Visi Ummat Islam sebuah Pertimbangan

Oleh Fadlillah Main Sutan Kayo

03-fadlillah.jpgKetika membicarakan visi ummat Islam, barangkali ada baiknya dimulai dari cerita bagaimana Harun Nusution (1986:1-2) memulai kajian tentang teologi (yang berpangkal dan memberikan arti) dari persoalan jalur dagang, tepatnya ekonomi, peradaban kota, kemudian baru kepada persoalan kekuasaan atau politik. Dari kajian Harun Nasution itu dapat dipahami bahwa persoalan ekonomi sebenarnya berinti pada persoalan aqidah, sebagaimana persoalan politik kekuasaan berinti pada persoalan tauhid, dengan kata lain peradaban kota digerakan oleh mindset atau blue print persoalan spiritual, dari kota kuno sampai kota posmodern.

Dengan demikian persoalan politik, persoalan kekuasaan memberikan arti yang intinya adalah persoalan tauhid. Agaknya mungkin dapat dipahami visi seorang Muhammad Rasululah Saw., visi-nya adalah visi tauhid, dan karena visi ini merubah manusia menjadi berakhlak mulia, visi yang merubah attitude manusia, merubah kekuasaan dan politik, merubah kekuatan perdagangan, merubah kebudayaan, merubah suatu peradaban kota. Karena tauhid merupakan sebuah disain, paradigma, mindset, blue print, yang menggoncangkan peradaban.

Muhammad Rasululah Saw., membangun peradaban kota dengan visi Asyhaduallah – illahailallah wa asyhaduanna – muhammadarusulullah. Agaknya dakwah selayaknya berada dalam disain strategi, begitu juga syariah, bukan visi, sedangkan akhlak adalah taktik, rahmatan lil alamin adalah misi. Bukankah yang berhak disebut dengan visi dalam berislam hanyalah tauhid, aqidah. Di samping itu, agaknya Islam itu terbuka enklusif, bukan sebuah agama yang misterius eksklusif, bukan mempunyai kehendak-kehendak rahasia, yang tersembunyi dan menjebak, Islam sportif, satria, yakni akhlak mulia. Jikapun dakwah sebagai strategi maka itu pun lebih banyak pada bil hal, kalaupun bil lisan maka strategi bil lisan-nya adalah dialog bukan monolog. Begitu juga syariah adalah strategi, bukan visi, apalagi misi. Sedangkan akhlak mulia taktik, taktik yang mendarah daging, prilaku.

Namun kalau visi ummat muslim jadi ummat tauhid, karena hal itu visi yang inti dari alam semesta ini, univer, Islami, tidak ada yang lain dari itu lagi. Tetapi apakah visi ini akan bertentangan dengan Pancasila? Jawabannya tidak, karena Pancasila itu tauhid (baca; sila pertama), jika tidak maka tentu agama Islam adalah agama yang sudah lama terlarang di Indonesia. Tidak diragukan lagi setiap orang, bangsa, suku, ummat, kamunitas di Indonesia adalah pancasilais, jika tidak maka hal itu akan bertentangan dengan negara dan bangsa Indonesia itu sendiri.

Tetapi mengapa ummat muslim tidak bervisi menjadi ummat tauhid? Apakah visi jadi ummat dakwah jauh lebih hebat dari tauhid. Apakah dakwah yang dibutuhkan sangat mendesak daripada tauhid? Di samping itu ada juga sebagian komunitas muslim membawa visi syariah, dengan demikian mengapa pula ummat muslim lebih mementingkan syariah daripada tauhid. Apakah syariah lebih dibutuhkan saat ini daripada tauhid (bukan berarti dakwah dan syariah tidak perlu). Apakah pengertian dakwah dan ummat itu. Dengan adanya ummat dakwah, maka apakah sudah merupakan kebutuhan ummat muslimkah? atau kebutuhan ummat? Kalau jadi “pelayan” apakah “pelayan melayani” kebutuhan dirinya atau Allah? Apakah benar kebutuhan Islam adalah dakwah? Bukan tauhid…

(- Tulisan ini pernah dimuat di Singgalang, Jum’at 16 November 2007, Hal. 22. Jika anda ingin memiliki artikel ini silahkan tulis mail kepada sdr. Fadlillah Malin Sutan Kayo; e-mail: fadlilah@gmail.com)

Satu Tanggapan

  1. “Apakah dakwah yang dibutuhkan sangat mendesak daripada tauhid?”

    Perlu kita ketahui bersama bahwa dakwah tidak bisa dipisahkan dari kalimat tauhid itu sendir, justru kalimat tauhid ataupun umat tauhid lahir dari adanya dakwah…

    Dakwah adalah ajakan, seruan menuju tauhid, tanpa dakwah maka tauhid hanya semboyan bahkan akan menjadi bagian dari sejarah dari suatu umat saja… Maka dakwah adalah kebutuhan, begitupun syari’at, ia adalah wujud akhir dari dakwah kepada tauhid yang lebih nyata!

    Allahu Akbar…!!! Hanya Allah yang lebih tahu.

    JHD

    Pak, saya baru saja membaca tulisan Bapak di Singgalang hari ini, mantap pak… Selamat berkarya untuk Islam.

Tinggalkan Balasan