Mengapa Kita Masih Miskin?

Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo

 

03-fadlillah.jpgTiap akhir tahun jutaan generasi menganggur dilahirkan. Tamatan SLTA dan yang diwisuda, semua sepertinya hanya dipersiapkan jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), buruh pemerintah, ambternar .

Sistem pendidikan masih memakai sistem pendidikan pemerintah Hindia Belanda, yakni sistem pendidikan untuk menghasilkan ambtenar , buruh, pegawai pemerintah, PNS.

Sistem itu sepertinya adalah sistem yang memang sudah direncanakan untuk melumpuhkan potensi manusia selain jadi buruh, yang seakan hanya dipersiapkan untuk diperintah, siap jadi budak. Sekarang setelah setengah abad lebih merdeka, masih memakai sistem itu, inilah yang paling aneh di negeri ini. …

(- Tulisan ini pernah dimuat di Singgalang, Rabu, 5 Desember 2007, Jika anda ingin memiliki artikel ini silahkan tulis mail kepada sdr. Fadlillah Malin Sutan Kayo; e-mail: fadlilah@gmail.com)

6 Tanggapan

  1. Wah bagus ya tulisannya……………………………….
    terus berkarya…

    jangan lupa berkunjung ke blog ku ya..

    wahyuni

    Ok terima kasih
    fadlillah

  2. oiiiii apa kabar ? wahyuni

    kabar baik
    fadlillah

  3. Numpang lewat. Cuma lihat-lihat. Cuma cuci mata… dan ternyata….

    salam

    - Terima kasih atas kunjungannya, alamat blogmu aku daftar juga ya?

  4. Dalam buku Rich Dad Poor Dad-nya Robert T. Kiyosaki mempersoalkan tentang pola pengajaran ayah kaya dan ayah miskin. Ayah miskin memberikan pengajaran kepada anaknya untuk sekolah, belajar yang rajin biar pintar dan masuk perguruan tinggi ternama, dan mendapatkan pekerjaan yang bagus (polisi, militer, PNS=suatu identitas yang dianggap prestisius), sedangkan ayah kaya hanya mengajarkan kepada anaknya untuk sekolah, belajar yang rajin, setelah itu bangunlah usahamu.
    nah, pola pengajaran kita selama ini tak ubahnya seperti ayah miskin. pendidikan yang tinggi adalah suatu modal penting dalam keberhasilan diri. semakin tinggi sekolahnya (memfokuskan pada suatu keahlian), semakin menyeretnya kepada suatu tanggungjawab diri dan menggiringnya masuk dalam sistem yang dibuat orang lain (mungkin orang yang tidak sekolah tinggi, katakanlah hanya tamat SD, SMP, SMA). sebagai contoh: seorang pemilik usaha butik ternama tidak perlu kuliah di akutansi dan manajemen, bahkan untuk mengetahui dasar hukum dalam pembangunan bisnis tidak juga mesti kuliah di hukum. mereka toh hanya butuh modal saja (soal modal, tentu ini persoalan keahlian dalam melihat peluang dan mindset untuk maju dan berkembang). kalau usaha itu sudah jalan, ya tinggal kita bayar saja para pakar2 itu. Bukan begitu, komandan? mereka kan memang butuh pekerjaan itu. gengsinya tinggi lagi. “kerja dimana?”; “di Kaltex”, “di Pertamina”, “Bank Mi’un”, blablabla….
    jadi, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mengelola usaha kita sendiri, mencari jalan untuk mengembangkan “finansial kita”, tidak perlu cape2 kerja tapi memiliki finansial yang lebih dari cukup. siapa yang tidak ingin kaya? memang, kaya materi saja tidak cukup, akan tetapi tidak enak juga kalo hanya kaya hati. sungguh enaknya kalo kita memiliki keduanya. mungkin kalau kita kaya nih, komandan, mungkin kita mempunyai mimpi yang sama: bangun sekolah gratis, bangun pantiasuhan, sumbang sana sumbang sini untuk kemanusian, kalo saya mengajak ortu jln2 ke luar negri, kalo komandan mungkin ngajak keluarga pergi naik haji. duh, enaknya.
    nah, pertanyaannya: Mengapa Kita Masih Miskin?
    hehehe…sori hanya nimbrung dikit, karna tak membaca tulisannya sampe selesai.

    salam hangat dari Jambi
    semoga sehat dan sukses selalu buat komandan

    Ricky Manik

  5. pinter….

  6. Miskin harta benda, miskin hati, miskin moral, miskin semuanya….. semua orang mengumpulkan semua yang bisa dikumpulkan setiap hari. untuk dirinya sendiri, untuk keluarganya sendiri. semua serba sendiri. pertemanan dan rekanan hanya fatamorgana.

    tidak ada jaringan (network) yang abadi. mungkinkah hubungan itu (hubungan antar orkay dg ormis, antar penulis dan penerbit. dst…) bisa diwujudkan dengan sistem multi level marketing? 081267441666

Tinggalkan Balasan