‘Parang’; Perumpamaan Itu bukan di Negeri Laki-laki

Oleh: Fadlillah Malin Sutan

Parang Tak Berulu

Parang Tak Berulu

Cerpen Parang Tak Berulu  pertama kalinya dimuat di di Koran Tempo Minggu, 9 Maret 2003. Kemudian cerpen itu dibukukan dalam sebuah buku (2005) kumpulan cerpen dengan judul yang sama, yakni kumpulan cerpen Parang Tak Berulu. Cerpen itu karya Raudal Tanjung Banua, sastrawan muda Indonesia yang cukup terkemuka saat ini. Sekarang berkegiatan di Komunitas Rumahlebah Yogyakarta. Dia adalah  putra Pesisir Selatan, Sumatera Barat, lahir di Lansano, Kenagarian Taratak, 19 Januari 1975.

Murid penyair Umbu Landu Paranggi ini memulai karirnya dari koresponden harian Semangat dan harian Haluan, Padang, -untuk akhirnya memutuskan merantau ke Denpasar, Bali, bergabung dengan Sanggar Minum Kopi; lalu ke Yogyakarta, menyelesaikan studi di Jurusan Teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Dia banyak menulis puisi dan cerpen di harian nasonal di Jakarta.

Adapun cerpen Parang Tak Berulu  adalah salah satu cerpennya yang agaknya terkuat dalam buku kumpulan cerpen itu, salah satu alasan, mungkin,  judul cerpen tersebut dijadikan judul buku. Di samping ada alasan lain, cerpen ini cukup terpuji dan diulas oleh kritikus Nirwan Dewanto pada kulit kover belakang buku. Namun tetap akan menimbulkan pertanyaan bagaimana kelebihan cerpen itu sehingga judulnya dipilih menjadi judul buku? Dengan demikian agaknya perlu ditelusuri apakah inti permasalahnya yang diungkapannya, sehingga ia dapat dikatakan terpilih?

Pada cerpen itu (1) cerita dari awal sampai akhir didominasi oleh parang, semua peristiwa menyangkut dengan parang yang tak berulu. (2) Dari awal sampai akhir cerita Gombak mempersoalkan parang tak berulu, sehingga ia baru mengerti (Mula-mula Gombak tak tahu maknanya, … Tapi lama-lama ia mulai mengerti, 2005:66.) bagaimana parang sebagai benda dan sebagai pepatah, dan sebagai peristiwa sosialbudaya. (3) Bagaimana perawatan terhadap parang, dan bagaimana parang sampai terlantar dan tak berulu, disebabkan oleh Jibun dipaksa menceraikan Gondan. (4) Cerita orang di lapau  dan di tempat perhelatan adalah tentang parang, yakni parang yang tak berulu. (5) Persoalan parang tak berulu menjadi simbol jati diri Gondan (Jamak di kampungnya, hidup seorang janda diibaratkan pisau atau parang tak berulu, 2005:63). (6) Pesoalan parang tak berulu mengakibatkan Mak Anjang diceraikan istrinya. (Pak Anjang menaruh hati pada Gondan, ibunya, 2005:68). (7) Dengan demikian parang yang tak berulu adalah inti persoalan, persoalan sosialbudaya (konotatif dari parang tak berulu). (8) Dengan tujuh alasan di atas maka inti persoalan adalah parang yang tak berulu, dengan demikian inilah tema cerpen tersebut.

Ada dua peristiwa kecil yang mengapit dua peristiwa besar dalam cerpen itu. Yakni (1) cerita dimulai oleh sebuah peristiwa kecil, cerita parang yang terlepas dari tangan Gondan, waktu mengeping kayu di pagi hari, disaksikan oleh Mak Anjang penjual ikan keliling. Gombak, anaknya, merasa bersalah karena tidak kuat mengikat ulu parang. (2) Peristiwa besar pertama adalah sorot balik tentang bagaimana sang ayah, Jibun, dipaksa untuk menceraikan Gondan oleh Mamak Sutan Mangkudu (diceritakan dari sudut parang). (3) Peristiwa besar kedua penderitaan Gondan sebagai janda yang diibaratkan seperti parang tak berulu. (4) Peristiwa kecil kedua Mak Anjang diceraikan istrinya karena dianggap mata keranjang (diceritakan dari sudut parang). Namun semua peristiwa berpusat pada sebuah parang, yakni parang yang tak berulu.

Selanjutnya yang menjadi pertanyaan mengapa memakai kata parang, mengapa memakai kata ulu (mungkin berhubungan kata penghulu, pemimpin), karena dalam karya sastra tidak ada kata atau tanda yang tidak mengandung maksud. Mengapa pengarang tidak memakai kata ladiang (yang lebih mendeskripsikan Minang) tetapi parang (yang lebih mendeskripsikan Indonesia atau Jawa), agaknya ini adalah sebuah pertanda bahwa Minang sudah dalam masa kuasa Indonesia atau jawanisasi. Seperti adanya sepeda sanki adalah ikon latar yang mengungkapkan bahwa pada masa itu sudah dalam masa modernisasi.

Nirwan Dewanto, mengungkapkan parang sebagai simbol kelamin laki-laki (parang, … bisa bermakna sebagai kelamin lelaki atau bayangan lelaki). Agaknya berlawanan dengan apa yang diungkapkan cerpen itu sendiri bahwa hidup seorang janda diibaratkan pisau atau parang tak berulu (2005:63). Ada juga pepatah yang lain di Minangkabau yang mengibaratkan perempuan sebagai parang atau ladiang, yakni; diladiang ayam batino, tidak ditemukan pepatah yang mengatakan diladiang ayam jantan.  Hanya ada ayam jantan mempunyai taji, tetapi ayam betina tidak punya taji, tetapi ayam betina yang datang melawan dikenal dengan istilah diladiang.

Bukankah hal ini bermaksud bahwa perempuan adalah pisau atau parang, jika dia tidak bersuami maka dia tidak berulu, dengan demikian ulu adalah suami, mungkin ulu yang mengendalikan pisau, mungkin mengendalikan dalam pengertian memimpin. Kalau ulu tempat berpegang untuk parang, maka ia adalah pegangan hidup, yang pada mulanya adalah pandangan hidup, dan pada akhir pertahanan hidup (saya teringat ungkapan  seorang sahabat –Adi Rosal dosen STSI–)  hal ini bersifat ideologis kalau untuk matrilineal, tetapi kalau ulu diperuntukkan pada perempuan bagi patrilineal maka ia jelas bersifat erotis).

Agak sulit untuk diterima bahwa perempuan adalah ulu dan suami adalah parang dalam konteks cerpen ini. Jika suami adalah parang dan istri adalah ulu, maka bukankah akan berarti suami dibawa kendali istri atau dibawa pimpinan istri. Dalam hal ini bukan berarti tidak ada dalam realitas sosial bahwa suami dibawa kendali atau dibawa pimpinan istri, tetapi tidak konteks dengan teks cerpen.

Agaknya Nirwan melihatnya dalam kacamata patrilineal, pada pihak lain konteks cerpen adalah sosialbudaya matrilineal (baca; negeri perempuan). Agaknya ini yang membedakan budaya matrilineal dengan budaya patrilineal, perempuan tidak disimbolkan (baca; dipahami) sebagai bunga atau hal yang lembut tetapi sesuatu yang macho, kuat, dan garang, dan berkuasa; yakni parang, pisau, pedang (baca: ladiang). Tetapi di negeri patrilineal simbol itu adalah milik laki-laki, salah satu yang paling populer simbol Gun And Rose (nama sebuah grup band dunia dalam dekade terakhir ini), pistol atau senjata api simbol untuk laki-laki dan rose (mawar) untuk perempuan.

Perempuan Minang tidak simbolkan sebagai rose tetapi sebagai gun (senapan di tangan Sabai nan Alui), namun bukan berarti identik dengan dunia kekerasan (senjata), sebaliknya perempuan juga disimbolkan sebagai kupu-kupu (limpapeh rumah gadang). Adapun yang paling terkenal adalah; alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati. Lebih tepatnya; perempuan minang dalam rumah adalah kupu-kupu, tetapi di luar rumah adalah ladiang atau senapan. Adapun laki-laki Minang diposisikan oleh budayanya bukan sebagai senjata tetapi sebagai ulu, akan berhubungan dengan penghulu, mamak (baca: pemimpin).

Nirwan juga mengatakan bahwa “tanpa perlu menjadi simbolisme atau realisme”. Untuk pengertian sebagai paham atau aliran barangkali dapat dipertimbangkan namun parang tak berulu adalah dalam pengertian simbol dan kenyataan (realis) yang berhubungan dengan konteks cerpen (baca; seorang janda diibaratkan pisau atau parang tak berulu (2005:63). Bukankah janda disimbolkan (kesepakatan masyarakat suatu sosialbudaya) dalam cerpen ini sebagai parang tak berulu? Seandainya tidak perlu dilihat secara simbolik, bukahkah cerpen hanya berhenti pada situasi yang mati, yang tak mengandung makna. Sebaliknya cerpen berada pada wilayah indeksikalitas negeri matrilineal (baca: Minangkabau) yang menganut dan mementingkan paham simbolik dan metaforis.

Namun benar kata Nirwan bahwa parang menjadi pusat tersembunyi dari pengisahan, agaknya dapat dikuatkan bahwa ini tidak tersembunyi, tetapi hadir dipermukaan sebagai puncak gunung es yang menyembunyikan gunung. Adapun gunung es yang tersembunyi itu adalah kebudayaan Minangkabau, salah satu kebudayaan matrilineal terbesar di dunia. ***

Puruih Kabun 25032009;13.02,-

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu, 12 April 2009 – 16 Rabiul Akhir 1430, Halaman 11

*) Fadlillah Malin Sutan, peneliti dan dosen di Pusat Penelitian Sastra Indonesia Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s