Tadarus Puisi di Jurusan Sastra Indonesia FSUA
Laporan Gusriyono
Padang Ekspres • Minggu, 21/08/2011 11:16 WIB
Ombak itulah yang membangunkan aku lagi padamu:
rambutmu masih hijau meskipun musim berangkat cokelat.
Kujahit lagi robekan-robekan tahun pada gelisahku
dan darahmu kembali mengatakan yang ingin diucapkan jantung. …
Sajak Abdul Hadi WM berjudul Ombak itu dibaca dalam ritme petikan gitar, tiupan harmonika, dan tabuhan jimbe. Sekitar seratus penonton, kebanyakan mahasiswa baru, larut dalam bait-bait penuh kenangan itu bersama dinginnya angin malam di bukit Limaumanih. Malam itu, Jumat (19/8), di Fakultas Sastra Unand, orang-orang berkumpul melafazkan puisi dalam berbagai ekspresi. Sebelumnya, acara itu dimulai dengan diskusi bersama pembicara Fadlillah, bertema Apa Kabar Sastra Indonesia?
Tadarus puisi ini merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan tiap bulan Ramadhan. Sebagai penghormatan atas bulan yang suci ini, karena para penyair juga mendapat tempat dalam Alquran—surat Asy Syuara atau para penyair. Selain itu juga sebagai pengungkapan ekspresi mahasiswa dalam pemahamannya terhadap puisi.
Digelar dari berbuka puasa hingga sahur, acara ini juga dihadiri oleh para sastrawan dan seniman Sumbar dan luar Sumbar, komunitas sastra dan teater dari beberapa kampus di Sumbar, seperti, Teater Imam Bonjol, Teater Nan Tumpah, Teater Rumah Teduh, Studio Merah, dan lain-lain. Mereka tidak hanya membaca puisi, tetapi juga menggelar puisi pertunjukan, musikalisasi puisi, pertunjukan teater dan sebagainya.
Awalnya, acara ini digagas oleh mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Unand, seperti Sudarmoko, Agus Hernawan, Meifrizal, S Metron M, dan kawan-kawan, tahun 1999. Pada mulanya bernama acara Puisi Purnama, dimana pada saat bulan purnama ini para mahasiswa sastra Indonesia, dan beberapa mahasiswa dari jurusan lain berkumpul duduk melingkar membaca puisi secara bergantian dari buku-buku puisi yang ada atau dibawa sendiri. Selain membaca puisi, mereka juga berorasi di bundaran hellypad rektorat Unand itu.
“Ide ini muncul dari suasana bulan purnama itu, dimana biasanya pada bulan purnama orang-orang keluar melakukan berbagai kegiatan, anak-anak ramai bermain, dan sebagainya. Memanfaatkan momen tersebut maka beberapa mahasiswa menggagas pembacaan puisi secara bergantian. Kebetulan waktu itu saya dosen pengampu mata kuliah telaah puisi, maka kegiatan tersebut disinergikan dengan mata kuliah tersebut,” kata Fadlillah, dosen Fakultas Sastra Unand, yang juga salah seorang penggagas tadarus puisi ini.
Kemudian, lanjut Fadlillah, dalam perkembangan waktu, bulan purnama bertepatan dengan bulan Ramadhan. Maka kegiatan yang terinspirasi dari film Dead Poet Siciety yang disutradarai Peter Weir itu digelar setiap bulan Ramadhan dengan nama Tadarus Puisi. Tempatnya pun beralih ke lapangan Fakultas Sastra, ruang seminar, serta kafé Kamek.
“Dengan kehadiran bulan Ramadhan, nuansa spiritual serta kedalaman membaca dan memahami puisi itu lebih terasa. Suasana yang senyap dengan diterangi obor, kemudian menghayati bait demi bait puisi yang dibaca, dalam lingkaran itu,” ujarnya.
Dalam perkembangan selanjutnya, meski tidak lagi dihubungkan langsung dengan mata kuliah Telaah Puisi, acara ini tetap menjaga ruhnya, sebagai media ekspresi memahami dan memaknai puisi. “Arti penting acara ini adalah menjalin silaturrahmi dan memperdalam kemampuan mahasiswa mereguk sum-sum seni,” kata Fadlillah.
S Metron M, salah seorang yang turut menggagas acara ini menambahkan, kegiatan itu juga sebagai sarana untuk mengenalkan kreatifitas dalam bersastra kepada mahasiswa baru. Dalam tataran demikian, katanya, ada sedikit pergeseran dari keinginan awal. Dimana tadarus puisi sebagai lahan ekspresi bagi anak-anak baru tidak begitu kentara.
“Sekarang yang digarap justru pemikiran, bukan ekspresi. Mestinya acara ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk berekspresi. Dulu semua mahasiswa baru wajib tampil. Sebab, tadarus puisi memperdalam pemahaman mahasiswa tentang semua jenis puisi. Apalagi diskusi sebagai pembuka acara juga berjalan satu arah. Sepertinya panitia kehilangan arah memenej acara ini,” tuturnya.
Pernah Dilarang
Penyair, Rusli Marzuki Saria, yang selalu hadir dalam acara tadarus puisi selama 4 tahun belakangan juga mengapresiasi kegiatan ini. Penyair yang akrab disapa Papa ini bahkan bertahan hingga sahur mengikuti acara itu. Hanya saja, tahun lalu (2010), ia kecewa dengan sikap Dekan Fakultas Sastra Unand, yang melarang atau tidak mengizinkan acara itu digelar. Menurutnya, pejabat tersebut tidak memahami makna kreatifitas dalam sastra.
“Sewaktu Fakultas Sastra ini akan dibangun, saya sudah berkali-kali ngomong ke Harun Zein yang waktu itu rektor, bahwa Fakultas Sastra adalah jantungnya universitas, yang memiliki kepekaan rasa. Sebab, di sini (Fakultas Sastra, red) antara otak kiri dan otak kanan itu bersinergi dalam bentuk karya kreatif. Jadi, kalau kemudian hari ada yang melarang berkegiatan kreatif di sastra, sangat tidak masuk akal sekali,” katanya.
Tentang pelarangan ini, Fadlillah menganggap pimpinan fakultas tidak paham dengan apresiasi seni dan perkembangan jiwa mahasiswa. Menurutnya, kegiatan tersebut mesti didukung oleh pihak universitas dan fakultas.
***
[ Red/Redaksi_ILS ]

INGIN BELAJAR SASTRA GRATIS? SILAKAN KLIK TOMBOL “forum diskusi sastra” yang ada di pojok kiri atas sidebar blog siteislami.co.cc