Robohnya Kecerdasan Budaya Minangkabau

Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo

 Apakah kebudayaan Minangkabau sebuah kebudayaan yang cerdas? Kelaulah, kebudayaan Minangkabau merupakan sebuah kebudayaan yang cerdas, maka hal ini terbukti bahwa kebudayaan inilah yang melahirkan founding father Indonesia, tokoh itu tidak hanya satu tetapi banyak, banyak tokoh-tokoh dilahirkan dari kebudayaan Minangkabau pada masa lalu. Hal ini bukan mengapik daun kunyik  atau bukan maangkek-angkek talua, apalagi uju atau istilah helenisnya, narsis.

Namun sekarang bagaimana? Sekarang agaknya sudah roboh, tinggal hanya serpihan-serpihannya. Mengapa begitu? dikarenakan tidak lahir tokoh-tokoh dan kemudian unsur-unsur kebudayaan yang cerdas itu sudah tinggal kenangan. Unsur-unsur kebudayaan yang cerdas itu adalah (1) bekerja keras, (2) mencintai pekerjaan, (3) memberikan hasil kerja yang terbaik, (4) mempunyai perencanaan hidup jangka pendek dan panjang, (5) menghargai waktu, (6) mempunyai sikap hari ini jauh lebih baik dari hari kemaren, (7) berani menanggung risiko, (8) bertanggungjawab, (9) jujur dan punyai integritas, (10) berusaha keras untuk menabung & investasi, (11) hormat pada aturan & hukum masyarakat, (12) mempunyai sikap toleransi atau sikap tenggang rasa yang kuat, (13) ber-etika, moral atau akhlak sebagai prinsip dasar dalam kehidupan sehari-hari, (14) menghargai spritual dan mempunyai sikap spiritual.

Keempat belas unsur itu sekarang hanya ada dalam kaba (baca kaba Rancak di Labuah, kaba Si Buyuang Binguang sampai kepada Cindua Mato), mamangan adat, pada sosok ninik mamak yang  ideal (baca; Dt. Sunggono Dirajo, Idrus Dt. Rajo Hakimi, sampai kepada Alam Takambang Jadi Guru AA.Navis), sedangkan dalam realitas sudah berserak-serak dan berserpihan. Adapun,  generasi Minangkabau sejak hancur PRRI sudah menukar budayanya dengan budaya Jakarta, Jawa, dan Barat. Mereka menukar nama dengan nama-nama yang tidak pernah dikenal budaya Minang sebelumnya, kemudian mereka menukar Minangkabau dengan Padang, terkenal dengan istilah “rumah makan padang”, “asal dari padang”, “padang bengkok”, “orang padang”, kemudian sebagian besar generasi Minangkabau malu berbahasa Minangkabau (kecuali luhak Lima Puluh Kota), baik secara politik, ekonomis, idelogis bahkan sikap hidup. Dengan demikian perpindahan kata Minang menjadi kata Padang, mengandung peristiwa  sejarah kebudayaan yang dahsyat. Inilah yang menjadi ciri tanda terbesar kecerdasan budaya Minangkabau sudah berserpihan.

Pendidikan dan budaya yang berkembang di Minangkabau sebagaimana umumnya di Indonesia pada berbagai daerah, adalah budaya (a) sifat tak percaya pada diri, (b) sifat tak berdisiplin murni, (c) sifat tak bertanggungjawab, (d) dengan sistem budaya kebapakan yang menghegemoni; dengan karakter sikap pasif terhadap hidup, hidup ditakdirkan sukar diubah dibentuk oleh usaha dan karya manusia, (e) hidup pada hakekatnya sengsara, maka manusia harus menjalaninya dengan sabar, (f) konsep bahwa manusia berorientasi vertikal.

Sebagai salah satu contoh, bagaimana orang Minang mengadakan kenduri (perhelatan) di berbagai kota besar di Minangkabau pada hari ini. Mereka mengadakannya di tengah-tengah jalan raya, sehingga jalan umum itu macet, mereka tidak peduli dengan lingkungan, tidak ada raso jo pareso. Kemudian di setiap pelosok nagari di Minangkabau pada dekade ini, di hari Sabtu dan Minggu, mengadakan kenduri, dengan organ tunggal dengan tarian-tarian erotis, memang ada beberapa yang tidak mau berbudaya  seperti itu, tetapi selalu kalah dan selalu menerima stempel kuno.

 

(- Tulisan ini pernah dimuat di Singgalang, Selasa 15 Januari 2008, Hal. 1. Jika anda ingin memiliki artikel ini silahkan tulis mail kepada sdr. Fadlillah Malin Sutan Kayo; e-mail: fadlilah@gmail.com)

6 Tanggapan

  1. pak fad,
    tolong ubah alamat weblog ambo di direktori weblog apak, ambo ndak pakai http://www.temuiyerri.blog.com itu lai, kini nan ambo pakai http://www.jumpayerri.wordpress.com

    thank you very mach for apak attentions

  2. pusing belajar tentang kebudayaan

    Terima kasih kunjungannya, semoga nanti-natinya tidak pusing.
    Salam

  3. Hijau…ma agak PPP stek yo….

    Heheh ambo ndak urang partai do, ijau bukan berarti milik p3, p3 tu la kuno tuma heheheh. salam Trims Banyak.

  4. artikel nyo rancak bana

    http://sutanmudo.co.cc

  5. Baa lai ko Nco? Tingga ‘kabau’ nyo sae lai ndak?

    Ssssst Nco tadanga dek rektor Unand beko, tau Nco ndak, nan kuliah sore ka ka limau manih tu puluhan kabau, jawi, jo kambiang .. rami nyo naik kateh tu Nco…iiii antalah Nco,

  6. Ass.w.w.
    Banggalah kito ditakdirkan sabagai urang Minangkabau nan muslim. Budaya Minang alah melahirkan semangat juang melawan kaum penjajah, melawan Nika dan melawan kediktatoran.
    Nasib masyarakat atau bangsa samu jo roda, ado maso diateh dan ado maso dibawah, bersukur ba nasib bak nantun, dari pado manjadi masyarakat ba nasib katimun bungkuak, indak di etong urang.
    Di era reformasiko, urang Minang sadang dapek lawan barek, banyak “Tokoh” Minang nan manjadi urang Munafiq, mari samu2 kito lawan dan kito paliharo kaum kito. Insya Allah sasudah era ko, Minangkabau akan bangkik ka eteh

Tinggalkan Balasan