Akhir Tahun di Negeri Senja, pada Sastra

Memandang Barat pada Akhir tahun,
memperhatikan Timur di Awal tahun
karena Barat dan Timur ada dalam diri

Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo

Akhir tahun, seperti memandang sun set, yang sangat monumental, bagaimana matahari dipenghujung tahun akan terbenam. Tetapi awal tahun serentak memperhatikan ke timur, sun rise, matahari terbit, matahari pertama dari tahun matahari itu sendiri. Timur atau barat, bukankah matahari hanya satu, bumi kita juga satu, namun kita punya mata berbeda-beda.
Apalah arti memandang, namun dia vision de munde, akan jadi lain ketika yang dimaksud dengan visi. Adapun memperhatikan, bukanlah sekedar melihat begitu saja, adalah sebuah perhatian, akan lebih dipahami dengan mengkaji.
Tidak hanya sekedar, bagaimana matahari terbenam, atau matahari terbit, nampaknya. Apalah fenomena alam, sepanjang hari terbenam dan terbit, disetiap waktu. Tidak hanya pada efek fisika dan nature yang univer, atau sunnah tullah, tetai pada makna, arti, karena memandang adalah vision, sebuah desain, mind set, blue print, sebuah paradigma, yang pada level permukaan begitu mempesona.
Barangkali, kita mempunyai sisi barat dan sisi timur, rasanya tidak mungkin menyatakan hanya barat tanpa timur. Selalu diawal tahun, masih ada sedikit ruang yang tersisa untuk memperhatikan diri, menelaah dan mengoreksi ulang, sebuah ritual evaluasi tentang sejarah, masa lalu dan akan datang, personal ataupun kamunal.
Dalam kebudayaan, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan teknologi, kita selalu memandang kebarat, mengagumi barat. Tetapi ada yang terbalik, kita menjadi menyukai sun set, keindahan matahari terbenam, senja, senjakala, pada tataran mind set dunia makna kita tidak begitu menyukai sun rise, sementara orang di barat sudah sangat lama berbudaya menyukai sun rise. Matahari terbenam dan matahari terbit, memang indah, namun ia mempengaruhi pola, ia sudah berubah menjadi pola, suatu setting dalam pikiran dan laku budaya.
Matahari terbenam, bisa jadi akan terbentuk pola; sudah, pesimis, tidak mungkin berubah, hari akan gelap, sedangkan matahari terbit dapat terbentuk makna: akan, optimis, banyak hal yang akan mungkin dibuat, perlu perubahan, hari akan terang. Memang tidak mutlak dan bukan sebuah generalisir, namun sebuah hikmah, ada hal yang mungkin, bagaimana kita sering dibentuk dan dipengaruhi oleh alam, ketika kita tidak mampu menanggapi alam sebagaimana baiknya.
Kalaulah akhir tahun pada suatu senja, hanya sebuah pola, apalagi metafora, barangkali dapat mulai memahami novel Seno Gumira Adjidarma (2003). Novel yang pada mulanya cukup absurd, karena novel itu mengisahkan tentang waktu yang tidak bergerak di suatu negeri, yakni waktu senja. Di negeri itu, yang ada hanya senja saja sepanjang waktu. Indah tapi mengerikan.
Senja sebagai suatu pola, cara pandang, visi, metafor, maka pada sisi kebudayaan ia bisa saja berada involusi budaya. Pola involusi negeri senja, semua berada pada masa tua, dengan pola pikir bahwa masa depan akan gelap, tidak bisa berubah. Ini mengingatkan banyak orang pada sebuah iklan kreatif, “yang muda belum boleh bicara”, juga mengingatkan banyak orang tentang fenomena budaya tentang para calon presiden atau pemimpin suatu negara yang terdiri dari orang tua, manula. Semua bercerita tentang keindahan masa lalu, kerajaan-kerajaan yang jaya, para pahlawan yang heroik.

(- Tulisan ini pernah dimuat di Singgalang, Minggu 06 Januari 2008, Hal. 11. Jika anda ingin memiliki artikel ini silahkan tulis mail kepada sdr. Fadlillah Malin Sutan Kayo; e-mail: fadlilah@gmail.com)

Tinggalkan Balasan