Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo
Haji, bagaimanapun, sebuah fenomena yang menakjubkan. Diam-diam kaum sekuler memberikan decah kagum, malu-malu yang disembunyikan. Tidak ada satu pun kekuatan poltik, atau mazhab-mazhab pemikiran modern, seni, musik, ataupun olahraga, sedahsyat ini. Jutaan manusia dari berbagai sudut bumi berkumpul, pada satu waktu, satu tempat, dan satu tujuan, pada setiap tahun.
Sebuah pusaran dramatika klosal dari teaterikal tauhid raksasa, jika memandang dari dunia sastra. Dan pusaran teaterikal tauhid raksasa itu berpusat di setiap jantung manusia. Dia merupakan sastra dunia yang nyata dan empiris. Pada sisi lain, layaknya sebuah perenungan, banyak penulis muslim menulisnya.
Penulis muslim yang terkenal tentang haji adalah Ali Shariati (cet, 2000), bukunya berkali-kali dicetak ulang, bahkan, setiap orang akan pergi haji merasa tidak afdol kalau tidak membaca buku itu lebih dahulu. Gus tf Sakai pada tahun 2005, juga menulis tentang haji, pada novelnya Ular Keempat. Sebagaimana Hamka, dulu, pernah menulis tentang haji pada novelnya, Di Bawah Lindungan Kabah.
Namun mengapa Gus tf Sakai memberi judul Ular Keempat, mengapa tidak sesuatu yang lebih dekat dengan istilah yang ada dalam ibadah haji, karena ceritanya banyak menyangkut tentang perjalanan haji. Apa hubungannya ular dengan ibadah haji?
Ternyata hubungan tersebut suatu metafor dan simbolik. Metafor tentang binatang ular, yang jadi perumpamaan, jadi simbol dari setan dan nafsu manusia. Pada simbol tersebut diungkapkan tentang pertarungan manusia dengan dirinya sendiri. Haji menjadi salah satu simbol dari pergulatan manusia untuk menaklukan dirinya sendiri. Pertarungan manusia untuk memahami arti multikultural, pluralistik, bangsa, dan ego diri, bagi seorang muslim dalam vision tauhid.
Hal itu, akan bermakna bagaimana mentauhidkan multikultural, pluralistik, bangsa dan ego; dalam pandangan diri personal muslim. Secara politik kekuasaan, hal ini menuju kepada makna untuk mentauhidkan kekuasaan bangsa, dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang secara diam-diam melakukan tindak imperialisme terhadap ritual ibadah haji. Bisa jadi, bagaimana haji diperlakukan negara secara berjamaah sebagai ladang politik kekuasaan dan pemerasan umat beragama, siapa yang tahu. Tidak dapat tidak, adalah naif untuk membela diri, karena ini adalah pergulatan yang manusiawi, bagi iblis tidak ada tempat yang terlarang pada diri manusia untuk dirinya. Dia sudah mempunyai lesensi….
(- Tulisan ini pernah dimuat di Singgalang, Minggu 16 Desember 2007, Hal. 11, Jika anda ingin memiliki artikel ini silahkan tulis mail kepada sdr. Fadlillah Malin Sutan Kayo; e-mail: fadlilah@gmail.com)
DIarsipkan di bawah: Esai Sastra