EPISTEMOLOGI SASTRA AKHLAK HAMKA

(Mengenang 100 tahun Buya Hamka)

 Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo

Tanggal 17 Februari 2008, genap 100 tahun HAMKA, Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (1908-1981). Rasanya sosok ulama dan sastrawan muslim itu tidak meninggal. Begitulah orang besar, dia sudah menjadi teks, dia hidup dalam “pemikiran”, dan “hati” ummat. Luar biasa, buku-bukunya dibaca, diterbitkan ulang, bahkan dibajak di Singapore dan Malaysia.

Membaca Hamka pada hari ini adalah membaca teks yang hidup, sekarang sudah seratus tahun, teks yang beranak-pinak dan berbiak dalam pemikiran dan hati dari generasi ke generasi. Teks yang memberikan energi positif, dan merangkai dengan teks-teks lainnya. Sedangkan Hamka sebagai jasad, tubuh (salah satu estetika yang dipuja-puja sebagian manusia), sudah menjadi debu, agaknya. Apa yang “ada”, selama seratus tahun ini, itulah teks tafsir Al-Azhar, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal van der Wijck, dan buku tentang etika Islam dan tasawuf, termasuk Tasawuf Modern, Lembaga Budi, dan Falsafah Hidup.

Di dunia sastra, Hamka, barangkali ada yang mengatakannya sebagai sastrawan besar, dan ada yang mengatakan tidak, bahkan dia pernah dijuluki Buya Roman, Kiyai Cabul, menurut mereka  seorang Ulama tidak pantas menulis roman percintaan walaupun bernafaskan Islam. Namun bagi Hamka, sastra banyak pengaruh positifnya bagi ummat, tidak haram seorang Ulama menulis roman atau jadi seniman, atau sastrawan, asal beriman, sebagaimana kata surat Asy-Syu’araa’ ayat 227. Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali (Q.S:227).

Adapun yang mengatakan dia bukanlah sastrawan besar, salah satunya adalah Teeuw (1980:107), seorang strukturalis,  menvonis bahwa Hamka bukanlah sastrawan besar, walau dengan ukuran apa sekalipun; dari segi psikologi roman-romannya lemah, terlalu bersifat moralis. Namun tanggal 17 Februari 2008, genap 100 tahun, karya sastranya menembus zaman, selalu dicetak kembali dan diulang baca selama satu abad. Ini hanyalah fakta bahwa karya itu sendiri yang membuktikan bahwa ia sebagai teks memang tidak seperti yang divonis Teeuw.

Ada hal yang menarik dari ungkapan Teeuw, bahwa sastra jangan terlalu bersifat moralis, karena hal itu membuat sastra jadi lemah. Agaknya inilah yang membedakan estetika strukturalis (pasca H.B. Jassin, teori  dan paradigma ini begitu berkuasa di dunia akademi seni Indonesia) dengan estetika Islami dan dunia timur yang berdasarkan filosofi budi, akhlak. Estetika strukturalis otonom, maka jangan sekali-kali berbicara moral, budi, akhlak, nilai, ketika memberikan apresiasi, kritik sastra (seni) dalam khazhanah strukturalis otonom.

Adapun Hamka seorang Timur, Islam, dan dengan genealogis Minangkabaunya, maka paradigma estetika baginya tentulah: “nan kuriak kundi, nan merah sago, nan baik budi nan endah baso” (yang kurik kundi yang merah saga, yang baik budi yang indah bahasa). Menulis karya sastra bagi Hamka adalah Ibadah (ritual) sedangkan bagi Teeuw bukanlah ibadah (profan). Bagi Teeuw, moral (budi atau akhlak) adalah titik lemah dan sentimentil dari karya sastra, sedangkan dalam pandangan Hamka adalah titik kuat dan tinggi dalam karya sastra.

Jadi, hal ini hanyalah persoalan berbeda pandang, berbeda takaran, berbeda paradigma keilmuan. Hanya persoalan “lakum dienukum waliadien” dan “la ikraha fiediien” [Q.S:109:6,28:55 dan 2:256] (terj. bebas; mazhabmu untukmu mazhabku untukku, dan jangan memaksakan paham kita kepada orang lain).Yang akan membawa kita kembali kepada persoalan “dengan takaran apa kita mengukur besar atau kecilnya seorang sastrawan”.

Tetapi, seandainya Hamka memang kekuatan dan kebesaran karyanya pada kekuatan akhlak (moral atau budi), mengapa dia melakukan plagiat? Pertanyaan ini sudah lama dijawab HB. Jasin, dengan analisisnya dan beberapa pakar sastra yang lain bahwa Tenggelamnya Kapal van der Wijck bukanlah plagiat, Hamka  mendapat pengaruh dengan intertekstualitas demitefikasi. …
(- Tulisan ini pernah dimuat di Singgalang, Minggu 24-02-2008, Hal. 10. Jika anda ingin memiliki artikel ini silahkan tulis mail kepada sdr. Fadlillah Malin Sutan Kayo; e-mail: fadlilah@gmail.com)

2 Tanggapan

  1. artikel ini cukup baik.

  2. Wasalam
    Terhadap kepada Kekanda Apak Fadil Sutan Malin Kayo (nan didahulukan selangkah ditinggikan serantiang) hamba hendak mengucapkan selamat berjuang dalam ramadhan ini. Banyaklah salah dan dosa saya kepada Apak Padilah. Semogalah hendak diredha hendaknya. Salam juga kepada keluarga sekalian di Padang.

    Wasalam juga,
    Kepada Adinda Apak Labai Malin Riki Dhamparan Matahari Gading, wah lepas rindu dibuatnya, hei di mana sekarang, Yogya, Denpasar, atau Jakarta? tuh Ramadhan baru saja berlalu, masih tersisa wanginya, ya semoga kita mendapat berkahnya, sama2 kita bermaaf-maafan, lahir dan batin, semoga Bung semakin sukses, eh puasa kemaren aku dapatkan buku kumpulan puisi bung di tb angrek Padang (percakapan lilin -indra ke enam bung sudah sampai level ke tujuh ya, sehingga lilin bercakap dapat bung dengar dan bung jadikan puisi, saluuuut), buku itu tersuruk (mungkin ada kawan yang menyurukkannya), buku yang sudah lama aku cari, soalnya di gramedia cepat habis. Salam untuk kawan2 di Bali, teragak rasanya ke Denpasar itu lagi, berjalan ke pasar pada jam 12 malam….

Tinggalkan Balasan