Komunitas Seni Hitam-Putih Padangpanjang
Laporan S Metron M
Padang Ekspres • Minggu, 28/08/2011 12:25 WIB •
Di bawah pohon rindang, sekelompok orang duduk. Hari itu tepat peringatan 71 tahun INS Kayu Tanam di tahun 1997. Ruang kreatif di sekolah yang didirikan Engku Syafei itu dirasakan menyempit. Mereka ingin mencari ”kolam” yang lebih besar.
Dari salah satu pohon besar yang banyak bertebaran di kampus INS itulah, nama Komunitas Hitam-Putih berasal. Nama itu didapatkan setelah usul sana-sini. Almudazir mencetuskan nama tersebut.
Kelompok itu memang terdiri dari siswa dan guru INS. Seingat Almudazir (seorang penggas komunitas ini), waktu itu ada Yusril, Pandu Birowo (keduanya dosen ISI Padangpanjang) dan Willy Aditya (sekarang Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Nasdem).
Filosofi grup ini sederhana, keinginan untuk berjelas-jelas dan transparan. Ada situasi yang membuat enam kata itu menjadi alas yang dipakai hingga sekarang.
Dari cerita Yusril, situasi perteateran Sumatera Barat waktu itu sudah mentok. Hampir setiap grup mengandalkan kata-kata sebagai bahan utama pementasan. Tidak ada pencarian baru. Seolah-seolah, semua grup menjadi epigon Bumi Teater yang waktu baru mementaskan Jalan Lurus (1993), Anggun nan Tongga (1994), dan Tuanku Imam Bonjol (1995). Pilihan lain harus diambil. Tujuannya menghindari ketunggalan bentuk. Terkesan jumawa. “Kalau tak ada beda, untuk apa bikin grup?” katanya.
Dalam tesis Afrizal Harun (anggota Hitam-Putih dan tamatan S2 ISI Surakarta, Solo) yang berjudul Bahasa Tubuh Aktor sebagai Tafsir Terhadap Kekuasaan dijelaskan bagaimana Yusril, kemudian mengambil jalan teaternya. “Jika Wisran Hadi menciptakan kontroversi dengan demistifikasinya terhadap berbagai tokoh kaba dan bahkan tokoh sejarah.
Maka Yusril, justru menciptakan kontroversi dengan ‘demistifikasi’nya terhadap gaya berteater ‘ala’ Wisran Hadi. Jika hampir semua sutradara teater Sumatera Barat, berusaha menandingi retorika dan logika bahasa verbal dari naskah-naskah Wisran Hadi, maka Yusril memilih untuk membuat tandingan yang menegasikan gaya itu, dengan pertunjukan-pertunjukan yang meletakkan bahasa dan logika visual di atas bahasa verbal”.
Pertanyaannya, apakah itu berhasil?
***
Sejak Hamba-hamba karya Prel T sampai Sesuatu yang Melintas Dalam Samar”, karya/sutradara Kurniasih Zaitun, Hitam-Putih sudah mementaskan 41 pertunjukan. Kebanyakan pementasan teater. Ada juga performance art atau “koalisi” teater dan seni rupa.
Namun, seperti yang ditulis pengamat teater Nasrul Azwar, hanya tiga pementasan yang pantas diingat; Menunggu, Pintu dan Tangga.
Ketiganya dianggap memberi warna. Dalam bahasa Nasrul, eksploratif dan semiotif visual. Artinya, panggung yang selama ini digarap dengan kesan “kaku” akibat merajanya teks tulis mampu ditampilkan lebih atraktif.
Menunggu, contohnya, pementasan dianggap puncak Hitam-Putih. Karya ini sudah dipentaskan INS Kayutanam, Taman Budaya Pekan Baru, Taman Budaya Sumatera Barat, Taman Budaya Jambi, Teater Utan Kayu Jakarta dan Institut Kesenian Jakarta. Sampai-sampai muncul lelucon di antara seniman, “Manunggu ka manunggu se. Bilo pai e.”
Namun, ketika ditanya, apa betul yang membuat kelompok ini berbeda dengan grup lain, Nasrul justru menjawab, “NAMO E BABEDA, PENGURUS BABEDA (namanya berbeda, pengurus berbeda).” (jawaban diambil saat wawancara melalui chat Facebook seperti jawaban aslinya).
Jawaban ini mungkin wujud kekecewaan Nasrul atas pementasan Tangga. Nasrul beranggapan, Hitam-Putih tidak cocok menggarap tradisi Minagkabau, dalam bentuk apa pun. Komunitas Seni Hitam-Putih terasa kurang pas bermain dalam tema-tema yang terkait dengan tradisi kultur Minangkabau, dan mereka sepertinya mesti belajar lebih banyak terkait dengan Minangkabau, demikian Nasrul dalam sebuah tulisannya.
Tangga memang bercerita mengenai asal-usul Minangkabau yang berasal dari dua datuk, Ketemanggungan dan Perpatih nan Sabatang. Soal adat inilah yang kemudian dibenturkan dengan kekinian.
Fadlillah, pengamat lain, saat ditanya kesannya tentang grup Hitam-Putih memilih melihat sang frontman, Yusril. Sebagai “anak sastra” (maksudnya alumni Fakultas Sastra Unand) melihat prosesnya di Teater Langkah menolongnya untuk menentukan teater apa yang akan dipilihnya.
Yusril dianggapnya menyukai simbol. “Bahkan tergila-gila dengan simbol,” komentarnya. Sepanjang pengetahuan Fadlillah menonton pertunjukan Hitam-Putih, mulai dari permainan, menjungkirbalikkan, menimbulkan simbol (baru) menjadi santapan mata.
Mengenai perkembangan Hitam-Putih sekarang, dosen Fakultas Sastra Unand ini melihat Yusril sangat tertolong di tempatnya sekarang. Jika grup lain kepayahan mencari pemain, penata musik, ISI Padangpanjang menyediakannya. Apa yang dibutuhkan tidak perlu lagi dilatih. Cukup ajak kerja sama. Tak heran juga, Yusril “membalas budi” dengan menjadi manajer panggung dan skenografer beberapa pertunjukan ISI Padangpanjang.
***
[ Red/Redaksi_ILS ]