<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Fadlillah Malin Sutan Kayo's Weblog &#187; Cerpen</title>
	<atom:link href="http://fadlillah.wordpress.com/category/cerpen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fadlillah.wordpress.com</link>
	<description>Dengan nama Tuhan yang mahapengasih dan mahapenyayang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 07 Sep 2009 09:01:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='fadlillah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/e3826714c5ca2b1cc3e7e0174ac642a8?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Fadlillah Malin Sutan Kayo's Weblog &#187; Cerpen</title>
		<link>http://fadlillah.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Pisau dalam Diri</title>
		<link>http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/28/pisau-dalam-diri/</link>
		<comments>http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/28/pisau-dalam-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Dec 2007 06:59:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadlillah Malin Sutan Kayo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/28/pisau-dalam-diri/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo
 
Sesudah sholat shubuh itu kami minum kopi, dengan goreng pisang dan ketan. Waktu yang sangat kurindukan selama ini. Terlihat mereka sudah tua, tetapi mereka sangat bahagia pagi ini. Kemudian, seperti dulu, Bapak dan Mak, bercerita. 
“Bagitulah Mak, aku di rantau.”
“Tetapi mengapa cucuku tidak Waang bawa pulang.”
“Mereka belum libur Mak, karena itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fadlillah.wordpress.com&blog=2135759&post=33&subd=fadlillah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;"> </span></font><a href="http://fadlillah.files.wordpress.com/2007/12/para-demang-dan-asisten-demang-di-bkt.jpg" title="para-demang-dan-asisten-demang-di-bkt.jpg"><img src="http://fadlillah.files.wordpress.com/2007/12/para-demang-dan-asisten-demang-di-bkt.jpg?w=434&#038;h=496" alt="para-demang-dan-asisten-demang-di-bkt.jpg" height="496" width="434" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">Sesudah sholat shubuh itu kami minum kopi, dengan goreng pisang dan ketan. Waktu yang sangat kurindukan selama ini. Terlihat mereka sudah tua, tetapi mereka sangat bahagia pagi ini. Kemudian, seperti dulu, Bapak dan Mak, bercerita. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Bagitulah Mak, aku di rantau.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Tetapi mengapa cucuku tidak Waang bawa pulang.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Mereka belum libur Mak, karena itu aku ingin Mak dan Bapak tinggal bersama kami.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Kami ingin mengahabiskan hari tua kami di sini, rasanya badan ini tidak kuat lagi untuk berpergian, “ kata Bapak.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">Mereka selalu menolak, untuk kubawa ke rantau. Aku sudah kehabisan akal untuk membujuknya. Padahal, di kampung ini tidak ada yang dapat diharapkan lagi. Semua harta pusaka sudah terjual, mereka tinggal pun di rumah sewaan. Bapak mengisi hari-harinya dengan menjual rokok di simpang jalan. Adapun untuk biaya hidup dan sewa rumah, aku kirim dari rantau tiap bulan. Aku pikir mereka lebih baik bersama kami, namun mereka selalu menolak. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Kami mencintai negeri ini, karena itu kami ingin menghabiskan masa tua kami di sini,” selalu begitu yang diucapkan Mak. Ngilu rasanya kalimat seperti itu di telingaku. Aku tidak mengerti, bagaimana mencintai negeri yang sudah jadi<span>  </span>kota ini, dengan tanah dan harta pusaka sudah terjual semua. Kalaupun akan mati nanti tentu akan dikuburkankan di tanah yang juga akan disewa dari tahun ke tahun, jika tidak, kuburan itu akan dihilangkan. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">Mengenang tentang tanah, harta pusaka, membuat keindahan sesudah shubuh ini menjadi buyar. Semua kejadian masa lalu hadir di depan mata kembali. Jelas, bagaimana air mataku menetes jatuh ke mata pisau yang sedang aku asa. Pisau sakin itu mengkilat. Rasa sakit hatiku, rasanya menyatu dengan besi mengkilat itu. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Jangan Waang tumpahkan pula darah, aku mohon,” kata Mak.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Aku dipermalunya didepan orang ramai Mak&#8230;.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Waang akan masuk penjara, aku mohon, jangan, biarlah Tuhan membalasnya.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Semua harta pusaka sudah dijualnya, sekarang tapak rumah mau dijualnya&#8230; apakah kita akan masih diam Mak!”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">Mak terdiam.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">Tiba-tiba tanganku dipegang erat oleh Bapak, dan pisau itu dirampasnya. Kakiku disapunya, dan aku terguling.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Ini pisauku, Waang tidak berhak mempergunakannya.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">Bapak duduk di sudut dapur dan menyimpan pisau itu ke dalam saku bajunya.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">Besok paginya, setelah minum pagi, aku memutuskan.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Akan pergi Waang?”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Ya Pak, ke mana muka ini akan dihadapkan, kemana akan berdiri, kemana akan duduk, kalau aku masih di negeri ini.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Aku tidak punya apa-apa untuk kuberikan sebagai bekal&#8230;..kecuali ini.’</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">Lama aku menatap apa yang diberikannya kepadaku.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Ambillah, sekarang jadi hakmu&#8230;hanya sebuah simbol tentang harga diri.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">Aku ambil pisau itu dari tangannya, dan dua lagi, pena dan jam tangan.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Waang tahu apa arti ketiga benda itu?” </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Tidak”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Jangan lihat zahirnya, ini hanya simbol, lihat batinnya, pertama harga diri tetapi hati-hati dengan pisau dalam dirimu sediri, kedua pengetahuan, ketiga waktu. Pergunakanlah pada setiap langkah Waang di alam takambang ini, karena pada intinya ketiganya adalah pisau yang siap akan menikam diri sendiri, jika Waang tak hati-hati”.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">Kutinggalkan negeri itu, terasa seperti Huesca, puisi John Confort, <i>kenangan padanya derita padaku</i>. Berhari-hari, berbulan, bertahun-tahun. Seandainya Mak dan Bapak tidak di negeri ini, barangkali sudah tidak terjejak lagi tanah ini oleh kakiku.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">***</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Di mana Mamak Baha itu sekarang?”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Sejak keluar dari penjara, dia tinggal di surau dagang, tapi kata orang kadang-kadang dia tidur di emperan toko dan di kolong jembatan.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Anak-anaknya di mana?”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Mereka tidak mau tahu.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Itulah kataku dulu, Tuhan sudah membalasnya.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">Bapak lebih banyak diam, dan tersenyum tipis ketika aku keluarkan pisau yang diberikannya dulu.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Pisau perbuatan kita sendiri sesungguhnya jauh lebih tajam dari pisau sesungguhnya”, kata Bapak menatap pisau itu.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">Kuletakan pisau itu di atas meja.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Kau silau-lah dia, barangkali dapat meringankan batinnya.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">Perlahan aku menggelengkan kepala, dan meraih sebatang rokok. Kubakar, kuhisap dalam-dalam, mataku menembus kaca jendela. Menembus masa lalu.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">Dulu laki-laki itu begitu gagah. Waktu kecil aku bangga, aku memanggilnya Mamak Baha. Sewaktu aku di sekolah lanjutan atas, baru aku tahu siapa dia. Orang yang berkuasa di nagari ini, bertangan besi, kaya. Hanya sayang dia tidak peduli dengan pendidikan anak-anaknya dan kamanakannya. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">“Sudah cukuplah sekolah, jangan tinggi-tinggi, hanya jadi <i>sarok balai</i> (sampah), lebih baik ijazah Waang pergunakan jadi pegawai, jadi pedagang.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">Dia buat rumah seperti istana gedung putih, anak-anaknya berpoya-poya, plesiran atau melancong. Satu yang tidak dapat aku terima, yang membuat aku marah, dia menjual tanah-tanah ulayat, harta pusaka, kepada konglomerat-konglomerat dari negeri seberang, dia berpidato dengan bangga, “&#8230;kita datangkan investor-investor”. Sekarang ibuku tidak mempunyai satu pun harta pusaka itu lagi. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">Negeri ini memang sudah maju dan modern, sudah menjadi bagian dari kota, kalau dulu hanya pinggir kota. Hotel berbintang, swalayan besar, pusat grosir terbesar, rumah sakit mewah, tempat-tempat hiburan, perkebunan, pabrik-pabrik, begitu membanggakan, memang. Hanya sayang bukan milik rakyat, tetapi milik sekelompok para konglomeret dari negeri seberang sudah terkenal sangat ganas kapitalisnya. Sementera rakyat disuruhnya berzikir, dinina bobokannya dengan membangun mesjid agung yang biayanya milyaran, anak-anak sekolah perempuan diwajibkannya berjilbab, para ulama, ustad, garin diberinya gaji supaya terhimpit lidahnya. Rakyat nagari pun memuja-mujanya dengan fanatik.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">Matahari berputar, hari berganti, bulan bertukar, tahun berlalu. Zaman berubah, dunia berputar, seperti roda pedati, Mamak Baha diadili dengan tuduhan korupsi, hartanya di sita. Dia terjebak oleh perbuatannya sendiri. Semua harta satu demi satu habis terjual, sedangkan badan di penjara. Sebaliknya sekarang anak-anaknya yang menjadi <i>sarok balai</i>. Adapun Mak Malay tetangga sebelah yang lebih mementingkan pendidikan anak-anak dulu, sekarang hidup bahagia, karena anak-anaknya jadi orang. Dulu Mak Malay habis dicemoohkannya, termasuk aku, kamanakannya.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">***</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;">Besoknya, waktu selesai minum kopi pagi, tiba-tiba televisi lokal memberitakan, ditemukan mayat laki-laki tua bergelimang kotoran dekat tong sampah. Laki-laki itu adalah Mamak Baha. Diperkirakan sudah lama mati. Aku matikan televisi itu. Biar para aktivis sosial mengurusnya, kemudian aku pamit kembali ke rantau, menyalami Mak dan Bapak, juga kepada Selly, pegawai yang kugaji untuk menjaga orangtuaku. Di depan rumah aku panggil taksi, menuju bandara. Terasa masih terngiang penggelan puisi John Conford, Huesca, <i>ingatan padamu, derita padaku</i>. ***</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#0000ff"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><font color="#0000ff"><i><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Puruih Kabun dan <span style="color:black;">Kampuang Batima, Nagari Sungai Jamboe,</span> 2007,-</span></i></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><font color="#0000ff"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><font color="#0000ff"><i><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Catatan bahasa Minang:</span></i></font></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><font color="#0000ff"><i><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Waang;      kamu</span></i></font></li>
<li class="MsoNormal"><font color="#0000ff"><i><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mak;      Ibu</span></i></font></li>
<li class="MsoNormal"><font color="#0000ff"><i><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sakin;      pisau</span></i></font></li>
<li class="MsoNormal"><font color="#0000ff"><i><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mamak;      saudara laki-laki dari Ibu</span></i></font></li>
<li class="MsoNormal"><font color="#0000ff"><i><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kamanakan;      anak dari saudara perempuan</span></i></font></li>
</ol>
<p><font color="#0000ff"><i><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sarok Balai; sampah di pasar</span></i></font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fadlillah.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fadlillah.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fadlillah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fadlillah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fadlillah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fadlillah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fadlillah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fadlillah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fadlillah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fadlillah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fadlillah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fadlillah.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fadlillah.wordpress.com&blog=2135759&post=33&subd=fadlillah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/28/pisau-dalam-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0244c362224626b2538656cf0bafc452?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fadlillah Malin Sutan Kayo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fadlillah.files.wordpress.com/2007/12/para-demang-dan-asisten-demang-di-bkt.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">para-demang-dan-asisten-demang-di-bkt.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perempuan Tua di Jendela Rumah Gadang</title>
		<link>http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/28/perempuan-tua-di-jendela-rumah-gadang/</link>
		<comments>http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/28/perempuan-tua-di-jendela-rumah-gadang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Dec 2007 06:54:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadlillah Malin Sutan Kayo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/28/perempuan-tua-di-jendela-rumah-gadang/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo
 
Bila orang baru datang ke kampung ini maka rumah terakhir yang akan dijumpai adalah sebuah rumah gadang tua. Sebuah rumah gadang bergonjong, sembilan ruang dengan satu rangkiang yang sudah reot di halamannya, tidak jauh dari tepi jalan. 
Rumah gadang itu satu satunya di kampung ini, seakan akan menjadi simbol dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fadlillah.wordpress.com&blog=2135759&post=31&subd=fadlillah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span></font><a href="http://fadlillah.files.wordpress.com/2007/12/rumah-dan-lmbung-padi-di-baso.jpg" title="rumah-dan-lmbung-padi-di-baso.jpg"><img src="http://fadlillah.files.wordpress.com/2007/12/rumah-dan-lmbung-padi-di-baso.jpg?w=434&#038;h=286" alt="rumah-dan-lmbung-padi-di-baso.jpg" height="286" width="434" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Bila orang baru datang ke kampung ini maka rumah terakhir yang akan dijumpai adalah sebuah rumah gadang tua. Sebuah rumah gadang bergonjong, sembilan ruang dengan satu rangkiang yang sudah reot di halamannya, tidak jauh dari tepi jalan. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Rumah gadang itu satu satunya di kampung ini, seakan akan menjadi simbol dari keruntuhan budaya. Di zaman perang, yang sudah mulai terlupakan, sebagian besar rumah gadang sudah hangus dibakar, hanya beberapa buah yang tinggal, kemudian lima tahun sesudah itu satu demi satu runtuh. Kini yang bersisa hanya rumah gadang itu. Sedangkan orang kampung dan para perantau lebih suka membangun rumah dengan gaya rumah perkotaan, rumah beratap seng.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Bila pagi hari, satu jam sudah sholat subuh, saat kabut yang meliputi perkampungan bergerak ke arah timur, semua pintu jendela rumah gadang itu sudah terbuka. Di sebelah tenggara ada sosok tubuh yang sudah ringkih duduk menghadap ke luar jendela dengan secangkir kopi. Itulah Mande Tuo. Selalu begitu, tiga puluh dua tahun lamanya, ditemani atau tidak, setiap usai sholat Subuh dia akan di sana. Secangkir kopi dan sebatang rokok bagi mandeh tuo sudah cukup. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Memang, merokok, makan sirih dan minum kopi bukanlah suatu budaya yang mengherankan bagi kaum perempuan tua di kampung ini. Di kampung ini nyaris kaum perempuan angkatan tua adalah perokok dan peminun kopi, kalau dahulu sebelum perang, nyaris minuman semua orang adalah kopi daun dengan rokok daun enau.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Menghisap sebatang rokok kretek dan secangkir kopi dengan memandang lereng pegunungan dari jendela nampaknya adalah kenikmatan tersendiri bagi Mande. Dulu, akulah yang selalu menemaninya di samping saudara kandungnya sendiri Mak Gaek. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Kini rasanya, aku tidak hanya rindu padanya, barangkali juga rindu pada jendela itu. Rindu bagaimana Mande selalu mengungkapkan sejuknya angin subuh, memandang bukit bukit yang berlapis lapis jauh di sebelah timur dan selatan dari kampung yang terletak di leher gunung ini. Memandang indahnya sinar matahari saat saat menyeruak di balik bukit dan silaunya cahaya menepis kabut dengan wama kemerahan. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Kemudian, Mande akan mengakhiri ceritanya dengan kalimat &#8220;apakah kita akan dustakan juga nikmat Tuhan&#8230;&#8221;. Ada perasaan yang sulit aku artikan dari nada suaranya yang sedikit parau. Belakangan ini aku mulai meraba ada sesuatu yang berat dan pedih dari nada suara itu, seakan mengandungj beban sejarah.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Kepulangan aku kali ini, pada hakekatnya juga oleh karena kerinduan padanya, walau aku dipanggilnya pulang disebabkan oleh kematian ayah. Kalau hanya oleh karena kematian ayah, sesungguhnya hatiku memang sulit mempertimbangkan untuk pulang. Tetapi bagaimanapun aku benci kepada ayah, tetap ada rasa duka dengan kematian itu, walau sesungguhnya aku sudah dicampakkan oleh orang tuaku itu semenjak kecil, dan aku dipungut, serta dididik oleh Mande. Aku akui bahwa aku punya perasaan membenci ayahku karena dia tidak pemah memperlakukan aku sebagai anaknya, apalagi akan bertanggungjawab. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Akhinya aku pulang, dengan rasa keasingan yang mencekam dan ganjil. Mungkin Mande<span>  </span>pun dapat merasakan hal yang sama denganku. Dua hari sesudah kepulanganku, Mande<span>  </span>mengakui bahwa suruannya supaya aku pulang adalah lebih banyak oleh karena rindunya padaku.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Satu yang tidak pernah diungkapkan kepadaku. yakni sejarah hidupnya. Dia menutupnya dengan rapi, seakan takut aku mengetahuinya, walau bagaimanapun aku dekat dengannya, hal itu tetap menjadi misteri bagaiku dan aku seperti mustahil untuk dapat mengetahuinya. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Kemudian satu hal yang tidak pernah terjawab bagiku adalah mengapa ia tidak pemah punya suami, padahal dia adalah wanita terakhir dari rumah gadang ini. Namun sedikit demi sedikit seakan mulai terkuak, aku mulai mencoba merangkai kemisteriannya.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Potongan ceritanya itu, seakan baru dimulai dari kehadiran seorang laki laki yang dibawa tinggal beberapa minggu oleh Mak Gaek. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">***</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Senja itu aku menghidangkan kopi untuk Mande, Mak Gaek dan satu cangkir lagi untuk seseorang, laki laki itu, anak muda yang datang untuk meneliti kesenian Selawat Dulang. Agaknya dapat kupahami karena Mak Gaek memang tukang Selawat yang terkenal di nagari ini. Laki laki itu rupanya dahulu seorang dosen luar biasa di sebuah perguruan tinggi negeri di ibu kota provinsi, sekarang ia bekerja sebagai peneliti kesenian tradisional di kota kabupaten dan menjadi penulis lepas di beberapa koran nasional terbitan ibu kota propinsi.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">&#8220;Duduklah bersama di sini Peri, kalau sudah selesai kerjamu di belakang,&#8221; kata Mande.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">&#8220;Inilah si Peri, yang kami ceritakan kepada nak Agus itu,&#8221; kata Mak Gaek kepada laki laki itu. Dia tersenyum kepadaku dan menganggukkan kepala. Aku hanya menunduk dan duduk bersimpuh di sebelah mandeh tuo.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">&#8220;Kami sudah saling kenal Mak?&#8221; kata Agus pelan sambil menghirup kopi sedikit.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">&#8220;Oh, di mana nak Agus kenal, &#8230; apa iya Peri?&#8221; kata Mande kepadaku. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Aku mengangguk.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">&#8220;Aka sebelumnya tidak tahu, kalau Peri itu adalah Peri Aprila, kami saling kenal di Pasa Gadang dekat kampus. Peri kan menjahit di situ dan aku sering mengetik di rental komputer yang ada di sebelahnya, aku tidak tahu bahwa di sinilah kampung Peri dan ketika di Pasa Gadang, Peri kami kenal dengan nama Rila, Mande,&#8221; katanya menjelaskan.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">&#8220;Oo, begitu,&#8221; kata Mak Gaek tergelak.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Senja itu Mak Gaek banyak bercerita segala segi tentang Selawat Dulang, begitu juga Mande. Agus merekamnya dengan tape recorder kecil. Sementara angin yang bertiup di atas atap rumah gadang mendesau. Pohon limau manis menggeraikan daun daunnya, begitu juga daun-daun tebu dengan suara gemerisik.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">***</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Misteri itu mulai terungkap ketika laki laki itu sakit. Sudah dua hari terbaring laki laki itu, yang nama lengkapnya Agus Septalara. Nampaknya terlalu lelah, kata bidan desa. Memang, ketika pertunjukkan Selawat Dulang akan berakhir malam itu, dia tiba tiba pingsan. Sudah dua kali aku disuruh meramu obat yang ditunjukkan Mak Gaek dan mengantarkannya ke biliknya.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Di meja itu, beberapa buku bergeletakkan, tape kecil, mesin ketik dengan kertas ketikan yang belum selesai, ada dua majalah sastra, suratkabar edisi minggu, di samping beberapa obat yang belum diminum. Dia tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepadaku.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Dipannya berseberangan dengan meja, kepala disebelah kiri dari jendela, sedangkan meja terletak di sebelah kanan jendela. Aku duduk menyamping menghadap ke sebelah kiri, jendela. Di bantalnya ada beberapa naskah tua bertuliskan arab melayu.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Tiba tiba mataku tertumbuk kepada beberapa lembar kertas lama itu. Aku kenal benar kertas yang bertuliskan Arab Melayu itu, milik mandeh tuo. Nampaknya ia menangkap sinar keherananku. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">&#8220;Aku mendapatkannya dari Mak Gaek&#8230;, aku kira Mak Gaek salah memberikan kepadaku, karena sebelumnya Mak Gaek bilang bahwa naskah itu adalah naskah Selawat Dulang yang ditulisnya&#8221;.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">&#8220;Oh?&#8221;</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">&#8220;Kamu bisa membaca Arab Melayu?&#8221;</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Aku menggeleng. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">&#8220;&#8230; Isi naskah itu adalah cacatan harian Mande &#8230;.Mandeh pernah belajar di sekolah perempuan di sebuah kota berudara dingin, dalam catatan itu, dikatakan bahwa ayahmu dulu mengikat tali kasih dengan Mande, tetapi ayahmu mengkhianati dan menikah dengan ibumu yang satu suku dengan Mande. Luka dari pengkhiantan tali kasih itu dilukai lagi oleh ayahmu dengan menikahi perempuan— yakni ibumu sendiri— yang masih setali darah, satu suku, sekeluarga besar, dengan Mande&#8230; </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Kemudian perang meletus. Nageri yang tenteram, indah dan damai ini didatangi tentara pusat. Terjadilah peristiwa itu, yang menghancurkan seluruh kehidupan Mande dan nagari ini,..rumah-rumah gadang dibakar, laki laki dibunuh, perempuan perempuan diperkosa,&#8230; dan &#8230; termasuk Mande diperkosa oleh tentara, ya&#8230; tentara&#8230; pada satu sisi perang adalah suatu kebiadaban yang purba&#8230;<span>  </span>maaf aku telah mengetahui kesedigan keluargamu tanpa sengaja.’</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Aku terperanjat. Tiba tiba mulutku kering. Kalau demikian, aku adalah anak dari perempuan yang telah merebut kekasih Mande, kemudian Mande tetap dengan tulus hati mendidikku, anak dari orang orang yang telah melukainya dengan luka di atas luka? keterkejutan.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">&#8220;&#8230;Demikianlah yang ada dalam naskah, besar kemungkinan masih ada naskah selanjutnya yang masih disimpan Mande atau bisa jadi ada persoalan lain yang kita tidak tahu, dan orang kampung menerimanya sebagaimana adanya&#8230;,&#8221; kata laki laki itu.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">&#8220;Aku minta maaf, karena sudah lancang mengetahui semua itu, sebelumnya aku menyangka naskah itu adalah naskah kaba kalau bukan naskah Selawat Dulang yang ditulis Mak Gaek,&#8221; lanjut laki laki itu.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">&#8220;&#8230; Naskah itu memang disimpan Mande dengan rapi, dan&#8230; tidak seorang pun bolehnya dalam rumah ini, jangankan untuk dapat membacanya.&#8221; kataku memandang keluar jendela seakan dapat membuang kegoncangan hati. Sementara beberapa burung burung gereja berterbangan dan hinggap di tingkap. Tiba tiba kami terdiam. Sunyi seperti datang melingkup. Dari jauh elang berkulik tanda hari sudah tinggi.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">&#8220;&#8230; Sesuatu yang tidak pemah ada cerita kepadaku, seakan dia mau menyimpan dan membawanya sampai mati,&#8230;&#8221; kataku pelan.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">&#8220;Ya&#8230; tidak kusangka&#8230; kadang kadang wanita jauh lebih tabah menghadapi hidup ini yang penuh dengan luka atas luka&#8230; &#8220;</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Tiba tiba Mak Gaek mernanggil dari halaman, dengan tubuh lemah aku minta izin pergi dan aku bisa menyembunyikan kegoncangan hatiku. Aku tahu punggungku diiringi oleh sinar mata laki laki itu sampai aku lenyap di balik pintu. Tiba tiba semua semakin asing seperti sebagaimana rasa asingku dengan diriku.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">*** </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Sudah sholat subuh esok, jendela rumah gadang ini tentu sudah terbuka. Di sebelah tenggara akan selalu ada sosok tubuh yang sudah ringkih duduk menghadap ke luar jendela, menghisap sebatang rokok dan secangkir kopi panas di atas meja. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Aku bayangkan diriku duduk menemaninya, mendengar kata-kata Mande tentang sejuknya angin gunung, memandangi bukit bukit yang berlapis lapis jauh di sebelah timur dan selatan dari kampung yang terletak di leher gunung ini, menanti datangnya sinar matahari saat saat menyeruak di balik bukit dan silau cahaya menepis kabut dengan warna kemerahan. Kemudian mandeh tuo akan mengakhiri kata katanya dengan kalimat &#8221; apakah kita akan dustakan juga nikmat Tuhan&#8230;&#8221; dari <span style="color:#313131;letter-spacing:-0.15pt;">nada suaranya yang sedikit parau dan helaan </span><span style="color:#313131;letter-spacing:-0.2pt;">nafas yang berat.</span></span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:36pt;" align="right"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Soengai Jamboe, 1998.</span></font></p>
<p class="MsoNormal"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p><font color="#008000"><i><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">*) Pernah dimuat di Singgalang, Minggu, 21 Februari 1999, halaman 6.-</span></i></font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fadlillah.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fadlillah.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fadlillah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fadlillah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fadlillah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fadlillah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fadlillah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fadlillah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fadlillah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fadlillah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fadlillah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fadlillah.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fadlillah.wordpress.com&blog=2135759&post=31&subd=fadlillah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/28/perempuan-tua-di-jendela-rumah-gadang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0244c362224626b2538656cf0bafc452?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fadlillah Malin Sutan Kayo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fadlillah.files.wordpress.com/2007/12/rumah-dan-lmbung-padi-di-baso.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rumah-dan-lmbung-padi-di-baso.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lebih Gila dari Gila</title>
		<link>http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/28/lebih-gila-dari-gila/</link>
		<comments>http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/28/lebih-gila-dari-gila/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Dec 2007 06:45:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadlillah Malin Sutan Kayo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/28/lebih-gila-dari-gila/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo
 
SYAHDAN menjelang isya, sang guru sufi mulai ber-cerita kepada para murid tingkat dasar, tentang agama dan politik. “Dengarlah wahai muridku cerita pendek ini, semoga kamu mendapatkan hikmahnya&#8221;.
Setelah dua kali periode jabatan, walikota itu memutuskan untuk menjadi orang gila. Keputusan itu diambilnya setelah setahun ia memikirkannya, maka pada hari ini diputuskannya. la [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fadlillah.wordpress.com&blog=2135759&post=30&subd=fadlillah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span><a href="http://fadlillah.files.wordpress.com/2007/12/25930085.jpg" title="25930085.jpg"><img src="http://fadlillah.files.wordpress.com/2007/12/25930085.jpg?w=430&#038;h=289" alt="25930085.jpg" height="289" width="430" /></a></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">SYAHDAN menjelang isya, sang guru sufi mulai ber-cerita kepada para murid tingkat dasar, tentang agama dan politik. “Dengarlah wahai muridku cerita pendek ini, semoga kamu mendapatkan hikmahnya&#8221;.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Setelah dua kali periode jabatan, walikota itu memutuskan untuk menjadi orang gila. Keputusan itu diambilnya setelah setahun ia memikirkannya, maka pada hari ini diputuskannya. la harus berangkat. Tidak seorang pun yang akan dapat menghalanginya. Itu sudah merupakan tekadnya.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Dibiarkannya angin pagi membelai rambutnya yang sudah mulai memutih. Kesejukkan mulai menyelinap ke dalam pori-porinya. la ter-senyum sendiri. la melangkah dengan baju kebesarannya yang baru. Dunia terasa lapang. Bebas. Merdeka. Ya, baru sekarang ia merasakan kemerdekaan itu setelah lima puluh tahun umurnya. Ia merasa nikmat dan bahagia. Resmilah ia menjadi orang gila. Sebuah keputusan yang dianggapnya paling jitu dan gemilang.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Dalam pikirannya, menjadi orang gila di tengah dunia yang edan (dia memang memahami benar <i>petunjuk bapak Presiden</i> bahwa dunia memang edan) berarti menjadi orang waras di tengah orang gila. Menjadi orang gila berarti menjadi orang yang merdeka. Itulah kemerdekaan sejati, yang cita-citakan negara kesatuan ini.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Sudah dua tahun diceramahkannya pada setiap seminar, rapat, penataran, diklat, loka-karya, dan <i>juklak</i>. Semua tentang tesis menjadi merdeka sejati dan mencapai kemerdekaan serta meraih nasionalisme yang sesungguhnya. Akibatnya dia ditegur oleh pemerintah pusat dengan keras sekali. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">***</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Sekarang ia berjalan menelusuri jalan raya, terus ke gedung bersejarah tentang walikota yang dulu sangat heroik di zaman perang, la terkekeh sendirian. Berlan-lari, bertelanjang bulat. Berguling-guling. Maka kota kecil itu pada pagi hari menjadi heboh. Wartawan berlarian, pejabat berhamburan, serdadu tergopoh-gopoh menuju tempat sang walikota yang sudah merdeka itu. Yang membuktikan tesis-nya. Anak sekolah berhenti sekolah, tertawa riang dan menari nari, anak kuliah berhenti belajar menghapal diktat. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Para wartawan mencoba mendekatinya tetapi tidak sanggup sebab sang walikota bekas juara kungfu nomor satu se-puluh kali berturut-turut di ibukota. Maka siapa yang mendekati, diterjangnya. Bila sudah kena kakinya atau ta-ngannya, alamat badan sudah tidak akan sehat selama dua bulan.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Begitu juga serdadu tidak berani mendekat, hanya melihat dan jauh. Para pejabat pun begitu. Seluruh rakyat di kota itu berhamburan ke luar. Mereka memadati jalan-jalan besar, menonton walikota terjaga mereka, yang terbela. Pihak serdadu banten (bentuk tentara) kewalahan. Mereka mencoba menertibkan massa yang semakin lama semakin banyak. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Matahari sudah mulai sampai kepada titik garangnya. Semua orang tidak peduli dengan terik matahari, karena matahari merasa tidak diacuhkan diam-diam ia tergelincir sendiri ke barat.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Sang walikota bernyanyi, dan membaca puisi, bersorak gembira. Akhirnya ia letih sendiri. Keluarganya melihat dari jauh dengan deraian air mata. Anak-anaknya bertangis-tangisan. Begitu juga para pejabat pun banyak yang berpura-pura menangis. Kota tua itu ditutupi oleh awan kesedihan.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Peristiwa tersebut cepat tersiar ke seluruh dunia akibat arus informasi yang begitu cepat di zaman teknologi ini. Maka tidak heran ketika hari menjelang sore banyak wartawan luar negeri datang memenuhi kota itu. Begitu juga para pejabat dari pusat. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Saat matahari mulai terbenam, sang walikota dapat diamankan oleh pihak serdadu. Sejak itu tidak ada terbetik berita bagaimana nasib sang walikota. Macam-macam isu yang muncul, macam-macam analisis para pakar politik, macam-macam gunjing para seniman, macam-macam bisik-bisik para pejabat. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Ada yang mengatakan bahwa walikota itu gila karena memang ia keturunan orang gila, ada juga yang mengatakan karena ia korupsi dan goncang jiwanya ketika akan terungkap, ada yang mengatakan bahwa ia terlibat dengan mafia, ada yang mengatakan bahwa ia tidak terpilih menjadi menteri, ada yang mengatakan karena ia kepergok sedang homoseks, ada yang mengatakan karena ia terlibat dengan kasus Tom gendrowo, ada yang mengatakan karena ia menegak pil aktaci, ada juga yang mengatakan karena ia gila, ya gila-lah.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Setelah beberapa bulan kota itu terdiam ada seorang aktivis mahasiswa yang mengungkit-ungkit bahwa sang walikota setelah ditangkap serdadu lalu dibunuh karena telah membocorkan rahasia negara. Akibatnya sang mahasiswa juga ditangkap dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Dokter buru-buru memberi ia surat keterangan sakit jiwa. Sehingga resmilah dia gila. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Dalam tahun itu juga berturut-turut penduduk kota ditangkap dan dibawa ke rumah sakit jiwa dan dinyatakan gila. Maka pada akhir tahun resmilah seluruh penduduk kota itu gila dengan surat keterangan yang resmi dan dokter serdadu.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Barang siapa yang tidak mempunyai surat keterangan sakit jiwa maka la akan dipenjarakan ke pulau es yang berada di tengah laut kutub utara. Pulau itu sengaja disewa untuk membangun rumah tahanan politik dan penjahat. Resmilah kota itu menjadi kota orang gila. </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">***</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">&#8220;Itulah dunia,&#8221; ujar sang guru mengakhiri ceritanya, wallahu a&#8217;lam bissawab.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><font color="#008000"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Padang, 1996,-</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<p><font color="#008000"><i><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">*)<span>  </span>Singgalang, Minggu, 11 Agustus 1996.</span></i></font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fadlillah.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fadlillah.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fadlillah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fadlillah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fadlillah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fadlillah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fadlillah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fadlillah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fadlillah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fadlillah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fadlillah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fadlillah.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fadlillah.wordpress.com&blog=2135759&post=30&subd=fadlillah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/28/lebih-gila-dari-gila/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0244c362224626b2538656cf0bafc452?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fadlillah Malin Sutan Kayo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fadlillah.files.wordpress.com/2007/12/25930085.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">25930085.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mati Anjing</title>
		<link>http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/28/mati-anjing/</link>
		<comments>http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/28/mati-anjing/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Dec 2007 06:39:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadlillah Malin Sutan Kayo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/28/mati-anjing/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo

Adakah yang lebih menyakitkan selain dari sunyi. Aku tidak dapat bayangkan betapa membosankan hidup sendiri. Tetapi mengapa daun-daun betah tumbuh sendiri, angin begitu riang berlari di tingkap. Peduli dengan apa yang terjadi. Dalam rentangan tahun sepanjang hari. Namun manusia tentu berbeda dengan alam tumbuhan dan hewan. Atau&#8230; manusia mengalami metamorfosis pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fadlillah.wordpress.com&blog=2135759&post=28&subd=fadlillah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;"></span><a href="http://fadlillah.files.wordpress.com/2007/12/15080115.jpg" title="15080115.jpg"><img src="http://fadlillah.files.wordpress.com/2007/12/15080115.jpg?w=437&#038;h=295" alt="15080115.jpg" height="295" width="437" /></a><span style="font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;" align="left"><span style="font-family:Arial;">Adakah yang lebih menyakitkan selain dari sunyi. Aku tidak dapat bayangkan betapa membosankan hidup sendiri. Tetapi mengapa daun-daun betah tumbuh sendiri, angin begitu riang berlari di tingkap. Peduli dengan apa yang terjadi. Dalam rentangan tahun sepanjang hari. Namun manusia tentu berbeda dengan alam tumbuhan dan hewan. Atau&#8230; manusia mengalami metamorfosis pada batinnya? Pertanyaan yang tidak mungkin aku jawab, biarlah ia abadi dalam tanya itu sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;"><span style="font-family:Arial;">Dari jendela rumah gadang aku lihat matahari belum tergelincir. Sebentar lagi mungkin beduk zuhur berbunyi dari surau Lakuak. Kesunyian di sini ternyata bukan hanya di tengah malam melainkan juga di tengah hari. karena semua orang pergi ke ladang dan ke sawah, walau dari jauh ada kedengaran bunyi <i>tape recorder</i> mendendangkan lagu sentimentil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;"><span style="font-family:Arial;">&#8220;Jangan bermenung juga Peri, kita berangkat lagi, mungkin Mak Gaek sudah istirahat&#8221;, kata Mande Tuo. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;"><span style="font-family:Arial;">&#8220;Ya, Mande&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;"><span style="font-family:Arial;">Kami menuruni jenjang dan bertemu dengan Mak Tuo yang memang sudah berjanji akan bersama-sama pergi ke sawah di Kubang. Ada beberapa laki-laki yang diupahkan untuk menggarap sawah di sana. Mak Tuo berpakaian biru tua yang sudah lusuh dengan selendang kuning diikatkan ke leher. Perempuan itu masih kelihatan enerjik namun keriput di wajahnya sudah berbaris. Umurnya sekitar lima puluhan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;"><span style="font-family:Arial;">Kedua perempuan tua itu berjalan di depanku. Mereka bercerita tentang berbagai perangai orang kampung. Mande Tuo lebih banyak diam, apa lagi aku. Pikiranku melayang jauh ke tempat aku bekerja menjahit. tentang sahabat-sahabatku. tentang kesibukan melayani langganan jahitan. Tetapi kemudian aku disentakkan oleh cerita Mak Tuo tentang hari-hari terakhir ayah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:45pt;" align="center"><span style="font-family:Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;"><span style="font-family:Arial;">Magek Kali, ayahku. ternyata seorang rentenir yang tidak diduga oleh orang kampung. Dia merentenirkan uangnya kepada orang kampung seberang. Di samping itu dia juga pedagang sapi. Kemudian dibangunnya sebuah rumah di Palano Bukik, rumah yang cukup terbagus di kampung ini. Pada siang hari rumah itu seperti tidak berpenghuni, akan tetapi pada malam harinya seakan tidak ada yang tidur sampai terdengar azan shubuh. Padahal hanya dia sendiri saja tinggal di sana, rupanya rumah itu dipergunakannya untuk tempat berjudi dengan kawan-kawannya yang datang dari berbagai kampung dan juga dari kota.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;"><span style="font-family:Arial;">Namun ada satu hal yang membuat dia hidup seperti raja. Dia orang berkuasa di kampung ini, kepala kampung. Kekuasaan itu sudah begitu lama di tangannya, ada dua puluh tahun lebih. Tidak seorang pun yang mampu menggoyahkannya. Dia bekas serdadu, sahabai-sahabatnya banyak yang berkuasa. menjadi teman berjudi dan bisnis. Partai pemerintah selalu menang mutlak dan tidak bercacat di kampung ini. Maka adalah suatu hal yang mustahil untuk mengoyahkan kekuasaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;"><span style="font-family:Arial;">Gaya hidupnya parlente. Selalu berpergian dengan sepeda motor hijau. Tidak begitu peduli dengan anak kemenakan, dia banyak menggadaikan harta pusaka. Akan tetapi kemenakannya tidak berani membantah, apalagi akan melawan. Dia cukup licik untuk mempermainkan mereka. Hari-hari seperti tidak akan berakhir. Di samping itu. dia mempunyai kesukaan berburu babi. Anjing-nya ada dua belas ekor, beberapa ekor adalah anjing luar negeri yang bertubuh besar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;"><span style="font-family:Arial;">Tetapi tidak ada pesta yang tidak akan berakhir. Tidak ada hari yang hanya siang selalu, senja akan mampir dan malam akan singgah, cepat atau lambat. Fisik yang dikuras untuk bersenang-senang sudah habis masanya. Pada satu malam ketika sedang berjudi, dia batuk darah. Sejak itu mulailah dia sakit-sakitan. teman-temannya mulai beransur-ansur tidak datang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;"><span style="font-family:Arial;">Dia memasuki hari-hari yang membosankan. Masa untuk menuai apa yang ditanamnya selama ini. Berhari-hari, berbulan-bulan. tetapi kematian tidak juga datang. Sendiri di rumah yang cukup bagus di kampung ini. Bersama penyakit yang setia dengan dirinya. Tidak ada sanak. tidak ada kawan, tidak ada kerabat. Sendiri, kehidupan sudah seperti sebuah penjara. Tentu, siapa yang memenjara siapa, karena masa menuai sudah datang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;"><span style="font-family:Arial;">Tidak lama, bersamaan dengan itu zaman pun berubah, resesi datang, ekonomi negara anjlok. Kampung kecil ini pun bukan suatu pengecualian dari kesulitan ekonomi dan pangan. Semua orang kampung kesulitan beras dan kesulitan berbagai kebutuhan pokok. Tetapi orang kampung heran kenapa dia tidak kelaparan atau paling tidak meminta tolong. Ternyata dia menumpuk banyak bahan makanan di rumahnya. Maka ketika orang kelaparan dia banyak menjual beras dengan harga yang tidak masuk akal, ada beberapa karung beras yang dijualnya dengan tembusan beberapa petak sawah atau seekor kerbau. Di saat-saat dia hampir mati dan penyakitan itu, dia masih sangat rakus dengan harta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;"><span style="font-family:Arial;">Ketika masa kesulitan bahan pangan sudah mulai teratasi, orang kampung mulai sadar dengan kekuasaannya. Semua orang kampung mulai mengamati rumah di Palano Bukik nagari diperhatikan. u<span>   </span>suar Akhirnya orang tidak tahan untuk mendatangi rumah itu untuk mengprotes dan melengserkan ke prabon akan jabatan kepala kampung yang dipegangnya. Akan tetapi rumah itu sunyi seakan tidak ada penghuni, bahkan terasa mistik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;"><span style="font-family:Arial;">Ketika pintu didobrak, orang banyak menemukan laki-laki itu tergeletak di lantai. Ternyata laki-laki itu sudah mati. Mati sendiri. Dikelilingi oleh anjing-anjingnya. Mungkin inilah dimaksud orang dengan istilah “mati anjing”. Tubuh laki-laki itu sudah membusuk, seandainya orang kampung tidak datang sehabis sholat Jumat itu, mungkin orang tidak pernah tahu. Diperkirakan dia sudah meninggal beberapa hari yang lain. Sedangkan di ruang belakang tertimbun banyak bahan kebutuhan pokok. Mungkin dia meninggal dikarenakan semakin parahnya penyakit paru-paru dan jantung yang dideritanya. Tampaknya sakratul maut dihadapi dalam keadaan penuh penderitaan, hal itu terlihat dari porak-porandanya meja dan kursi dan banyak darah batuknya di atas tempat tidur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;"><span style="font-family:Arial;">Tiga hari setelah penguburannva, orang-orang kampung seberang banyak yang datang menagih hutang mereka. Rupanya. dia banyak berhutang dan nilai hutang tersebut tidak dapat ditutup dengan hartanya yang tinggal. Kemenakannya menjadi sangat terperangah, disangka akan mendapatkan warisan, nyatanya mendapat beban hutang, tidak dapat dikatakan<span>  </span>lagi<span>  </span>bagaimana sakit hati mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:45pt;" align="center"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:45pt;" align="center"><span style="font-family:Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;"><span style="font-family:Arial;">Cerita Mak Tuo baru berakhir ketika kami sudah sampai. Terasa, bagaimanapun aku benci, tetap ada rasa duka. Walau sesungguhnya aku sudah dicampakkannya semenjak kecil dan aku diasuh, dididik oleh Mande Tuo. Memang aku akui bahwa aku punya perasaan membecinya karena dia tidak pernah memperlakukan aku sebagai anaknya, apa lagi akan bertanggung jawab sebagai orang tua, akan tetapi akhirnya aku pulang dengan rasa keasingan yang mencekam dan ganjil. Tampaknya Mande Tuo pun dapat merasakan hal yang sama denganku, mungkin juga orang kampung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;"><span style="font-family:Arial;">Di atas dangau itu orang laki-laki makan siang dan aku dengan Mak Tuo pergi ke tepi batang Malano untuk sembahyang lohor. Sayup-sayup bunyi beduk dari surau Lakuak terdengar dari sini. Terasa angin berhembus dari sela-sela semak belukar, burung-burung pipit terbang berhamburan. Langit tidak begitu berawan. Suara air yang mengucur di balik batu-batu, begitu sejuk kedengarannya. * * *</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><i><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kampuang Batima, Soengai Jamboe,-</span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><i><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;margin-top:4.9pt;"><span style="font-family:Arial;">*) Judul Awalnya: <i>Laki-laki Tua Mati Sendiri </i>di Singgalang</span><span style="font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fadlillah.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fadlillah.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fadlillah.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fadlillah.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fadlillah.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fadlillah.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fadlillah.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fadlillah.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fadlillah.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fadlillah.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fadlillah.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fadlillah.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fadlillah.wordpress.com&blog=2135759&post=28&subd=fadlillah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/28/mati-anjing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0244c362224626b2538656cf0bafc452?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fadlillah Malin Sutan Kayo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fadlillah.files.wordpress.com/2007/12/15080115.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">15080115.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Negeri Carut Marut</title>
		<link>http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/28/negeri-carut-marut/</link>
		<comments>http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/28/negeri-carut-marut/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Dec 2007 06:34:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadlillah Malin Sutan Kayo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/28/negeri-carut-marut/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo




&#160;
“Hai.. Atun. Selamat pagi,” sapa suster cantik di depan pintu.

“Selamat pagi..,” jawabku dengan hatiku bertambah mengkal. Selalu begitu. Sebenarnya sudah lama aku tidak peduli. Padahal namaku, adalah Kartini, enak saja suster itu memanggilku si Atun. Mungkin karena aku babu, coba kalau aku dokter, pasti terbungkuk-bungkuk menghormatiku. Pagi yang indah sudah tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fadlillah.wordpress.com&blog=2135759&post=25&subd=fadlillah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo</span></font></p>
<div align="justify"></div>
<div align="left"><a href="http://fadlillah.files.wordpress.com/2007/12/2-showletter.jpeg" title="2-showletter.jpeg"></p>
<div style="text-align:center;"><img src="http://fadlillah.files.wordpress.com/2007/12/2-showletter.jpeg?w=422&#038;h=333" alt="2-showletter.jpeg" height="333" width="422" /></div>
<p></a></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">“Hai.. Atun. Selamat pagi,” sapa suster cantik di depan pintu.</span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">“Selamat pagi..,” jawabku dengan hatiku bertambah mengkal. Selalu begitu. Sebenarnya sudah lama aku tidak peduli. Padahal namaku, adalah Kartini, enak saja suster itu memanggilku si Atun. Mungkin karena aku babu, coba kalau aku dokter, pasti terbungkuk-bungkuk menghormatiku. Pagi yang indah sudah tidak ada karena<span>  </span>aku mulai bekerja dengan tidak enak hati.</span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Dengan sedikit bergegas aku melewatinya. Aku juga membawa rasa kesal akibat bertengkar dengan suamiku. Sialan, aku heran dia bersikeras untuk tetap jadi guru honor, padahal mungkin banyak pekerjaan lain yang jauh lebih baik, seperti menjual rokok, jual nasi goreng, jual kue, atau pedagang asongan. Suamiku itu idealis totok kata teman-temannya, tapi menurutku bodoh, mau saja jadi guru honor yang tidak pernah diangkat-angkat, sekarang sudah sampai tujuh tahun, ini yang membuat pertengkaran pagi tadi. Selalu begitu. </span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Si bungsu butuh biaya masuk sekolah. Ditambah lagi atap rumah kontrakan yang bocor, serta tibanya musim banjir. Untung aku juga bekerja di rumah sakit ini, sebagai <i>cleaning service</i>, jadi babu istilah kasarnya, gajiku lima kali lipat lebih besar dari honor suamiku. Adapun yang membuat aku dapat bekerja jadi babu di sini pun karena sebagian dari tanah rumah sakit ini adalah tanah ulayatku yang diambil paksa dengan ganti rugi, ya diambil dan merugi. </span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Seandainya orang datang ke bangunan ini, semua orang pasti akan percaya bahwa gedung ini adalah hotel berbintang lima. Semua fasilitas, mulai dari ruangan depan sampai ke kamar-kamar, didisain sebegitu rupa. Tidak ada yang percaya bahwa gedung ini adalah rumah sakit,<span>  </span>seandainya tidak ada tulisan besar berkilau mewah, dalam bahasa nasional dan bahasa asing<i>, </i>berdiri kokoh di depan bangunan. Konon kabarnya, menejernya orang asing, dan saham terbesar juga milik orang asing. Kata suamimu, dapat dikatakan, seluruh perusahan besar, mulai dari pabrik, hotel, tempat hiburan, swalayan, pusat perkotaan, pusat perdagangan milik investor asing. Sedangkan rakyat, pribumi, inlander, tetaplah jadi babu, buruh, budak, walau bertitel sarjana atau doktor. Program favorit mereka berlomba-lomba menjual apa saja yang dapat dijual kepada investor asing. Rakyat cukuplah bezikir beramai-ramai dilapangan, tabligh akbar tiap sebentar, anak sekolah cukuplah berjilbab semua. Pusing, tidak mengerti aku.</span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">***</span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Lantai lima, sayap kiri bangun itu, adalah ruangan yang paling molek. Pemandangan dari sana ke arah pantai sangat rancak sekali. Baik waktu pagi hari maupun sore hari. Sering aku, setiap selesai bekerja, duduk agak lama di salah satu lantai serambinya. Hanya sayang, keindahan itu selalu terganggu oleh sayup-sayup suara dari kamar paling ujung itu. Suara parau laki-laki, kasar, dengan carut marut. Inilah yang membuat ruangan itu terlarang untuk didekati. <i>Cleaning service</i> hanya satu orang boleh mendekat untuk membersihkan ruangan itu.<span>  </span><i>Cleaning service</i> itu adalah aku. Sungguh aku enggan, tetapi karena tugas, mau tidak mau, harus aku lakukan.</span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Di kamar itu, selalu, aku melihat pemandangan yang memprihatinkan. Seorang laki-laki yang belum tua. Terbaring seperti daun kering. Perut buncit, kaki dan tangan kurus. Kepalanya sudah hampir mirip tengkorak dengan mata membelalak besar. Sepertinya laki-laki itu antara hidup dan mati, tetapi tak pernah mau mati. Dialah pasien yang paling lama di kamar rumah sakit mewah ini. Anehnya nafsu makannya tetap besar. Dokter sudah lama angkat tangan, namun keluarganya bersikeras, ingin tetap dirawat di sini.</span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Laki-laki itu kambuh saat waktu subuh, tengah hari, magrib, dan tengah malam. Berteriak-teriak dan bercarut marut yang tidak tertahankan. Kemudian muntah-muntah, banyak. Muntah tidak terkendalikan sehingga berserak-serak ke sana ke mari. Kalau sudah begitu maka jendela kamarnya segera ditutup oleh perawat. Adapun yang paling sulit, menurutku, adalah ketika setiap buang air besar, selalu tangannya mempermainkan kotorannya sendiri. Kalau sudah begitu maka terpaksa tangannya diikat ketika buang air besar, akibatnya perawat dan aku kena sumpah serapah dan carut marut. Aku lelah dan jijik membersihkannya.</span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Dia dirawat tidak hanya oleh dokter, tetapi juga oleh paranormal, dukun dan kiyai, juga didatangkan orang-orang saleh untuk membacakan ayat-ayat suci. Laki-laki itu tetap bercarut marut walau orang-orang saleh sedang membacakan ayat-ayat suci. Waktu pulang, amplop yang cukup tebal dimasukan ke dalam saku orang-orang saleh itu oleh keluarganya. Dari pembicaraan yang kudengar, rupanya, dia adalah anggota parlemen. Dengan demikian baru aku paham mengapa yang datang menjenguknya diseleksi, tidak sembarangan orang nampaknya, kecuali keluarganya. Koleganya yang datang, diam-diam aku perhatikan, semua berperut buncit seperti dia, angkuh, tidak bersahabat. Aku dilarang menceritakan hal ini kepada siapa pun oleh dokter. Aku tidak tahu, entah mengapa. Mungkin hal ini juga yang menyebabkan ia dirawat di lantai lima sehingga tidak diketahui orang. Barangkali gajiku sedikit naik juga dikarenakan<span>  </span>tidak boleh bercerita. </span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Waktu menonton TV, di rumah, diam-diam aku menceritakan hal ini kepada suamiku. Dia tidak terkejut, malah aku yang terkejut dengan ketidakterkejutannya. Bahkan, aku bingung dari jawabannya bahwa hal itu biasa terjadi di negeri ini, karena pasien itu, menurut suamiku, dibesarkan, dididik, dan dihidupi oleh budaya dan negeri yang carut marut. Dia mengatakan bahwa pasien seperti itu akan bertambah banyak memenuhi rumah sakit. Kalau suamiku sudah <i>mencerotet</i>, maka saluran televisi aku tukar dengan saluran sepak bola sehingga tidak lagi keluar kata-kata protes dan kritik pedas dari suamiku, yang membuat aku bingung.</span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">***</span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;"> </span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Bertahun-tahun pasien itu sakit, tetap tidak juga mati. Sebenarnya, seluruh orang yang merawatnya, keluarganya, dan dokter, sudah lama menginginkannya mati. Tetapi dia seperti berakrab-akrab dengan sakratul maut. Keluarganya mulai jarang datang, juga dokter, dikerenakan diam-diam mereka merasa jijik. Aku hanya terheran-heran saja karena apa kata suamiku sepertinya mulai terbukti, dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, setelah itu, semakin banyak saja aku temukan pasien seperti itu. Ternyata semua adalah anggota parlemen, pejabat tinggi dan pemimpin, pokoknya orang berkuasa-lah. Setiap kamar mulai penuh oleh pasien, dan pada akhirnya yang berkerja keras adalah <i>cleaning service</i>, babu. Aku lelah dan muak.</span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Rumah sakit kelas berbintang itu mulai kumuh. Di sudut ruang tunggu sudah mulai kusam dan muram, aku terduduk letih. Sayup-sayup masih terdengar hinggar-binggar suara carut marut di setiap kamar. Sekarang aku sudah terbiasa, tidak peduli. Dengan malas aku memandang layar televisi. Pembawa acara sibuk sendiri dengan berita. Berita tentang jenis penyakit yang tidak diketahui identitasnya. Aku tahu rumah sakit ini sering disorot kamera televisi, dan menyaksikan kru televisi serta wartawan lalu lalang. </span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Menurut pakar terkemuka dari luar negeri, yang diwawancarai di televisi,<span>  </span>penyakit itu lebih dahsyat dari flu burung, jauh lebih berbahaya. Nyaris semua anggota parlemen dihinggapi penyakit ini. Seluruh rumah sakit berbintang sudah dipenuhi oleh pasien berpenyakit aneh. Pakar kesehatan itu menyebut penyakit ini dengan istilah yang aku tidak paham. Sulitnya, rumah sakit negara-negara maju dan negara tetangga tidak mau menerima pasien yang terjangkit oleh penyakit ini, karena mereka takut akan penularannya. Setelah itu, tiap sebentar di seluruh saluran televisi keluar slogan, “<i>Bangsa Berduka, Bangsa Sakit, atau Negara Sakit”</i>. Berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, aku tidak mengerti, mungkin karena aku hanyalah babu, dan kehidupanku tetap seperti dulu-dulu juga.</span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Aku sudah mulai tua. Suamiku tetap jadi guru honor, bertahun-tahun, jangan akan pensiun; diangkat jadi PNS pun antah berantah, rambutnya sudah memutih. Anak-anakku sudah lama berhenti sekolah, dia tidak tahan dimaki sebagai anak babu atau bangsa babu, di samping disebabkan juga biaya sekolah sudah melangit. Sekolah hanya untuk orang kaya dan anak pejabat serta anggota parlemen. Sekarang anak-anakku pun jadi <i>cleaning service</i>, jadi babu. Dan mereka pun sudah beranak-pinak. Rambutku sudah putih. Cucu-cucuku sudah besar-besar, dan mereka pun jadi babu.</span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Aku memandang gedung yang dulunya begitu megah, sekarang sudah seperti bangunan tua. Di dalamnya penuh dengan orang-orang berperut buncit. Kaki dan tangan mereka kurus kering dengan kepala mirip tengkorak serta mata membelalak besar, terbaring tidak berdaya seperti kain buruk yang terlantar. Nyaris, semua mereka adalah anggota parlemen, pejabat, para pemimpin, orang-orang berkuasa. Sepertinya gedung parlemen, kantor-kantor, sudah pindah ke sini. Penyakit ini sudah mewabah, dan di koran dan televisi diumumkan sebagai wabah nasional. </span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Menurut berita televisi sore itu presiden terpaksa diungsikan keluar negeri dan menjalankan pemerintahan di luar negeri, supaya beliau tidak tertular. Tetapi, berhari-hari, berbulan-bulan, betahun-tahun kemudian, presiden pun dibawa pulang, karena sudah nampak ada gejala terjangkiti oleh penyakit itu, dan lama-lama semakin parah. Negara dinyatakan darurat. </span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><font color="#008000"><span style="font-family:Arial;">Aku khawatir kalau mereka yang terjangkit itu, seperti ayam dan burung yang terjangkit <i>flu burung</i>, bersama tempat dia berkerja serta rumah sakit, harus dibakar hidup-hidup, supaya virus penyakit aneh ini tidak menular dan dilenyapkan. Gila, aku jadi bingung, tetapi bagiku yang penting bagaimana keluargaku dapat makan dari hari ke hari. Aku tidak peduli dengan semua itu, karena aku dan cucu-cucuku, tetaplah seperti dulu-dulu juga.***</span></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="justify"><font color="#008000"><i><span style="font-family:Arial;"> </span></i></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="justify"><font color="#008000"><i><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">Puruih Kabun dan <span style="color:black;">Kampuang Batima, Nagari Sungai Jamboe,</span> 2007,-</span></i></font></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="justify"><font color="#008000"><i><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">Terima kasih kepada penyair Agus Hernawan atas diskusinya,-</span></i><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;"></span></font></p>
<p><font color="#008000"><i><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></i></font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/fadlillah.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/fadlillah.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fadlillah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fadlillah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fadlillah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fadlillah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fadlillah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fadlillah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fadlillah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fadlillah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fadlillah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fadlillah.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fadlillah.wordpress.com&blog=2135759&post=25&subd=fadlillah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/28/negeri-carut-marut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0244c362224626b2538656cf0bafc452?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fadlillah Malin Sutan Kayo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fadlillah.files.wordpress.com/2007/12/2-showletter.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">2-showletter.jpeg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>