jatuh ke tangan manusia-manusia  birokratikus ABS, AIS, KKN, dan mereka bagian kecil dari suatu mesin KKN yang sangat besar yang berpusat di ibu kota negara. Demikianlah, pada siang hari, dia bernama Museum dan malam hari dia bernama mesum (Moenir, 2012:33,183, 208). Pada penampakan dia bernama Museum, dan pada ketidakpenampakannya dia kebudayaan yang mesum. Lantas,… apakah sejarah pun juga mesum?

Kuranji, Simpang Tui, 2012.

Puisi dan Penjajahan Estetika

(De Gustibus Non Est Disputandum -“selera tidak bisa diperdebatkan”, dan..tidak bisa dipaksakan)

Oleh: Fadlillah Malin Sutan

Dosen FIB Universitas Andalas Padang

Perbincangan tentang sajak agaknya lebih kepada individu puisi, karena ada jebakan untuk menyamakan sajak dengan puisi, yang pada hakekatnya tidak sama, sebagaimana kata Pradopo (1984:2) puisi itu merupakan jenis sastra yang melingkupi sajak, sedangkan sajak adalah individu puisi, dalam istilah bahasa Inggrisnya puisi adalah poetry dan sajak adalah poem. Memang sebelum ada istilah puisi, istilah sajak untuk menyebut juga jenis sastranya (puisi) ataupun individu sastranya (sajak). Namun dalam perkembangan yang terjadi banyak juga disamakan orang.

Puisi sering disamakan orang dengan kata-kata yang indah. Ketika ada kawan-kawan yang merangkai kalimat dan terasa indah, maka ada yang mengatakan “waduh puitisnya”. Namun mengapa ada kawan-kawan atau sahabat mempertanyakan, ketika membaca puisi Indonesia terakhir ini, terasa ada atau banyak yang tidak indah dan bahkan tidak dimengerti. Seperti pertanyaan seorang ibu guru SMU kepada Gus tf (2005:xi), “Apakah sebenarnya maksud kata daging  pada judul buku puisi Anda?” dan penyair pun sulit untuk menjawabnya. Dalam pertanyaan itu, sesungguhnya sudah terjadi jarak yang cukup jauh tentang persepsi keindahan.

Agaknya mirip dengan kejadian ketika banyak orang tua sulit memahami persepsi keindahan anak-anaknya yang berselera punk dan selera pop lainnya. Sehingga sering didengar para orang tua mengatakan, “aku tidak paham, apa indahnya anak laki-laki memakai anting-anting dan gaya rambut seperti itu?”. Dalam hal ini bukan tidak mungkin sesungguhnya sudah terjadi “jarak” yang cukup jauh, sehingga tidak termasuki, dan selanjutnya tentu tidak terpahami.

Tahun 90-an dunia perpuisian heboh dengan pebicaraan “puisi gelap” dengan tokohnya Afrizal Malna, dan tahun 2000-an  heboh dengan “sastra mazhab selangkang” (SMS), Ayu Utami, Jenar, Binhad, Hudan versus Taufiq Ismail. Tentu akan terjadi juga, bagi berbagai ibu guru SMU, tentang sulit dan tidak dapat dipahaminya bagaimana keindahan puisi-puisi “Di Bawah Kibaran Kain Sarung” karya Djoko Pinurbo.

Estetika yang berjarak

Dalam dekade ini, dalam puisi Indonesia, “jarak” estetika (keindahan) itu semakin banyak, apalagi dalam era globalisasi, semua seakan tumpah ruah begitu saja, dan kita seakan berada di dunia yang asing. Semakin jauh “jarak” yang terjadi, apalagi semakin tidak ada niat dan tindakan untuk memasukinya, semakin tidak dipahami, maka dia hanya dihadapi dengan prasangka dan dugaan yang tidak terpahami juga. Dengan demikian terjadilah “perang prasangka”.

Mungkin yang diperlukan adalah kesadaran, bahwa perubahan zaman bergerak dengan cepat, sebagaimana di ungkapkan Afrizal Malna sebagai abad yang berlari, mungkin lebih dari itu. Zaman tidak mungkin menetap, resepsi keindahan bergerak berubah dengan cepat. Kita tidak mungkin menutup diri, hanya dengan demikian akan memungkinkan untuk memahami bahwa ada fenomena ‘sejarah yang berulang’, ada filosofi dasar perubahan yang memungkinkan kita untuk memetakan dengan baik.

Persajakan dalam puisi Indonesia bergerak pada estetika prase, dan potongan metafor yang melompat lompat begitu saja, yang tidak lagi menari lemah gemulai seperti deklamasi, bergerak kepada sesuatu yang selama ini dilegitimasi tidak indah maka sekarang dikatakan indah. Bagaimana sesuatu yang selama ini di tengah masyarakat  adalah buruk dan tidak bermoral, tiba-tiba dunia puisi menghadirkannya sebagai sesuatu yang indah dan bermoral. Masyarakat  tidak menerimanya, masyarakat marah kepada penyair, sulitnya, penyair berbalik memarahi masyarakat. Sebagaimana juga diantara penyair memarahi siapa saja yang bersuara miring tentangnya. Persoalannya, yang terjadi adalah estetika penyair sudah jauh berbeda dengan masyarakat, “jarak” mereka sudah jauh, sehingga sulit untuk memahami.

Estetika yang berjarak itu adalah suatu diskursus, dan diksi; pilihan kata, sudah merupakan; menjadi “dunia”, dengan maksud bahwa ketika kata-kata sudah dipilih, waktu itulah  direkam pandangan dunia, sikap hidup, wawasan, politik, budaya, agama, yakni; berada pada kata itu, ini yang membuat dia berjarak, jarak yang tidak terjangkau.

Penjajahan Estetika

Kemudian ada kehendak untuk saling memaksakan konsep keindahannya, dan memonopoli kebenaran (baca: kebenaran tunggal). Memaksakan estetika kita kepada orang lain atau masyarakat dan melakukan penjajahan; adalah tindak kriminal estetika. Estetika yang berjarak  dapat dimaklumi, akan tetapi tindakan penjajahan estetika (baca;kolonialisme estetika) suatu tindakan yang tidak dapat diterima secara kemanusiaan.

Penjajahan estetika berbeda dengan estetika penjajahan, pada penjajahan estetika terjadi pemaksaan estetika, baik secara halus maupun secara kasar, sembunyi atau terang-terangan, suatu tindakan penindasan. Namun kalau estetika penjajahan adalah bagaimana indahnya penjajahan, bagaimana sisi positif penjajahan, bagaimana melestarikan penjajahan.

Kolonialisme Estetika adalah sungai-sungai yang akan bermuara kepada imperialisme estetika, yakni kerajaan besar dari penjajahan estetika. Contohnya, tentang kecantikan terhadap perempuan, baik dalam sastra, maupun di luar sastra, untuk seluruh dunia, bahwa yang dikatakan perempuan cantik itu adalah perempuan berkulit putih. Ini adalah imperialisme estetika, dengan pengertian selanjutnya, bahwa perempuan berkulit sawo matang (hitam, kuning, merah, coklat) adalah buruk, harus memutihkan kulitnya kalau ingin cantik, ini yang universal. Berlomba-lombalah perempuan timur untuk memutihkan kulitnya. Begitu jugakah dalam puisi, bahwa berpuisi dengan berbahasa Eropa, baru hebat, dan indah, serta diakui dunia? Antalah…. ***

1)    Tulisan ini sudah dipresentasikan di STKIP PGRI Padang, 7 April 2012, Terima kasih kepada Bung Sudarmoko dan Ibu Aruna Laila, M.Pd,”.

2)   Artikel ini sudah dimuat di harian Haluan Minggu 22 April 2012, rubrik Kultur halaman 21.

Malin(g) Ku(o)ndang; dari legenda ke Ideologi

Suatu Tinjauan Terhadap Kumpulan Puisi Maling Kondang karya Syarifuddin Arifin 

Artikel ini sudah dimuat di harian Haluan, Minggu  24 Juni 2012, halaman 21.

Oleh: Fadlillah Malin Sutan

Dosen FIB Universitas Andalas, Padang.

Maling Kondang, buku kumpulan puisi Syarifuddin Arifin yang terbit tahun ini, bagaimanapun, membawa ingatan kepada legenda  Malin Kundang. Ketika dicari dalam kamus, kondang berasal dari bahasa Jawa (sedangkan kundang dari bahasa Minang), artinya terkenal, termashur, dan kondangan adalah pergi menghadiri undangan perkawinan, sedangkan dalam arti bahasa slang berarti kelamin pria dalam ukuran sedang. Maling sudah jelas artinya pencuri, maka maling kondang, tentu berarti pencuri termashur. Lantas apa hubungan karib kerabatnya dengan malin kundang, jelas tidak ada (dunsanak tidak, saudara pun bukan).

Ada pun faktor yang memungkinkan adanya hubungan itu, adalah persoalan bunyi dari kemiripan huruf, kata malin ditambah huruf g,: malin + g, kemudian huruf  u  ditukar dengan huruf  o  pada kata kundang, yakni;  k(u=o)dang. Dengan kemiripan itulah alasan yang akan mengingatkan orang pada malin kundang ketika membaca maling kondang. Sementara sama diketahui, salah satu aspek penting puisi, adalah dunia bunyi.

Bunyi, seperti mempunyai kekuasaan untuk menghubungkan semua itu, mempunyai kekuasaan untuk “memperdunsanakkan”. Dalam biografinya, bunyi mempunyai imperium, mempunyai suatu tradisi yang kuat, itulah tradisi lisan. Masyarakat Indonesia masih kuat tradisi lisannya, sebagaimana dikatakan Teeuw (1994:187-188). Kata Derrida, pada masyarakat Barat  juga dikuasai oleh imperium fonosentristik. Seterusnya, bunyi banyak menghubungkan masyarakat dan budaya dengan berbagai hal. Dia pun menjadi tanda yang menghubungkan sesuatu dengan lainnya. Dalam keilmuan, dunia tanda inilah yang disebut dengan semiotik, atau ayat-ayat dalam terminologi Islam.

Maling Kondang dan Malin Kundang, merupakan tanda bunyi bahasa yang menyimpan isyarat, ibarat, perumpamaan, satire dan ironi kehidupan kebudayaan. Jika malin kundang hakekatnya kependurhakaan, maka maling kondang (kampiun maling) bagaimanapun juga adalah kependurhakaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan, maka dia merupakan malin kundang dalam bentuk lain. Para koruptor-koruptor bangsa(+t) yang begitu berkuasa dalam perayaan kemalingannya; adalah malin kundang bangsa(+t).

Malin Kundang, begitu kisah tentang kedurhakaan, pengingkaran, yang secara normatif, sudah sedemikian lekat dalam kebudayaan. Banyak kisah, tentang kependurhakaan, tapi Malin Kundang yang dapat tempat. Goenawan Mohamad, Navis, dan Wisran Hadi  dan banyak lagi, telah membongkarnya dalam karya mereka, dan sekarang giliran Syarifuddin Arifin.

Malin Kundang, laki-laki itu, entah ada entah tidak, sudah menjadi inspirasi bagi seniman, sastrawan, kaum intelektual, bahkan bangsa ini, Indonesia. Inspirasi berbagai bidang. Entah sampai kapan akan legendaris. Ada hal yang membuat Malin Kundang, selalu diziarahi, dikenang, diruwat, yakni; kependurhakaannya. Malin Kundang ada (to be) karena kependurhakaannya, dia tidak akan pernah ada tanpa kependurhakaan.

Kependurhakaan adalah brand yang sudah terkubur, menfosil dalam waktu yang tidak diketahui, mungkin sekarang ia hanya “berupa roh” yang bergentayangan, yang berkerja secara diam diam dalam kegelapan birokrasi, kontor, pasar, sekolah, mesjid dan kampus. Syarifuddin Arifin, agaknya “melihat penampakan roh Malin Kundang” itu, yang berkuasa di mana-mana. Setidaknya, mengajak kita merenung, apakah kita sudah menjadi Malin Kundang dalam kehidupan bernegara dan berbangsa, di tengah maraknya perayaan budaya korupsi.

Membongkar diskursus kependurhakaan itu, terasa sederhana, tentang sikap pengingkaran,  akan tetapi begitu sulit, kerena dia dalam bentuk tidak penampakan. Akan menyalahkan siapakah, dalam realitas bangsa yang diam-diam bersemayam dalam kepembusukan yang mulai menyengit tinggi.

Merayakan Kemalingan

            Dalam diskursus kebudayaan tidak ada yang disalahkan, semua mengalir, mengambil tempatnya sendiri-sendiri. Ketika kepenegakan hukum sudah lama berakhir, maka maling akan pulang (itu pun kalau masih ada nasib) ke perkampungannya, dan disambut dalam perayaan kepahlawanannya, begitu juga orang-orang yang berusaha hidup di jalan yang benar akan pulang ke suraunya. Yang bukuk makan sarung, tangan mencincang bahu memikul, kata orang Minang, sebagaimana puisi Syarifuddin Arifin (hal:42), Ayam Beranak Itik, itik akan kembali ke bangsanya, ayam akan tinggal dengan kaumnya.

            Adanya para maling (istilah kerennya; koruptor), salah satunya, diumpamakan Syarifuddin Arifin dengan  Ayam Beranak Itik,  secara perumpamaan mengingatkan kita dengan istilah masyarakat kita; manggadangkan anak ula (membesarkan anak ular) atau anak harimau, ini bentuk lain dari kependurhakaan, yang juga diistilahkan dengan air susu yang dibalas dengan air tuba. Masih untung ayam itu beranak itik, kalau ia beranak ular, habislah ayam itu. Terasa bagaimana pedihnya cipeh mulut anak itik kepada ibundanya (mengingatkan kita gaya bicara Donal Bebek  [Donald Duck]);

“berkoteklah sampai berbusa mulutmu

aku akan terus menyeruput lunau

yang tak bisa kau kais dengan cekermu”

tantangnya

Begitulah, pada hakekatnya adalah bentuk kependurhakaan, kepembangkangan, kepengingkaran kebenaran dan nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini mengingatkan pada kritik Wisran Hadi terhadap tari kontemporer Minang yang diibaratnya dengah anak batu lado, atau anak api-api. Kulitnya Minang isi dan misinya tari Barat. Terbalik, selayaknya isi dan misinya hendaknya Minang, kulitnya Barat.

       Akhirnya satu bangsa, dalam pandangan budaya, selalu akan kembali kepada keseimbangannya. Sebagaimana tumbuh-tumbuhan memerlukan humus yang busuk sebagai pupuk kehidupan, suatu bangsa yang sakit memerlukan obat yang pahit untuk tumbuh sehat kembali. Zaman berubah, hari bertukar, alam bergerak. ***

Kuranji, Simpang Tui, 2012.

Anggaran Perjalanan Dinas Lebih Besar dari Pembeli Buku

Anggaran Perjalanan Dinas Lebih Besar dari Pembeli Buku

Memperingati Hari Buku Nasional 2012

 Padang Ekspres • Jumat, 18/05/2012 14:31 WIB • GUSRIYONO • 30 klik

Pemerintah belum memiliki kebijakan sepenuh hati dalam membangun gerakan literasi atau gerakan membaca. Perbandingan yang cukup mentereng bisa dilihat dari anggaran perjalanan dinas para pejabat yang jauh lebih besar dari anggaran membangun perpustakaan di tengah-tengah masyarakat.

Selain itu, sumber daya m a nu sia yang mengelola per pustakaan di instansi peme rintah, perguruan tinggi, dan sekolah-sekolah juga tidak memadai secara kualitas dan kuantitas. Bahkan, perpustakaan se ring dijadikan tempat pem buangan pegawai-pegawai yang tidak pro duktif. Lebih ironis lagi, banyak di antara mereka yang tidak membaca.

Hal tersebut bagian dari bebe rapa persoalan terhadap kebi jakan pe merintah terkait buku, per pus ta kaan dan sumber daya penge lolanya, da lam memperingati Hari Buku Na sional, yang dirayakan se tiap tanggal 17 Mei, juga bertepatan dengan pe resmian Persputakaan Nasional tahun 1980 silam.

”Salah satu amanat konstitusi da lam pembukaan UUD 45 itu men cerdaskan kehidupan bangsa. Un tuk mencerdaskan kehidupan bang s a ini, diantara jalan yang harus di tempuh ad alah membaca. Jika pe­merintah le mah dalam gerakan mem baca ma ka konstitusi itu juga le mah. Ma kanya, pe merintah harus mem per kuat ama nat konstitusi itu me l alui peng ang ga ran dan pem ba ngunan fasilitas per pustakaan yang memadai be serta SDM penge lola yang berkom peten. Kalau seka rang kita melihat ang garan perja la nan dinas para pejabat yang hasil nya tidak jelas itu lebih besar dari ang garan penga daan bu ku-buku bacaan un tuk mas yara kat,” kata pengamat so sial dan politik, Israr Iskandar, ke pada Padang Eks pres, kemarin (17/5).

Wakil ketua Komunitas Padang Mem baca ini melihat kondisi per pus takaan di Sumbar sangat mem pri­hatinkan, baik perpus takaan dae rah, perpustakaan di perguruan ting gi, dan sekolah-sekolah. Di sam ping persoalan gedung dan SDM, rasio jumlah koleksi buku yang tersedia dengan jumlah pem baca juga sangat tidak seban ding. Sehing ga minat baca masyarakat sulit di tum buhkan, akibat tidak ditopang oleh keter se­diaan bacaan yang memadai.

“Di kampus-kampus dan seko lah, perpustakaan merupakan jan tung pendidikan. Sayangnya, jan tung itu banyak yang tidak berfung si, karena pengelolaan dan koleksi bu kunya tidak sesuai dengan yang di­harapkan,” ujar dosen Fakultas Il mu Budaya Unand itu.

Sementara itu, pengamat sastra dan budaya, Fadlillah Malin Sutan, mengungkapkan, persoalan buku dan membaca di Indonesia masih ter kendala kebijakan pemerintah da lam hal pengenaan pajak terhadap pe­nerbitan buku. Dalam satu ek sem p lar buku, banyak pajak yang harus diba yar kan, seperti pajak ker tas, pajak percetakan, sampai pa jak penjualan, dan sebagainya. Aki batnya, harga buku semakin mahal dan kadang tidak terbeli oleh mas yarakat.

“Kalau pemerintah memang ingin membangkitkan minat baca mas ya rakat seharusnya meringan kan beban pajak perbukuan terse but,” katanya.

Di samping itu, kata Fadlillah, per pustakaan nagari atau keca ma tan ha rus dikelola dengan sepe nuh hati oleh pemerintah. Begitu juga, ketika mas yarakat berse ma ngat memba ngun perpus takaan atau taman bacaan masyarakat di ling kungan nya, anggaran peme rin tah untuk itu ha rus disalurkan secara objektif, sebagaimana peruntukan nya. Sebab, banyak perpustakaan atau taman ba caan yang memiliki po ten si mem bangun minat baca mas yarakat tidak bisa menjalankan ke giatannya akibat kekurangan dana.

Kemudian, pemprov Sumbar dan kabupaten/kota juga harus mem berikan reward terhadap pe nu lis-penulis buku di daerahnya. Ka rena, mereka juga turut ber parti si pasi dalam mempromosikan nama be sar daerah Sumbar, yang sejak du lu dikenal memiliki banyak penu lis-penulis handal.

Ketua IKAPI Sumbar, Nita In dra wati Arifin, mengatakan, dunia pe nerbitan di Sumbar seperti kera kap tumbuh di batu, hidup segan ma ti tak mau. Untuk itu IKAPI ha rus memacu penerbitan lokal, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

“Mengharapkan tangan peme rintah daerah, ataupun pihak swasta di Sumbar, adalah sebuah mimpi.  Se­jauh ini, dorongan pemerintah dae rah boleh dikatakan tidak ada. Pa dahal du nia buku, salah satu dari pen­dorong ma junya pendidikan. Ta pi  pemerintah dae rah seolah tak me lihat itu.  Kepe du lian mereka  ter hadap penerbitan dan penulis-pe nulis Sumbar juga tak ada. Pada hal jika buku-buku lokal kita di beli copyright-nya oleh Negara luar, akan men jadikan Sumbar lebih ber martabat,” ungkapnya. (***)

[ Red/Administrator ]

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 565 pengikut lainnya