Soeharto dalam Sastra

Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo
Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin mereka ketahui hanya satu: apakah hari ini Paman Gober sudah mati (Seno Gumira Ajidarma, 2001:11).
Soeharto, mantan presiden Republik Indonesia yang berkuasa 32 tahun itu, juga dibicarakan dalam karya sastra. Adalah tidak mungkin tidak tercatat dalam sastra dengan kekuasaan selama itu. [...]

“Human Trafficking” dalam Kaba “Bongsu Pinang Sibaribuik”

“Human Trafficking” dalam Kaba “Bongsu Pinang Sibaribuik”
Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo
Kaba “Bongsu Pinang Sibaribuik” sebuah karya prosa atau novel Minangkabau yang cukup monumental, ditulis oleh Emral Djamal Dt. Rajo Mudo. Agaknya akan dapat dibaca sebagai sebuah tafsir terhadap sosial politik dan budaya Minangkabau hari ini. Ia tidak hanya dapat dibaca sebagai sebuah [...]

Akhir Tahun di Negeri Senja, pada Sastra

Memandang Barat pada Akhir tahun,
memperhatikan Timur di Awal tahun
karena Barat dan Timur ada dalam diri
Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo
Akhir tahun, seperti memandang sun set, yang sangat monumental, bagaimana matahari dipenghujung tahun akan terbenam. Tetapi awal tahun serentak memperhatikan ke timur, sun rise, matahari terbit, matahari pertama dari tahun matahari itu sendiri. Timur atau barat, [...]

Dari Siti Nurbaya, Sabai Nan Aluih, Dara Jingga, Pada Kehendak untuk “Memilih”

Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo

Pada karya sastra, bukan hanya catatan sejarah dan sosiokultural, ditemukan jejak yang memungkinkan orang untuk menemukan pengertian tentang dirinya sebagai manusia. Ilmu sosial atau sejarah hanya sanggup menulis tentang perang dan peristiwa sebuah ekspedisi membawa dua orang putri untuk dipersembahkan kepada rajanya, atau seorang raja mengirim dua orang [...]

“DARA JINGGA”, SEPERTI MEMBACA KEPEDIHAN

(Dari Wisran Hadi, sampai kepada Gus tf Sakai Sebuah Intertekstualitas)
Oleh: Fadlillah Malin Sutan Kayo

“…dan penulisan sejarah masih merupakan bagian dari perang diam-diam”, Goenawan Mohamad (1997:139)

Dara Jingga, sepertinya “mempertemukan” Wisran Hadi dengan Gus tf Sakai. Sebagai teks, hal ini hanyalah sebuh intertekstualitas, namun tampaknya tidak sekedar hubungan antarteks, lebih dari itu, sebuah [...]