Fadlillah Malin Sutan Kayo's Weblog

TULISAN MINGGU INI

Artikel Sastra Budaya

DARI TRAGEDI CECAK DAN BUAYA DAN INGATAN KEPADA OEDIPUS

Oleh Fadlillah Malin Sutan

Berjalan ingatan rasanya kepada pementasan Oedipus pada tahun 2004, ketika mengamati bangsa ini. Mengapa sebuah Oedipus yang telah berumur sekitar 2.300 tahun dipentaskan oleh Noktah di hadapan publik di ibukota Sumatra Barat? Ada jarak tempat dan waktu yang begitu jauh, pertama Yunani, ia berada di belahan dunia yang ribuan kilometer dari pantai Padang. Kedua jarak waktu 2.300 tahun lebih. Apa hubunganya dengan kondisi hari ini, dan realitas di sini, dan masa depan? Apa yang mau dibicarakan dengan hubungan ini?

Mau tidak mau inilah salah satu pertanyaan penting yang pertama kali akan muncul dalam pikiran publik, hendaknya. Pertanyaan itu bukan untuk Noktah (Kelompok Studi Sastra dan Teater), yang sebelumnya sudah mementaskan 15 naskah teater sejak ia berdiri tahun 1993. Naskah lakon dari mitos itu pertama ditulis oleh Sophocles. Sebuah mitologi dari Yunani, kemudian juga pada tahun 1931 ditulis oleh Andre Gide, dan Noktah mengangkat ke pentas pertunjukan tanggal 28, 29 dan 30 Mei 2004 di Taman Budaya Sumatra Barat dari tulisan Andre Gide, yang diterjemahkan oleh Ali Audah.

Adapun pertanyaan itu dari publik dan ditujukan untuk publik itu sendiri. Mengapa begitu? Hal itu disebabkan, apabila Noktah yang menjawabnya dan menerang-nerangkannya kepada publik maka sebuah teater tidak perlu dipentaskan lagi. Untuk melakukan itu cukup diadakan suatu ceramah atau kuliah umum, dan hal itu tentulah tidak mencerdaskan, karena sudah menjadi semacam menggurui, dan itu bukanlah hakekat dari teater.

Kemudian ada apa dengan pertanyaan itu, dari tahun 2004 dan sekarang tahun 2009. Pada pertanyaan itu ada persoalan penting yang tersimpan. Adapun masalah waktu dan tempat tidak penting tanpaknya di sini, sepertinya ada persoalan yang begitu sangat dekat, yang menghubungkan Oedipus itu dengan realitas hari ini, yakni estetika dan masalah yang dikemukakannya.

Sebenarnya pementasan Oedipus untuk di Indonesia bukanlah hal yang baru, karena Rendra sejak tahun 1964 sudah tiga kali menonjok kebudayaan Indonesia dengan pertunjukan teaternya. Dari catatan in terasa bangsa ini sudah bebal, dan persoalannya hanya itu ke itu saja dari tahun ke tahun, persis seperti Oedipus membawa batu dari tahun ketahun sampai hari kiamat. Tetapi Indonesia sebagai suatu kebudayaan sepertinya sudah “membatu” Malin Kundang.

Sebanarnya orang lebih banyak melihat Oedipus dari paradigma Freud suatu kompleksitas inces (perkawinan seketurunan, ibu dengan anak atau saudara). Paradigma ini yang dianggap penting oleh sebagian orang, namun ada estetika lain yang mungkin jauh lebih kuat dan kontekstual. Estetika itu adalah bagaimana Oedipus mau mengakui, begitu jantan, menerima kesalahannya dan memberikan hukuman terhadap dirinya sendiri, di saat ia sangat berkuasa, di saat hukum ditangannya dan di saat dia jadi raja.

Ketika pementasan Oedipus tahun 1964 oleh Rendra, diungkapkan Goenawan Mohamad sebagai estetika eksistensialis, sedangkan pada pementasan Rendra 1987 pada bagian itu juga Goenawan Mohamad mengatakan sebagai jeritan keberanian di depan kemungkinan yang paling mengerikan.

Ini yang membedakannya dengan Sangkuriang, atau beberapa naskah yang lebih mementingkan paradigma kompleksitas inces. Estetika dari Oedipus itu memang suatu estetika yang dekat dengan realitas manusia di segala zaman dan tempat.

Inilah yang membuat Oedipus menjadi naskah teater yang menembus zaman dan dapat berbicara pada setiap generasi berbagai bangsa serta setiap tempat manusia. Estetika Oedipus adalah estetika yang memberikan katarsis (baca; pencerahan), sesuatu yang membuat orang meresa terlahirkan kembali. Sesuatu estetika katarsis yang paling sederhana dan paling kuat, jika tidak karena estetika itu, maka Oedipus tidak akan pernah dibicarakan lagi, dan tidak akan menembus zaman.

Daya cekam yang menghadirkan katarsis itu adalah ketika Oedipus menusuk matanya dengan jarum sebagai hukuman dan dia meninggalkan tahtah kerajaan, meninggalkan segala-galanya dengan jantan. Inilah tradisi satria, tradisi indahnya suatu kejantanan sosok manusia dan peradaban. Suatu keindahan yang tak lekang, kata Goenawan Mohamad. Saya ragu bangsa Indonesia mampu bertindak jantan ini, kecuali bangsa Minang.

Adakah watak tradisi itu di negeri yang bernama Indonesia, di Minangkabau? Mungkin di Minangkabau hal itu yang disebut dengan “Tibo di mato indak dipiciangkankan, tibo di paruik indak dikampihkan”, atau “tibo di mato buto dan tibo di ati mati” (Tiba di mata tidak dipejamkan, tiba di perut tidak dikempiskan dan tiba di mata buta, tiba di hati mati).

Korea Selatan, Jepang, mempunyai tradisi ini, Jepang mengenalnya dengan tradisi harakiri. Eropa dan Amerika tidak mengenalnya, kecuali Yunani. Tetapi bagaimana dengan di Minangkabau hari ini? Di Minangkabau ada dua jenis manusia, pertama disebut Minang dan kedua disebut Kerbau, dengan pepatah “manusia tahan kieh (kias, majas, kata), binatang tahan palu”.

Orang Minang akan akrab dengan kata-kata “lai urang inyo” (Apakah dia manusia yang berwatak manusia?), karena banyak ditemukan orang Minangkabau yang tidak “urang”, inilah yang disebut Kerbau (manusia yang berwatak binatang). Di Minangkabau akan ditemukan kata-kata yang diucapkan setiap orang secara umum, yakni “alah manjadi urang anaknyo” (anaknya sudah menjadi manusia yang berwatak manusia). Sosok Oedipus itu hadir pada jenis manusia yang disebut orang Minang, karena yang disebut orang Minang itu adalah manusia yang berwatak “Tibo di mato indak dipiciangkankan, tibo di paruik indak dikampihkan”, “tibo di mato buto dan tibo di ati mati”.

Apakah Sumatra Barat sekarang dipimpin oleh manusia Minang atau manusia Kerbau? Apakah Indonesia akan dipimpin oleh manusia yang berwatak manusia atau oleh manusia yang berwatak binatang (seperti istilah kebun binatang; cecak dan buaya; siapa rajanya). Pertanyaan itu hanyalah publik yang menjawab sendiri.

Bagi orang Minang tidak ada manusia yang tidak bersalah begitu juga Oedipus, tetapi manusia baru menjadi manusia ketika ia jujur dengan dirinya dan orang banyak dan mau menghukum dirinya sendiri. Untuk hal ini kita harus membaca Panca Tantra atau Kalilah wa Dimnah.

Adalah berat, sangat berat, untuk mengakui kesalahan sendiri dan menghukum diri sendiri di depan orang banyak. Mungkinkah seorang ketua, seorang Bapak, Ibu, guru, dosen, penyair, seniman, anggota dan ketua DPRD, Gubernur, Walikota, Bupati, Pejabat Militer, Ketua KPK, Kapolri, Kejagung, MA, Bareskrim, Presiden mau mengakui dirinya koruptor dan menghukum dirinya di depan publik.

Wahai.. tentu mustahil rasanya, itulah yang dilakukan oleh Oedipus. Inilah Manusia. Jika pengakuan dikamar tertutup dan tidak seorang pun yang tahu, maka tentu saja setiap orang dapat melakukannya, dan hal itu tidak berguna bagi publik. Apakah perbuatan Oedipus itu adalah mempermalu diri sendiri? Bukanlah di sana letaknya; mempermalu diri sendiri, tetapi sebaliknya penghormatan dirinya kepada diri sendiri, karena pernyataan itu berada pada publik dan menghukum diri sendiri di depan publik adalah karakter moral yang bertanggung jawab.

Indonesia merupakan negara terkorup nomor lima besar, akan tetapi tidak seorang pun berani mengakuinya, adalah hal yang aneh. Pengucuran dana triliun-triliunan, perusakan hutan di mana-mana, pengurasan alam, pembantaian manusia, penindasan terhadap kepentingan rakyat di mana saja, tetapi tidak seorang pun berani mengakui dan menghukum dirinya. Tragiknya hukum juga sudah hancur. Hukuman seorang koruptor raksasa sama dengan hukuman seorang maling ayam (kalimat ini sekarang terasa sudah basi, sekali lagi basi). Pada saat kebudayaan berada dalam keadaan terpuruk di lembah kekuasaan yang membusuk, dan pada saat yang sama generasi bunga mewangi (dan kecanduan dunia gelamoran), hadir di mana-mana dengan memuakan.

Barangkali kita perlu mengajak kembali untuk membongkar wacana (konsepsi) akar kekuasaan, hukum, keadilan dan kemanusiaan. Kekuasaan yang pada akhirnya diketahui ternyata umurnya sudah tua dan purba dari manusia zaman ini, yang mereka agung-agungkan dengan kata modern, tetapi kelakuan manusia dengan kekuasaan itu tetap purba dan primitif.

Dengan demikian ingatan pada Oedipus adalah suatu satir yang kontekstual pada manusia Indonesia yang bebal dan realitas Sumatra Barat. Adapun orang-orang Minang agaknya akan cepat mengerti dengan lakon yang didialogkan dengan kenyataan hari ini. ***

Puruih Kabun 02062004-14112009:16;17-

*) Fadlillah Malin Sutan, dari Kampuang Batima nagari Soengai Jamboe, dosen dan peneliti di Pusat Penelitian Sastra Indonesia Jur. Sastra Indonesia, Unand, Padang.

& Komentar »

  1. Hi, Pak Fadlillah.
    How are you today?
    Nice to see your photo again
    Bantuak koboi.
    Tu sia di balakang foto apak tu?

    Diskusi apo awak kini nan lamak ko?

    Pak fad, carian ambo nomor HP Hendra Efison ciek. Kawan ambo wartawan Padang Ekspress.

    Mokasi
    Salam Salamaik Tahun Baru.
    Salam ka Uni tu ciek.

    Wah terimo kasih atas kunjungannya.

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Januari 4, 2008 @ 1:12 am

  2. Renungan Tahun Mancik

    Mancik dalam belek
    Makin sarik, makin diliek

    Mancik di ateh pagu
    Makin takapik, makin maju

    Mancik di ateh talam
    Pitih sarik, ameh badaram

    Bantuak ikua mancik
    Makin sarik, makin dipacik

    Karajo mancik
    Manciri ilik-ilik

    Bantuak mancik
    Ikua ketek, gigi takapik

    Parangai mancik
    Mancogok di tampek nan sarik-sarik

    Nan samo jo mancik
    Urang pilik

    Main mancik-mancik
    Mandok dulu, baru mancicik

    Film mancik-mancik
    Tom and Jerry

    Salam
    Elasmendri

    Tarimo kasih banyak!

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Januari 8, 2008 @ 1:32 am

  3. assalamualaikum pak….
    yo gagah apak kironyo… yo.

    salamaik berjuang yo pak
    kerikil-kerikil tajam tu pasti ado
    baa tu pak….

    firmansyah sasindo 07

    Komentar oleh firmansyah — Januari 9, 2008 @ 1:28 pm

  4. pak, baa kaba kini?sehat kan pak…amiennnnnnnnnn
    pak, cigok2lah adiak apak di internet.hehheheheheh

    Komentar oleh sonezza — Januari 15, 2008 @ 4:19 am

  5. komandan..baa kok payah bana submit comment ka blog jurusan tu?alah ilang jari ambo ciek, tp indak juo takirim2 doh. tlg cari tau ciek yo komandan..tks
    salam taragak jo komandan

    Ok, ambo cibo dulu yo, salam.

    Komentar oleh kinoi — Januari 25, 2008 @ 1:49 am

  6. Intel Melayu ma….

    Komentar oleh Maknaih — Januari 31, 2008 @ 5:16 pm

  7. Pak Fad, lamo awakko mancari tulisan2 Pak Fad. Ndak sangajo batamu blog ko. Wah, makin sukses sajo. Selamat.
    O iyo, lah lamo awak ndak manulis. Pas ado lomba cerpen nan diadokan Diknas-majalah Horison akhir 2007, awakko ikuik. Alhamdulillah, dapek 4 jt, juaro 3. Jadi pengen nulis yg banyak.
    Cerpennya Kidung Sunyi Seorang Guru ado di blog awak http://masterzulmasri.blog.com
    Insya Allah cerpen2 lain nyusul.
    Ok, salam kreatif plus salam buat dosen2 Sasindo Unand: bu Yet, p.Yusuf, ni Zur, dll.
    Salam…

    Wah terima kasih banyak, salam. Kirimlah tulisan ka Padang, buliah kami mambaco pulo di siko.

    Komentar oleh Zulmasri — Februari 3, 2008 @ 12:00 pm

  8. P.Fad, kok nggak ada lagi catatan/indeks tulisan sastra yg di koran padang di blog ini? Sy tunggu-tunggu lho.
    O iya, sesekali jalan-jalan ke http://zulmasri.wordpress.com ya…

    Amantu, ko ambo muek kini ko, patangko dek sibuk maurus perkuliahan, wah bagus blog wordpress-nya, mantap. Kirim-lah tulisan ke koran Padang biar rame, alamat mailnya ada di blog sastraindonesiaunand.wordpress.com. Salam angek.

    Komentar oleh zulmasri — Februari 18, 2008 @ 11:14 am

  9. Pengen nulis di padang, namun blm sempat, insya Allah nanti. Trims info emailnyo. P.Fad ikut ngelola blog sasindo ya?

    Ya, diskusi-diskusi dengan kawan-kawan tu, ya semoga lebih baik ya.

    Komentar oleh Zulmasri — Februari 22, 2008 @ 2:17 pm

  10. Ass p’fad………………
    apo kaba………? masih inge ndak jo awak ko ?

    Wlkm, Wah lai… kaba baik, di ma kini? semoga sehat dan sukses selalu, trims kunjungannya.

    Komentar oleh Rita Yulmiati — Maret 5, 2008 @ 4:24 am

  11. assalamualaikum Wr. Wb

    pak, dima ambo bisa dapek buku “TUGAS SASTRWAN ISLAM SEBAGAI KHALIFAH ALLAH” PENULISNYO BUYA HASJMY.

    ILHAM YUSARDI

    Wah, ambo pernah melihatnya di toko buku, tapi ndak sempat mambalinyo, karano wakatu ndak bapiti, cibo cari di pustaka Prov. Sumbar atau pustaka Balai Bahasa, atau pasa loak siapo tahu terselip… e datangla main ka kampus tampek ambo. Salam

    Komentar oleh ilbinbulkaya — Maret 6, 2008 @ 9:25 pm

  12. Lah batamu Fadlillah jo Zulmasri….sarat ‘rain maker’ di Bali….
    gara-gara teknologi internet
    Tingga ambo macigok2 dari baliak pintu…
    Leiden…manjalang musim bungo..

    Musim bungo Tulip tuma Nco, ….tulisan si Koko di kompas patang Nco, baleh ciek Nco.

    Komentar oleh Suryadi — Maret 9, 2008 @ 1:41 pm

  13. Salam kenal, saya Jati dari Purwokerto. Saya sedang membuat buletin sastra, namanya kakawin. karena masih baru jadi belum banyak pembaca yang mengirim karya ke saya, sedang sudah ada indikasi mereka mulai ingin membaca karya selain punya saya, karen aitulah maka saya ingin meminta ijin untuk memuat karya anda di buletin saya.. Buletin ini saya rintis sendiri dengan biaya sendiri jadi maaf tidak ada honor selain memberikan buletin gratis. terima kasih, saya tunggu jawabannya.

    Wah silahkan, saya gembira asal disebutkan sumbernya. Oke. Salam berkarya.

    Komentar oleh Dwiana Jati Setiaji — Maret 10, 2008 @ 5:52 am

  14. komandan.masuak an lah blog ambo ka blog sahabat komandan ciek. mksh bnyk komandan hehehe

    Aman, salam angek.

    Komentar oleh kinoi — Maret 10, 2008 @ 6:08 am

  15. komandan,ambo tny ciek.apo referensi yg bs ambo lacak ttg inventarisasi sastra modern indonesia?ambo sdg paniang kini ko.tlg ciek komandan.klo ado versi phd rancak bana komandan.tp klo ndak ado,mnt tlg komandan jalehan ka ambo apo kiro2 hal2 yg paralu diinventarisasi:apokah bukunyo,pengarangnyo,genrenyo,atau apo.sblmnyo trmksh komandan banyak2 ko ha.ndak stek ‘alah juo do ha…
    jaya komandan

    salam taragak bana

    Komentar oleh kinoi — Maret 14, 2008 @ 1:08 am

  16. Onde… ajo Suryadi di Balando. Yo lah lupo jo pinukuik samo akik maco. Pulang oi, baok noni Balando tuh kamari.

    Komentar oleh Zulmasri — Maret 16, 2008 @ 10:18 am

  17. Dima Zulmasri kini ko? Di Batavia atau di Cotta Concordia? Lah bara urang anak? Lah bara urang pulo ‘rang rumah? Kok taragak noni Balando, ambo kirimkan gak tigo. Lah cukuik tu? Tapi lai tagadapang dek Zulmasri? kasa-kasa co bada mudiak..he he…

    Komentar oleh Suryadi — Maret 21, 2008 @ 4:06 pm

  18. Nco, alah tarimohonor Kompas kapatang? Makan gulai kambiang awak lai di Pasa Baru. Di ambo galang2nyo samo sayua pucuak parancih jadi juo…he he.

    Komentar oleh Suryadi — Maret 21, 2008 @ 4:07 pm

  19. komandan.tlg krimkan namo2 sastrawan di pdg yg bs jadi juri baco puisi. kecuali agus yo komandan?salam angek.mksh komandan

    Komentar oleh kinoi — Maret 25, 2008 @ 4:41 am

  20. Awakko ado di Pasisia Utara Pulau Jawa da Sur. Pasnyo di Pekalongan. Salah satu sentra batik Indonesia, yang kini juga telah diklaim Malaysia sebagai produk mereka.

    Awak salut jo Uda Sur. Tulisan uda Naldi dulu di Kompas sesuatu nan luar biaso. Indak kunjuang diangkek di Unand jo UI, malah sukses di Balando. Salut

    Kini awak indak tertarik samo noni Balando. Cukuik urang rumah dari nagari awak sajo. Doakan sajo, indak lamo lai awak dapek momongan. Nanti dikabari.

    Ba a, lai acok pulang ka Piaman da Sur? Ingek Kata jo Sunua mananti.

    Untuak Pak Fad, tarimo kasih numpang manulih di Ruang Komentar ko.

    Komentar oleh smp2talun — Maret 28, 2008 @ 2:31 am

  21. hahaha
    akhir e basobok juo Pak Padil di awak. alah ambo link kan ka blog ambo. link kan pula blog awak pak yo…

    si labaimalain

    Tarimo salam pado Tuangku Silabaimalin, salam kreatif, kirim jua lai agak ciek buku kumpulan puisi tu ka kami, nak diditeliti de anak sastra ka jadi skripsi, ba kiro-kiro tu Tuangku?

    Komentar oleh riki dhamparan — Maret 28, 2008 @ 9:11 am

  22. Zulmasri,
    Baa pakaian Zulmasri bantuak pakaian Muammar Khdafi tampak dek ambo? Agiah lah ambo alamaik rumah jo nomor HP Zulmasri tu. Urah rumah urang Jawa atau urang Minang? Kalau tapasek ambo ka Pekalongan, mbocari Zulmasri beko.

    Komentar oleh Suryadi — Maret 30, 2008 @ 2:23 pm

  23. Pakaian? He he
    Alamat gubuk samantaro di Perum Pisma Blok M No.2 (masih nomaden). HP: 085642638639

    Komentar oleh Zulmasri — Maret 30, 2008 @ 3:13 pm

  24. ha.. rami rumah Pak Fadlillah mah.. basobok jo banyak kawan di siko.. taragak awak dek nyo.. hehehehe salam dari Batam…

    Salam angek, iyo sanang maliek blog kawan dari Batam, lapeh taragak dibueknyo

    Komentar oleh mairi nandarson — April 1, 2008 @ 12:02 pm

  25. Pak Surya, bensin abih di bali. Kirim lah dari bulando seneak.
    Pak fadh, manga kini tu.

    Salam angek, ba-a kaba di Bali, ba ka baa di bali minyak dibali hehehe, jo sumbayang-sumbayang dibali, samo jo sate kawan atau ato kawan, eh ka Payakumbuah ado ato bamerek ayah, oto ayah tapi mambayia juo hehehe

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — April 4, 2008 @ 2:45 am

  26. Tarimo kasih ateh info alamaik hotel Zulmasri. ‘Rain maker’, baa kok lucut bensin di Bali? Minum bensin urang di sinan? Mairi Nandarson, baa kok Mairi tunjuak taruih awak?
    Nco…salang ambo topi Konco tu gak sahari…ambo ka pai baburu kondiak…

    Komentar oleh Suryadi — April 4, 2008 @ 1:11 pm

  27. Bertubi2 ’searangan’ Katrin Bandel ka SAMAN jo AYU UTAMI. Kanai lendo pulo GOENAWAN MOHAMAD. Artikel2 Katrin lengkap di weblog R. Dhamparan. Tanggapilah dek pendekar2 kiritik sastra–Sudarmoko, Fadhlillah, dll.

    a mulai la, buka langkah dari Balando tu Tuangku, nak kami ikutipulo dari siko, langka tigo atau langka ampek kini ko? Silek Piaman atau silek Pauh ko? kami bacoan ayaik-ayaik cinta dari siko

    Komentar oleh Suryadi — April 6, 2008 @ 6:13 am

  28. pak fadh…
    salam, pak
    berkunjunglah ke blog kami..

    http://www.rumahteduh.wordpress.com

    Insya Allah, aponilo ari hujan ambo akan bataduah dulu, yo padek yo, salam kreatif

    Komentar oleh rumahteduh — April 7, 2008 @ 8:23 pm

  29. assalamualaikum, pak.

    Walaikumsalam Buya, rahmat Tuhan beserta berkahnya sekalian alam, amin

    Komentar oleh nurul fahmy — April 8, 2008 @ 4:48 pm

  30. komentar ambo dak apak tampilkan?

    salam hangat

    nurul fahmy

    Lai Buya, aman tu, blog Buya oke juga ya, eh Buya, dulu cd ensiklopedi ecarta Buya ado di Ambo, ba-a tu, Buya la pai se, untuak ambo se la cd tu yo.Salam angek. Manulih la di Padang nanti liek di blog ambo apo lai dimuet di koran Padang tu, oke?

    Komentar oleh nurul fahmy — April 8, 2008 @ 5:19 pm

  31. salam bang suryadi.. tunjuak2 tu barek ka awak mah, ka urang ciek nyo.. ka awak ampek hehehehe baa kaba? lamak lo di blog pak fadh ko.. bantuak lapau lo.. takan katiko awak main2 ka Limau Manih, ado lapau di ateh bukik ketek di muko kampus tu.. nan kurang ciek nyo.. minum, kok bagalak-galaknyo lai.. rami malah hehehe salam kasadonyo dari Batam..

    Komentar oleh mairi nandarson — April 14, 2008 @ 10:56 am

  32. Pak, kok lai barakaik doa Apak ambo isuak jadi dosen, ambo batarimo kasih bana ka Apak, tapi alun kini lai Pak, Hiks !!! ambo alun S2 lai, santa lai, kuliah ambo dulu sakali lai. hehehehe.

    Sagan ambo kaurang sabalik, kok link blog ambo dilatakan di kategori dosen…

    salam

    Komentar oleh nurulfahmy — April 15, 2008 @ 4:10 pm

  33. Untuak Zulmasri: Salam batamu baliak. Foto e gagah bana. Lai ingek jo samo ambo lai

    Untuak Pak Surya: Kalau ado nan maajak makan gulai kambiang ajak ambo ciek. Tapi gajeboh nan lamak

    Untuak Pak Fadh: Pak kok pulang ka Batu Sangka, lalu ka Padang Panjang, Balian ambo gajeboh ciek.

    Untuak kawan-kawan nan ado di blog ko, agiah komentar ka puisi ko ciek.

    Gajeboh

    Di malam perkawinan antara kabut dan perantaranya
    Dimanakah kau simpan titik api
    Yang hauskan semua pengembara
    Dan rindukan semua hujan yang turun
    Dari matahari yang semakin mengering
    Di depan rumah ibu kita

    (Da Zulmasri, Pak Surya, Pak Fadh, komentar lo sengenek yo)

    Salam dari ambo dari Pulau kenek.

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — April 18, 2008 @ 4:14 am

  34. Elasmendri rang piaman, kini di bali yo? ba a kabanyo? kato ajo suryadi, rang bali lah minum bensin? hah?

    indak lupo samo elasmendri. o iyo, bundel majalah horison nan elasmendri pinjam masih disimpan ndak?

    Pak Fad, mo kasih numpang nulis di ruang ko

    Komentar oleh Zulmasri — April 18, 2008 @ 10:17 pm

  35. Iyo santiang pulo ‘Rain maker’ Elasmendri mambuek puisi. Aluih katamnyo. Susah ambo maurai kode2nyo. Mbo cari jo knci Inggirih indak cocok. Jo kaktuo indak juo cocok. Mbo bae bamanuang di kebun tulip di Keukenhoof dulu……
    Kok Zulamsri alah bakilek pulo kaniang nampak di ambo. Sabanta lai ka jadi professor, ndak?

    Komentar oleh Suryadi — April 19, 2008 @ 5:04 am

  36. sia tuh zulamsri, jo?

    puisi elasmendri, awak satuju samo ajo suryadi. awakko ndak tahu hubungan gajebo samo malam perkawinan. rasonyo atau apo. tanyo ka pak fad sajo. ba a pak fad?

    Komentar oleh Zulmasri — April 21, 2008 @ 12:18 pm

  37. Da Zulmasri, Maaf pertamo ambo aturkan ko a. Masalah bundel horizon tu antah dima latak e a
    Kayaknyo di Piaman. karena wakatu ambo barangkek dari rumah ka pulau tampek ambo tadampa kini ambo tinggaan buku ambo saparo di rumah di pariaman. Antah sia nan mamindahan buku ambo tun ndak basoboak, tamasuak mungkin horison tun. Ambo balian jo horison baru yo.

    Kaduo, kayaknyo filsafat adalah pendalaman, filsafat adalah pendalaman dengan beribu pertanyaan, mungkin Pak Surya Jo Da zul bisa komen dengan puisi tu lewat pendalaman dan pertanyaan. Tapi kalau lah dalam bana, beko tabanek lo beko. Pabia an jo lah. Maota Nan Lain Jo lah awak.

    Ado usul ciek koa, maota awak tentang satu topik, awak kambangan ota tun, awak kompilasi komentar nan ada, awak jadian satu artikel keroyokan dari ota awak ko, awak tulis, awak kirin kama nan bisa dimuek, atau awak buek buku kenek-kenek tentang ota ko baa nyoah, lai satuju kasadonyo tua. Awak tantuan sia nan jadi editor ota ko beko.

    Ambo mulai lah jo pertanyaan ciek lu: Kalau seni ko dibaok bajalan-jalan apo nan tajadi?

    (mintak komentar urang lapau kasadonyo tu a.

    Pak Surya, lompek an baruak tun sangeneak, lah mancaguik karambia mudo di ateh, Pak.

    Pak Fadh, pirik usuak e tu sangeneak.

    Da Zul, iyo gagah taruih foto e rang.

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — April 25, 2008 @ 1:42 am

  38. Pak Fadlillah, kama nan mancogoak ko baa ko, kama, Pak.

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — April 25, 2008 @ 3:23 am

  39. Pak Fadlillah, ko, tamu e banyak. Tapi urang e ndak mancogoak, doah. Ka balaguan cogoak-mancogoak, tun.

    Pak Surya, laguan an lah cogoak-mancogoak tun a, ndak kalua mancogoak Pak Fadlillah tun.

    Da Zulmasri, bagitar lah sangeneak.

    Wah sori berat, koma, power suplai komputer tu malatuih patangko, rusak, ba-a ka mancogok, kini, ala agak elok. Iyo minta maaf bana ko, salam angek untuak sanak kasadonyo.

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — April 25, 2008 @ 3:26 am

  40. Elasmendri yg baek.
    Kok ndak ditulis sajo pikiran Elas itu di blog punyo Elas. Bia nanti diskusi tambah lamak. Indak lamak pakai ladang Pak Fad taruih. Ditunggu

    Komentar oleh Zulmasri — April 25, 2008 @ 11:21 am

  41. 1. Pak Fad apo sadang tajadi di Padang? Awak baco di blog Sasindo yo bakacamuak nampaknyo masalah patamuan penyair. Ado apo sabananyo?
    2. Awak penasaran jo anak-anak di Rumah Teduh. Siapo mereka tu?

    Para penyair bertemu di di Payakumbuh, di motori oleh Iyut Fitra dan Sudarmoko (Sasindo 95), sekarang generasi baru cukup bergairah, kita berharap pertemuan tu sukses.

    Ada beberapa komunitas cukup bergairah sekarang, mereka generasi baru, seperti komunitas Daun, Ilalang Senja, Hijau Muda, Kandang Pedati, dan Rumah Teduh. Beberapa dari Mahasiswa FSUA juga. Rumah Teduh ada blognya http://rumahteduh.wordpress.com/.

    Komentar oleh Zulmasri — April 25, 2008 @ 11:29 am

  42. Elas,
    Kalau seni dibao bajalan-jalan, mako seni tu akan ‘lapuak’ di jalan. Ambo liek jarang nagari asiang nan mambao duta seni nyo ka lua nagari. Mereka batindak sabaliaknyo: manyuruah urang asiang maliek seninyo ka nugarinyo sendiri. Jadi, soal seni nan dibaok bajalan2 ko sabananyo kito taparangkap dek mode nan dikembangkan kolonialisme zaman saisuak: ingeklah pameran Hindia Belanda di Amsterdam babarapo kali. Nyo pajang awak di situ, nyo caliak2.

    Komentar oleh Suryadi — April 26, 2008 @ 7:09 am

  43. Baa acok bana Limau Manih tu ditembak patuih, Fadh?

    Semoga, indak saroman istana Pagaruyuang pulo, kalau jadi Sutan Bagagarsyah jadi pahlawan bersertifikat, sia nan ka ditembak patuih Nco? Kabanyo Konco dicari-cari dubalang Pagaruyuang, dek tulisan Konco di Padeks tu! Jan Pulang dulu Nco.

    Komentar oleh Suryadi — April 26, 2008 @ 7:10 am

  44. nampak dek ambo, iyo lah kayo sutan. Siko sawah siko sawah sawahheeee kasasoalahe… Iyo alah kayobana sutan. Ko sasuai jo lagu ebiet. “aku pernah punya cita-cita, jadi petani kecil, di belakang rumah kupelihara berbagai tanaman…..lanjutkanlah sutan.

    Cimees dari Malaysia, semoga jadi Doa, amin, Apo kaba di malay sekarang tu? Kirimlah tulisan ka Kompas, nak kami baco.

    Komentar oleh wannofri — April 27, 2008 @ 7:37 am

  45. Hi, Da Zul : Thanks. Ladang di kebun tetangga, lebih baik dari ladang di kebun sendiri. (bagarah jo nyoh, koa, hihihi)

    Baa pandapek Pak Surya tu a?

    Salam dari Bali.

    Apo nan lamak di Pekalongan, tu Da Zul. Numpang makan ciek sinan.

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — April 28, 2008 @ 4:58 am

  46. Urang marayakan hari wapaik Khairil Anwar di Taeh, nan Wannofri manyingkia waknyo ka Bangi Selangor Darul Ehsan. Baa tu Nco? Zulmasri, baokan kain batiak Pakalongan nan gak aluih tu ciek. ‘Rain maker’ Elasmendri, lah pandai mambaco naskah lontar di Gedung Kirtya tu? Lah pandai paggia “Oooommmmmm….oommmmm shanti..shanti…oooommmm!” Nco, kok yo berang Dubalang Pagaruyuang dek tulisan ambo di Padang Ekspres tu, iyo lah ka jadi ‘exile’ pulo ambo ko di nagari urang, padohal ambo ndak tahan kalau sakali sataun indak makan kuah sate Piaman. Sansai wak ambo.

    Komentar oleh Suryadi — April 28, 2008 @ 9:40 pm

  47. Elas, kalau makanan yo kalah jauh rasonyo dibandiang jo nasi kapau atau simpang raya.
    Andalannyo batiak, banyak di siko, baserak-serak. Ajo kalau kamari bisa cari nan paliang aluih bahannyo (sampai ndak taliek) di grosir setono, gamer, pasa santiling, dll. Malampuah, murah-murah hargonyo. Ajo pengen hargo 500 rb atau sajuta, ado barangnyo.
    O iyo, cari batiak nan bahannyo aluih untuak apo Jo? Untuak muandok? Kato Pak Fad, ajo dicari-cari urang yo

    Komentar oleh Zulmasri — April 29, 2008 @ 5:06 pm

  48. Awak satuju jo pandapek ajo tantang seni nan bajalan tu. Alun lamo tabatiak kaba: urang awak (Indonesia) jadi duta seni ka lua nagari. Nyatonyo di lua nagari mereka tu dijadikan pambantu, tukang cuci, bahkan ado nan jadi palacua. Menyedihkan.

    Komentar oleh Zulmasri — April 29, 2008 @ 5:18 pm

  49. Zulmasri, ambo mancari batiak Pakalongan nan aluih-aluih gunonyo untuak manapih santan……(ups???). Konco Fadlillah, baa mako Fauzi Bahar suko bana mandoa basamo kini? Nyo kumpuakan urang di tongah lopang–mulai dari anak sakola sampai ka nan gaek agogo–sudah tu nyo suruah ratik tagak jo mandoa basamo. Asmaul Husna lah namonyo…tabligh akbar lah…Fenomena apo pulo ko Nco? Kok di surau saisuak ambolai dapek nasi bungkuih (namonyo nasik samek,dek basamek jo lidih) kalau urang mandoa basamo. Ko, lai diagiah dek Fauzi Bahar urang2 tu nasi samek sasudah disuruah bapaneh2 mandoa basamo? Ka jadi labai ko Fauzi Bahar sasudah baranti isuak jadi Walikota Padang?

    Nan Kodo Baha Nco? Nampaknyo iyo ndak Nco, paniang awak macaliak e, Nan Kodo Baha ko. antah sasek aia, antah sasek kaji, karajo buya nyo karajoan pulo, samataro karajonyo baleak-leak; bus kota jo angkot nan mamakak batuak urang bagak sampai kini, pasa ikan pasa sayua, seluruh pasa nan baleak-leak, PKL nan sakalamak ati-e, polisi pasa nan bantuak tantara preman ilia mudiak, samantaro terminal Goan Hoat dijua ka Cino, ruko jo tanah di tapi pantai dijua ka cino juo, ka rakyaik dikecean investor padohal nagari ko nyo-jua, urang disuruahnnyo bazikir, samantaro pengemis, amak, anak, apak, bayi jalanan baleak-leak. Taluak Bayua, nyo jadikan pusat tantara, tantulah saroman Surabaya, Padang ko lai, Samataro pulo karajo guru nyo karajokan pulo, anak sikolah nyo suruah bajilbab.
    Sajak Nankodo Baha pulang dari lauik ko, saramoan ikolah karajonyo. Kok Bahasa nyorusak, nyotuli “ku jaga ku bela”.
    Kabanyo inyo terkuat untuak tapiliah sakali lai.

    Komentar oleh Suryadi — April 29, 2008 @ 7:02 pm

  50. Bisa mintak tolong pak Fadh.
    Pak Fadh, Carian Ambo Buku Pak Suryadi Ciek di Padang Judulnyo “Syair Sunur”. samo “Madilog” – Tan Malaka. Bara arago buku tu kaduo nyo, jo bara ongkos kirim, ambo tunggu yo.

    Ondeh Mandeh, buku tu alah abih, Syair Sunur tu alah ndak ado lai, Madilog tu ala lamo abih, cari se ka Jogya.

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Mei 2, 2008 @ 2:03 am

  51. Konco Fadlillah, iyo batua kecek Nco tu. Hari ko kalua pulo inyo di Padang Ekspres. Bahaso Arab judul tulisan e (Lai pandai wee mangaji ko?) Batua bana, Nco! Nangkodo Baha ko mampagunokan agamo untuak malampok cadiak buruaknyo. Bak kecek Konco, lah bagalemak-peak kota Padang ko dek nyo. Urang gilo baladiang ko ka tapiliah pulo sakali lai? Sia tu nan mamilih? Ha ha…kok ‘maaram’ ko nyeh lai kota Padangko suak lauik.
    ‘Rain Maker’, di biliak karajo ambo, mbo caliak lai ado juo lai sakapiang buku Syair Sunur tu. Baa? Kama ka ambo kirimkan? Agiah alamat ‘hotel’ tampek ‘Rain Maker’ Elasmendri tingga.

    Komentar oleh Suryadi — Mei 2, 2008 @ 8:04 am

  52. sia tu fauzi bahar? wakatu masih di padang, kok awak ndak tahu jo urangnyo yo. wakatu alah jadi wali kota padang, karajonyo bolak baliak padang jakarta. di jakarta nyo badagang baju di kaki limo. kalau baitu yo la jadi urang bagak di kampuang yo.

    ajo bilo pulang? kalau pas ka pilkada, ikuik se. nanti didukuang dari kota batiak. pak fad satuju kan?

    Kalau Ajo Suryadi ambo satuju, lansuang ambo jadi tim sukses tuma

    Komentar oleh Zulmasri — Mei 2, 2008 @ 10:11 pm

  53. Ambo ndak namuah masuak Pilkada doh, Zulmasri, beko ‘bakada-kada’ ambo. Payah pulo beko pi kama-kama, takuik dituduah pakai pitih rakyaik pulo. Padohal ambo urang palala. Bialah konco ambo Fadlillah se nan ikuik. Kito dorong dari balakang.

    Ambo yo takuik lo dek kada Nco.

    Komentar oleh Suryadi — Mei 4, 2008 @ 7:29 am

  54. Dear Pak Surya,

    I have sent e-mail to you about the hotel where I stay.

    Thanks for the books you would send to me. It would be a great happiness to have your book about the country in the big ocean of west coast of West Sumatera.

    Thanks

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Mei 9, 2008 @ 1:49 am

  55. Untuk Pak Fadh,

    Berbahagialah,
    Banyak tamu di rumahmu
    Jangan pernah suruh mereka pergi
    Kalau mereka hanya bercerita
    Bahwa hujan tak pernah lagi lewat di rumahmu

    Salam perkoncoan.
    Ikuit konco-konco ciek yo. Ndak usah maurus Pilkada:

    Never talk to stranger

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Mei 9, 2008 @ 2:02 am

  56. singgah ciek komandan..numpang lalu..

    Oi ngopi dulu, lai baa kaba kini tu?

    Komentar oleh kinoi — Mei 14, 2008 @ 2:53 am

  57. Konco Fadlillah. Apo pulo nan bajangkik di Padang (dan kota2 lainnyo) kini? SMS SANTET? Wah…pakau pula kita ko? Orang Indonesia hebat2. Bisa nggak menyantet Presiden Bush. No hpnyo lai di ambo ko.
    Mainkan LEAK Bali tu, Elasmendri.

    Komentar oleh Suryadi — Mei 16, 2008 @ 1:09 pm

  58. wah wajah baru pak fad? mudah-mudahan ganti bukan karena gurau rang malaysia, da wansamry.

    ajo suryadi, mainkan gasiang tangkurak tu. hebat mano jo sms santet…

    Komentar oleh Zulmasri — Mei 16, 2008 @ 9:30 pm

  59. Zulmasri, iyo wajah baru tampaknyo ko. Ambo malah sanang maliek pamandangan sawah jo dangau nan dulu. Tabayang dek ambo kami kemping di Rao-rao dulu. Pak Gusdi Sastra kanai kantuik dalam kalumun dek ‘Buya’ Fajri Usman. Baa kok barubah, Konco Fadhlillah. Pengunjung protes nih!
    Akan kito mainkan gasiang tangkurak tu, Zulmasri. Bia nak mamanjek2 dindiang paja ko.

    Komentar oleh Suryadi — Mei 18, 2008 @ 12:21 pm

  60. Untuak konco-konco:

    Sebuah renungan

    Sebuah kalimat bijak nan baisi motivasi sangaik gadang nan disampaian dek orang tuo awak, pendiri INS Kayu Tanam: T. Moch. Syafei:

    “Lebih baik menjadi raja kecil daripada menjadi budak besar.”

    Rasonyo mungkin bisa menjadi renungan bagi kita basamo. Mumpung Mei adalah Kebangkitan Nasional. Marilah kita memotivasi diri.

    Tafsirkanlah.

    Iyolah kalau baitu, ambo pai ka gunuang ledang sabanta, batarak untuk maranungkannyo.

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Mei 26, 2008 @ 3:17 am

  61. Satuju awak……saratuih persen
    Kama tuan rumah (Fadlillah) ko? Lah kembali pula di ke Ranah Sikalawi?

    Indak basobok Puti Bungsu lai, ala di bao dek Cindua Mato, baa kaba Nan Kodo Baha tu kini Nco?

    Komentar oleh Suryadi — Mei 30, 2008 @ 1:52 pm

  62. Pak Fad, ajo Sur, Elas, dll. Alhamdulillah, anak awak alah laia. Cek di blog awak. Mo kasih doanyo.

    Selamat, semoga sehat dengan berkah dan rahmat Allah, amien.

    Komentar oleh Zulmasri — Mei 30, 2008 @ 6:50 pm

  63. Da Zul,
    Salamaik punyo momongan baru. Salamaik bahagia. semoga menjadi anak yang Saleh dan Pintar. Semoga selalu berbahagia.

    Salam

    Elas

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Mei 31, 2008 @ 10:05 am

  64. Pak Surya,
    Pak Fadh, inyo sadang batarak di ateh Gunuang Marapi tu mah. Mako-nya ndak nampak. Jan digaduah pulo.

    Pak Surya, lah tarimo alamat hotel ambo?

    Iyo, batarak-tarak dek minyak naik ko, dikaja de Nan Kodo Baha, larai ka gunuang ledang limau manih hehehehe

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Mei 31, 2008 @ 10:07 am

  65. Assalammualaikum WW. Sabana lapeh taragak ambo mancaliak foto Da Fadh. Batambah ganteng kini yo… Mudah-mudahan Da Fadh lai takana juo jo ambo. Salam buat keluarga dan Ibu dan Bapak Dosen di Limau Manih. from Kobek….

    Onndeeeeeeeh awak bana kironyo… ala lamo inda basuo, sakali-sakali singgalah ka Limau manih, baa kaba Batam tu, iyo sabana sukses nampaknyo… sayang di Blok tu indak bisa bakomentar, agia program komentar ciek.

    Komentar oleh ary sastra — Juni 1, 2008 @ 6:29 am

  66. sehat komandan? komandan, tulisan yg dikirim k ambo tuh (Mengapa Kita Masih Miskin?) ambo posting ke blog ambo yo? boleh kan? bia bnyk nan baco. mokasih. hehehe..

    Yo, satuju sajo, asal sambuikan sumbernyo…selamat.

    Komentar oleh manix — Juni 5, 2008 @ 2:24 am

  67. Kama urang-urang ko Pak Fadh,
    Agak langang galanggang sengeneak.
    Jo Rajo Galanggang ndak nampak doah.
    Manga urang di ranah Sikalawi, Pak Surya.

    Minyak dek naik koma, mungkin pai demo bagai atau pai mancari minyak ka padang siminyak heheheh

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juni 5, 2008 @ 4:31 am

  68. Kepada Zulmasri: selamat untuk kelahiran anaknya. Semoga memberi berkah kepada orang tua. Gelang rambut anarki. Kau lahir waktu pagi, ketika harga minyak sedang melonjak tinggi….
    Kepada ‘rain maker’ Elasmendri: Selamat juga atas kembalinya banyak turis mengunjungi Bali. Alamat hotel sudah diterima, namun buku belum sempat dikirimkan. Orang memang agak berduka di Ranah Sikalawi: Tiang Bungkuak meninggal dunia.
    Kepada Fadlillah M.St.Kayo: Selamat atas artikelnya yang membuat perut Dekan Fak Sastra Unand mules. Apa yang terjadi? Ambo lai rencana ke Indonesia Juli-Agustus. Ada kerjaan sedikit di Bandung dan Buton. Juni juga mau pergi sebenetar ke Liverpool untuk the 24th ASEASUK Conference. Mau dibawakan apa dari kota the Beatles itu?

    Iyo, salamaiklah kapado Zulmasri atas kelahiran anak baliau, semoga daat rahmat Allah yang banyak, dalam kondisi negara yang runyam ko. Samoga inyo jadi urang “gadang” nanti nak bisa manyalasaikan negara ko. Eh konco tinggi jam terbangnyo yo, satinggi-tinggi tabang singga juolah ka limau manih nak kito sasak mandirikan fakultas kebudayaan Minangkabau heheheh.

    Komentar oleh Suryadi — Juni 7, 2008 @ 7:22 pm

  69. trims doa kawan-kawan untuak anak awak. mo kasih banyak.

    untuak kobek, batua kato pak fad, susah komentar di blog kobek. apo paralu ganti pakai wordpress sajo.

    tapi garembeh di wajah kobek tambah subur, melebihi alm da Al (yusriwal).

    salam jabek arek

    Samo-samo,

    Komentar oleh Zulmasri — Juni 9, 2008 @ 5:32 pm

  70. Ambo suko maagiah komentar di blog Konco Malin St. Kayo ko dek indak ado syarat harus masuak’an password dll. bagai. Payah bana, rancak tabukan bantuak blog Konco ambo ko. Kalau dibuek Fakultas Kebudayaan Minangkabau, ambo usul dekannyo Drs. Fadlilah Malin Sutan Kayo, MSi sajo kito angkek. Gaji gak 15 jut sabulan kan lai cukuik tu?

    Ampun Nco, jaan baitu, ambo arok kalau badiri FKM tu, konco pulang untuak mamimpinnyo, bangun kampuang heheheh. Eh Nco si Koko, alun lapeh taragak awak jo inyo, inyo la pailo maaja bahasa Indonesia ka Korea, ondeh made, bilo nagari ko ka dibangun, satu parsatu urang hebatnyo pai marantau.
    Kalau baitu ambo baliakan sajo alaman komentar ka mungko yo, buliah sero awak mangecek

    Komentar oleh Suryadi — Juni 9, 2008 @ 9:51 pm

  71. Jaan comeh bina, Nco. Satinggi2 tabang bangau tantu tinggi juo kapataabang….eh…pulangnyo ka kubangan juo. Kalau lah tadonga Nco jadi Rektor UNAND,ambo kamehan bungkuihsan ambo lai.Mboa pai balayie pulang lai…

    lai ndak kanai gusur Nco, kaba fakultas sastra Leiden kabatuka lo lai (Kejayaan Leiden, “Past Perfect Tense?”), mungkin dek karano tulisan ambo tu ndak? heheheh ge er ambo koma.

    Komentar oleh Suryadi — Juni 14, 2008 @ 10:40 am

  72. Gurambeh
    (Puisi salam basobok untuk Da Kobek)

    Ku tak mau terkatung-katung di jalanmu
    Akhirnya aku keluarkan engkau
    Dari dagu dan pipiku

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juni 14, 2008 @ 11:30 am

  73. Satuju ambo tu mah, Pak Surya.
    Pak Malin Sutan Kayo Jadi Dekan-nyo. Kalau Ndak cukuik 15 juta, ambo tambah nggak sengeneak beko.

    Pak Fadh, have a nice weekend!

    Jaan la baitu, sagan awak, banyak senior awak lai….

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juni 14, 2008 @ 11:38 am

  74. Pak Surya,
    Bulando iyo basansam main e di Euro 2008 mah.
    Baagiah capak-capak baruak lo pemain e sabalun ke Swiss ndak?

    Have a nice weekend to you and your familiy.

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juni 14, 2008 @ 11:40 am

  75. salam motivasi modal insan juara
    aminnnnnnnnnnnnn……….

    Amiiiien juga

    Komentar oleh zaiful — Juni 17, 2008 @ 3:42 pm

  76. Assalammualaikum. Baa Kaba Da Fadh. Nomor HP Da Fadh yang di blog dosen itu ndak bisa dihubungi doh. Bara nomor HP Da Fadh nan sabananyo. Untuak Zulmasri Salam kompak. Lapeh taragak ambo maliek foto inyo. Sudah tuh Elasmendri. Baa kaba kini. Sudah tuh jo Ajo Suryadi. Mudah-mudahan lai takana juo jo Ambo…

    Onde adinda Kobek. luar biasa, No hp? aman tu, beko ambo pelok-i, ambo tatap takana petuah adinda, “jaan lupo paga diri”, hehehe, baa lai buliah manulih di koran tu ciek heheh.

    Komentar oleh ary sastra — Juni 18, 2008 @ 6:32 am

  77. lah ambo posting ke blog ambo, komandan. mokasi atas izinnyo. kalo lah ado iklan nan masuak ka blog, setiap tulisan akan ambo agiah honor. doakan sajo. hahahaha… teruskan perjuangan!!

    Aman, oke, ehh ambo ka singgah ka Jambi tgl 8 Juli, mandanga dialog sastrawan, lai buliah ndak?

    Komentar oleh manix — Juni 18, 2008 @ 7:52 am

  78. Pak, iko ambo (azan). jangan lupa link y pak… trims…

    Aman tu…

    Komentar oleh koeboe — Juni 20, 2008 @ 12:09 pm

  79. assalamualaikum, komandan.
    a kbr kini, mudo se taruih nampaknya. salam to bang kobek, juo selamat ke da zulmasri atas kelahiran anaknya.

    semoga suatu hari da suryadi benar2 jd rektor unand, komandan jd dekan, dan orang2 seperti koko dll tak perlu pergi, sbb di sana mereka dihargai.

    salam,
    ah

    Wah Bung, sudah di negeri paman sam sekarang ya? tak pernah terbayangkan olehku ketika di lapau Owen bahwa bung akan menginjakkan kaki di negeri Winetow itu, luar biasa, selamat Bung. Kalau Bung pulang nanti singgah ke Soul ya, atau singgah ke Belanda tempat konco Suryadi, sampaikan salamku nanti kepada Koko, di sini aku bayangkan Bung sedang mengisap sebatang Malboro dan meneguk secangkir kopi … wahhh.. jangan lupa nulis puisi di Kompas atau Koran tempo Minggu ya, Bung jadi semangat bagi kawan-kawan di kafe ni pik kamek (yang sudah bisa berinternet denga lap top). Salam dari jauh….

    Komentar oleh agus h — Juni 21, 2008 @ 1:48 pm

  80. salam,

    aku tinggal di small city, state massachusetts. kamarku berhadapan dgn sebuah taman kota, luas, asri, dan bersih. taman itu jd tempat orang2 mengungkapkan cinta dgn jujur, sublim dan puitis. setiap bangku bertuliskan nama2.. bangku-bangku dengan secarik memento, sejenis obituary untuk apa yang kita cintai. di taman itu, aku paling senang duduk di bangku bertuliskan “berty and burker, from your children”, yang terbuat dari kayu, menghadap ke sepasang pohon oak tua.

    mungkin, suatu hari, aku jg mau memesan sebuah bangku kayu, menghadap ke timur, di situ akan kutulis sebuah nama, “indonesia, ……-today”

    wah, senang bisa menyemangati kawan2.

    di sini aku msh berkutat dgn rasa kehilangan, komandan. memulai dari awal lagi, dan mulai mencari dan menemukan. seperti sebuah keluarga yang tinggal tdk jauh dr tempatku. mereka begitu sedih atas kehilangan kucingnya, mereka bikin pamflet, lengkap dgn foto si kucing and no tlp yang bs dihub.

    waw, kubilang ke seorang kawan, di negeriku ribuan orang hilang dan dihilangkan. dalam th 65, nyaris sejuta orang hilang, di peristiwa priok, aceh, di peristiwa 98 dll. dan anehnya kami tak pernah merasa kehilangan. betul, komandan?

    e, ambo jd takana pasar baru, membayangkan jejalan ke kampus, dan sebuah ruang yang dikelilingi debu, dengan komandan di situ lengkap dengan topi serdadu. mungkin bisa komandan buatkan sebuah bangku kayu di pojok sastra tu, dengan tulisan “to koko and agus from yours in struggle”…he…he….

    salam

    Begitulah Bung, di Indonesia, barangkali kita banyak menemukan kucing-kucing kurus kelaparan di komplek perumahan orang kaya. Jangankan kucing, orang kurus kelaparan pun berserak dan dibujuk dengan uang Rp. 100 ribu rupiah.. heeeeiiii antalah…
    Sehingga manusia mati di pinggir jalan….. sementara para pemimpin membaca asmaul husna beramai-ramai
    Iko berita hari ini di Singgalang, kawan……:
    http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=663&Itemid=308
    Lelaki Tuna Wisma Ditemukan Jadi Mayat
    Selasa, 24 Juni 2008
    GOTONG MAYAT – Petugas Identifikasi Poltabes Padang menggotong mayat seorang kakek tuna wisma berumur, 65 yang diduga meninggal karena sakit, Senin (23/6) sekitar pukul 11.00 WIB di sebuah gubuk bekas pangkalan ojek, persisnya di Jalan Ulak Karang Raya, Kecamatan Padang Utara, Padang.Muhammad Fitrah (berita terkait halaman 22)Padang, Singgalang
    Lelaki tuna wiswa diperikirakan berusia sekitar 65 tahun, ditemukan jadi mayat di Jalan Ulak Karang Raya, Kecamatan Padang Utara, Senin (23/6) sekitar pukul 11.00 WIB. Tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan di tubuh korban. Diduga ia meninggal karena sakit. Muslim Ketua RT setempat kepada wartawan mengatakan, sehari sebelum ditemukan meninggal, lelaki tua memakai baju kemeja warna merah hati celana panjang masih sehat. Bahkan pada malamnya, warga masih sempat memberikan makanan dan minuman ala kadar kepada lelaki itu.
    “Tahu-tahu, kami menemukan lelaki tua itu sudah jadi mayat,” ujar Muslim.
    Salah seorang warga Andi, 34, menuturkan, lelaki itu sejak dua hari yang lalu berada di kawasan Jalan Ulak Karang Raya. Kepada warga lelaki itu mengaku bernama Baraim.
    “Katanya ia tinggal di Parak Karakah. Karena kasihan, kami pun mencari tahu keluarga lelaki itu. Namun, warga Parak Karakah tidak satupun yang mengenalnya,” kata Andi.
    Selama dua hari di Jalan Ulak Karang Raya, lelaki itu menumpang hidup di sebuah gubuk bekas pangkalan ojek. Lelaki yang sudah ubanan tersebut selama ini tidak pernah mengganggu warga. o109/cr02

    Komentar oleh agus h — Juni 22, 2008 @ 1:02 pm

  81. wah, terlalu ambo harus melarang sesuatu yang baguno dan baik untuk ambo, komandan dan org lain? silahkan kunjung ke Jambi komandan. Jadi tim monitoring independent ajo bko ndak? hehehehe… kami tunggu kedatangannyo yo?? jgn lupo sedikit oleh2 dari sinan sekadar menjemput memori. makasi, komandan.

    salam

    Amantu, oleh-olehnyo makalah se yo heheh

    Komentar oleh manik — Juni 23, 2008 @ 4:03 am

  82. komandan, ambo danga berita oleh pantia temu sastrawan nan di Jambi bln Juli tuh. bahwasanyo, komandan diminta menjadi pembicara/pemakalah untuk tematik “Advokasi Sastra”. nah, tuh lah undangan hebat tuh!! segeralah tibo, kami tunggu kedatangannyo. hehehehe…
    salam

    Itulah, tapaso ambo basitukin untuak manulih, untuak mambela sastra, apo paralu dibuek pulo Undang-undang untuak sastra jo sastrawan, nampaknyo di negara ko segala sesuatu dibuekkan UU, bisa-bisa ka WC dibuekkan UU pulo heheh

    Komentar oleh manix — Juni 24, 2008 @ 7:34 am

  83. Dari Amerika, Bali, Jambi, Pantura, Ulando, Betwi, Tobek Patah,…..kita bertemu di sini…mengenang angin sepoi di kampus Limau Manih. Masih terngiang buno cingkariak dan kondiak di malam hari…
    Kemaren aku tertahan sebentar di Liverpool John Lennon International Airport, karena ada badai d Laut Utara. Tersandar aku di patung besinya yang dipajang di departure gate. Dua hari bicara dalam the 24 ASEASUK conference, tapi di hari aku ingin cepat pulang. Dimana bisa kucari martabak mesir, sate Piaman, dan lompong sagu bagulo lawang di kota yang penuh gedung2 tua hasil perahan tenaga dan nyawa manusia Afrika Selatan, India, Malaysia, dan Pakistan itu? Di malam yang masih terang aku mendarat kembali tgl. 22 Juni di Schiphol international Airport, Amsterdam. Tak jua kutemukan nasi kapau si Kamba dan Soto Padang di sana. Wahai Toto Sudarto Bachtiar, benar katamu: “Aku telah sampai pada batas tepi dimana aku tak bisa kembali lagi…”

    Aku jadi teringat dengan puisi Sitor ….
    Ee Nco padiah mah… taraso jo saluang di siko…. katahuilah
    iko berita dari Singalang:

    http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=728&Itemid=274
    Awak Miskin, Anak Lulus di IPB

    Kamis, 26 Juni 2008

    ImagePADANG—Betapa gembiranya Ariel Febrila Niswar, salah seorang siswa SMA 10 Padang yang lulus tahun ini ketika menerima surat dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Di dalam surat yang bernomor 1383/13/PP/2008/G64080040 itu tertulis ucapan selamat, ia diterima sebagai mahasiswa undangan di perguruan tinggi itu pada jurusan Komputer. Namun, mendadak ia lunglai. Air mata gadis itu menetes. Ia tahu bapaknya tak punya uang. Ia sadar ibunya juga demikian. Tapi, haruskah cita-citanya kandas.
    Ia mungkin yang salah kenapa lahir menjadi anak pintar. Tapi tidak juga. ia berdoa dan pasrah kepada Tuhan. Akan halnya kedua orangtuanya, tak siang tak malam senantiasa gelisah. Ingin benar hati keduanya akan tercinta bisa kuliah. Sekarang IPB mengundangnya untuk datang.
    gadis ini tak sanggup membaca surat dari IP B itu. Hanya sampai membaca ucapan selamat itu, Riri begitu panggilan akrabnya yang tinggal di Jalan Apel I nomor 101 Perumnas Belimbing, Padang merasakan gembira. Maklum saja, dari ribuan siswa kelas tiga asal Sumbar yang mendaftar di IPB itu hanya lima orang yang lulus, dialah salah satunya. Selanjutnya, gembira bertukar rasa gundah, uang Rp10.535.000 entah dimana akan didapatkan demi menebus selembar kertas undangan itu. Sementara sesuai petunjuk dalam surat, biaya sudah harus dibayar paling lambat tanggal 30 Juni mendatang.
    “Tidak tahu apa yang hendak saya perbuat lagi, saya sangat berharap bisa kuliah di sana, tapi uang itu benar yang tidak ada untuk biayanya,” kata Riri kepada Singgalang kemarin (25/6).
    Berharap dari orangtua, sama saja menunggu hujan dari langit di musim kemarau. Bapak yang hanya seorang Satuan Polisi Pamong Praja, Iswarwan Niswar dan ibu, Yellis Tosen sebagai ibu rumah tangga tak punya daya tuk menebus lembar kuwitansi yang diminta pihak IPB itu. Sudahlah hanya seorang PNS kelas bawah, Pol PP yang bertugas sebagai penjaga rumah Sekda, hutang sudah selilit pinggang pula. Belum lagi biaya keluarga sehari-hari beserta dua oarang anaknya yang lain. Satu mahasiswa semester tiga Universitas Andalas (Unand) dan satu lagi murid kelas lima Sekolah Dasar (SD).
    “Tak sanggup lagi saya memikirkannya, sedih memang hati saya. Anak-anak punya kemampuan dan pintar, tapi ekonomi keluarga yang tak sanggup memenuhi tuntutan mereka,” kata Miswar lirih, saat mendampingi Riri di kantor redaksi Singgalang.
    Dari cerita Miswar, sudah beberapa upaya yang ia lakukan untuk mencari uang yang Rp10 juta lebih itu, dengan cara mengajukan proposal, meminta beasiswa kepada instansi pemerintah dan beberapa perusahaan, tapi tak kunjung dapat respon. Tak putus asa sampai di sana, ditolak satu kali, ia coba masukkan lagi, namun hasilnya tetap sama.
    “Ya bagaimana lagi, inilah nasib sebagai rakyat miskin. Demi kesuksesan Riri semua jalan akan saya upayakan” ujarnya bapak tiga orang anak itu dengan semangat yang menggebu. Tapi hanya semangat yang daya tak ada juga.
    Kini tidak tahu lagi ia harus bagaimana mencari uang yang Rp10 juta. Semangat Riri ingin kuliah di IPB, bak api membara. Namun apakah harus padam karena setitik air, belum satupun jua yang bisa menjawab. “Uang kami memang tidak ada, tapi upaya sudah dilakukan, semuanya kami serahkan kapadamu ya Tuhan,” kata Riri bersama ayahnya berbarengan. Andika ***

    Komentar oleh Suryadi — Juni 26, 2008 @ 4:08 pm

  84. beberapa hari yang lalu, aku diajak makan malam oleh seorang temen, seniman dan seorang guru di high school sini. selain aku, temen itu dan istrinya, ada juga seorang social worker, lecturer, pasangan muda dari brasil yang sdg ngambil doktor dan master, dan satu pasangan lg dari south africa.

    yg social worker sdh keliling dunia, termasuk aceh pasca tsunami, yg lecturer punya ducth ancestor, yg dr brasil masing2 punya garis turunan berbeda, suami german, istri itali. menarik pasangan satu lg, dari south africa tp keturunan india. dan, dia bilang, bahwa saudara jauhnya punya suami yang leluhurnya berasal dari indonesia.

    aku digigit sunyi. untunglah, kami makan di korea restauran, yang dindingnya dipenuhi graffiti. ada bermacam aksara, bermacam bahasa di dinding itu. dan..waw, ada jg bahasa melayu di situ. “Selamat Datang” ttd sebuah nama indonesia Sanjaya…apa berikutnya..aku lupa..

    korea restoran dgn bahasa dan sebuah nama Indonesia,paling kurang bikin aku tidak merasa sendiri. ada Asia yang menemani, sebuah tanah yang sekian lama kubayangkan sebagai identitas, sebagai esensi, yang barangkali sesungguhnya cuma perlambang, sebuah tautan bagi ingatan.

    aku coba memahami itu, kini Komandan. jg cb memahami diksi puisi yang dikutip da suryadi, “pada batas tepi di mana aku tak bisa kembali lagi..”

    selama ini, “batas itu” begitu pasti, sesuatu yang telah terbentuk, dan bukan sesuatu yang sedang dibentuk. sekian lama, kita terbiasa memahaminya secara ganda: “ruang” yang berarti asal dan “tanda” yang berarti pesan2 identitas. dan kita si “puppet”, si wayang, dan entah siapa si “dalang”.

    “jangan berhenti di sini, kata chairil, “kita pejalan larut menembus kabut,”

    ah…abis, makan, kami jalan ke Iron house–atau horse–semacam klab musik. malam itu tampil musisik kulit hitam. aku dak begitu tahu jenis musiknya, seperti campuran jazz, reggae, dan entah apa lg. terakhir dia maenkan lagu–kata temen seniman/guru, yang berjudul “deportees”, ditulis oleh Woody Guthrie, penyair, songwriter, and american folk musician.

    ‘….so, farewell to my friends, good-bye Rosalita/ Adios mis amigos, youse the same Maria/ you won’t have name when you fly the big aeroplane/ all they will call you will be deportees…’

    sebuah lagu protes, Komandan. protes atas rasisme terhadap buruh perkebunan, sama dgn TKI ilegal kita di Malaysia. mereka asal mexico yang dideportasi ke tanah “asalnya”, dgn pesawat tua yang kemudian jatuh. lagu ini memprotes perlakuan media, yang tidak menyebut korban dengan nama, tapi dengan sebutan “deportees”.

    sama dgn TKI dan kita di malaysia yg tidak disebut dgn nama, tapi cukup dengan sebutan “budak indon…!!!” BEDEBAHHHH…………!!

    sorry klu kepanjangan, Komandan.

    salam

    Sementara sekolah-sekolah dari TK sampai PT mendidik orang menjadi penganguguran, —mendidik mereka untuk jadi budak di negeri sendiri dan negeri orang—, Bung kesunyian di negeri orang sementara ada kesepian dinegeri sendiri yang tidak terlerai…..

    Iko berita padiah ciek Bung:
    http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=761&Itemid=274

    Rahman Lulus PMDK, Hanya Nenek tempat Bergantung

    Jumat, 27 Juni 2008

    Laporan Yuke
    Bastari, nenek Rahman berharap uluran tangan dermawan yang memberikan bantuan, untuk kelanjutan pendidikan cucunya yang memiliki otak yang cerdas.PADANG— Lulus PMDK, tapi seketika tubuhnya menggigil karena ketiadaan uang. Bapak dan emak bercerai, awak tinggal bersama nenek. Apalah daya nenek. Tapi, cinta nenek pada cucunya siang malam tak putus-putus. Ia doakan cita-cita cucunya berhasil. Masalahnya hari ini, uang untuk menembus blanko PMDK itu benar yang tak ada. Nasib buruk di hari baik itu menimpa seorang remaja putra. Abdurrahman, namanya. Saat ini usianya baru 18 tahun dan tahun ini ia menyelesaikan studinya di SMK. Rahman, begitu dia akrab disapa terlahir dari keluarga yang tidak berpunya. Meski begitu dia punya kecerdasan yang luar biasa. Terutama mata pelajaran Akuntansi.
    Pada 16 Juni lalu hasil kelulusan sudah berada digenggamannya. Sebelumnya dia juga telah lulus di Program Studi Akuntansi kelas bilingual di Universitas Andalas Padang.
    Saat menerima kelulusan itu, seketika tubuhnya bergetar, jantungnya berdegup kencang. Ia bagai baru tersadar dari mimpi, tidak mungkin bermimpi terlalu indah. Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Karena tingginya biaya pendidikan di perguruan tempat ia diterima melalui jalur khusus
    Selama ini biaya hidup dan pendidikan rahman, ditanggung bersama oleh sanak familinya. “Sebelum hasil kelulusan di tangan hati saya was-was, lalu saya berkata dalam hati. Apa mungkin saya bisa kuliah? Karena saya orang yang tidak berpunya,” sebut Rahman.
    Sejak berpisah dari ibu, ayah dan adik-adiknya di kampungnya Pasaman, Rahman hidup dengan neneknya di Padang. Ketika itu ia baru berumur 12 tahun, nenek dan sanak saudaranyalah yang menanggung hidup Rahman hingga sekarang.
    “Saya tidak tahu harus berbuat apa untuk kelulusan ini. Hati kecil saya ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, tapi itu semua tidak mungkin. Sebab orangtua saya bukan orang berpunya, berharap pada keluarga juga tidak memungkinkan lagi,” sebut siswa SMK 3 Padang ini.
    Meski hidup dalam segala keterbatasan, Rahman selalu ceria di depan semua orang. Tapi di balik senyum yang tersungging di bibirnya ada sebuah beban. Beban hidup yang begitu berat, sebab apa yang ia cita-citakan akan terputus di tengah jalan. Impiannya untuk menjadi seorang Akuntan ternama di kota ini, akan hilang bersama waktu yang terus berputar.
    Kedatangan Rahman, ke Kota Padang berawal dari masalah orangtuanya, karena masalah itu ia harus terpisah-pisah dari ibu kandung dan adik-adiknya. Lalu takdir membawa Rahman ke Kota Padang, sebuah kota yang penuh dengan mimpi-mimpi yang tergantung di awan. Di Palinggam Pasa Gadang, ia rajut mimpi hingga tingkat SMK.
    Agar tidak terlalu memberatkan nenek dan keluarganya di Padang anak kedua dari pasangan Ardawati dan Zulkifli ini, bekerja dengan mengangkat karung-karung yang berisi kacang hijau dan kacang tanah, di gudang yang menyatu dengan tempat tinggalnya. Di gudang itulah Rahman dan neneknya bertinggal. Hasil yang ia dapat dari pekerjaannya itu, ditabung dan digunakan untuk penambah biaya hidup sehari-hari.
    “Sebenarnya saya ingin menjadi seorang akuntan, tapi itu tidak mungkin tercapai. Karena saya tidak punya dana untuk masuk perguruan tinggi. Meskipun saya lulus PMDK,” kata Rahman.
    Bastari, 74 nenek Rahman mengaku sangat ingin membiayai kuliah cucunya tersebut hingga ke perguruan tinggi. Tapi ia tak punya daya untuk semua itu, keluarga yang selama ini membiaya pendidikan Rahman, juga sudah kehabisan akal. Apalagi lagi ketika mereka mengetahui Rahman lulus di perguruan tinggi ternama di kota ini.
    “Rahman anak rajin, dia baik dan tidak pernah menyusahkan orang lain. Saya ingin melihat dia bahagai, lepas dari beban hidup yang selama ini ia tanggung. Saya berharap ada dermawan yang membantu pendidikan Ramhan di perguruan tinggi,” sebut Bastari.
    Menjelang pendaftaran tahun baru dimulai hati Rahman mulai gelisah. Ia takut membayangkan harapan itu benar-benar sirna seiring bergulirnya waktu. Tapi apapun yang terjadi nanti, dia tetap akan optimis menjalani hidup. Sebab rezeki, jodoh dan maut sudah tertulis, manusia hanya bersifat menunggu.
    “Kalau Allah memberi kesempatan saya kuliah, pasti Allah akan membukakan jalan untuk masa depan saya,” ucapnya dengan nada rendah.
    Di sekolahnya Rahman mendapat NEM tertinggi di sekolahnya dan peringkat ke delapan di Sumbar. Prestasi lainnya yang pernah ia raih yaitu juara III lomba Akuntansi tingkat SLTA se-Sumbar pada tahun 2006, juara II lomba Akuntansi juga untuk tingkat Sumbar 2007. Rahman juga berhasil meraih peringkat pertama lomba cerdas tangkas koperasi tingkat nasional 2007. Sebagai hadiah untuk kemenangannya sebagai sang juara di tingkat nasional, ia berhak mewakili Indonesia dalam acara ICA Regional Workshop For Managers On Management Of Consumers Cooperatives in Asia Pasific pada 12 hingga 14 Agustus 2008 mendatang di Singapura. Adakah dermawan yang akan membantu Rahman? Agar cita-citanya pendidikannya tidak putus di tengah jalan? ***

    Komentar oleh agus, deportees too — Juni 29, 2008 @ 2:15 am

  85. Salamaik pagi, siang jo malam Pak Fad…..
    Ambo sonialis, mahasiswa apak dulu (Sasindo BP 92). Alah lamo Pak Fad ndak bukak blog ko yo….? Pasti sibuk luar biasa yo Pak/

    Lai, ba-a kaba Padeks kini, angku selalu ditanyoan dek si Elasmendri di Denpasar.

    Komentar oleh sonialis — Juni 29, 2008 @ 4:41 pm

  86. sonialis1173@yahoo.com iko salah mah pak. Nan batuanyo bendank1173@yahoo.com

    Oke, aman tu.

    Komentar oleh sonialis — Juni 29, 2008 @ 4:42 pm

  87. - kaba sonialis baek2 sajo pak fad. anak surang laki2 jolong gadang 2 tahunan. namonyo avarelzy hafizh efison.

    - bara nomor hp si elas pak fad? nan ambo 0819750-8538

    - si bagong jadi pak ogah di daerahnyo,kaba dari faisal. si faisal (0818856108) tau mah nomor hp si bagong pak fad.

    Iko mail si El: language_more@yahoo.com nan biaso baliau bakunjuang ka siko ma.

    Komentar oleh sonialis — Juli 1, 2008 @ 11:18 am

  88. Halo Da Fadh. Alah hebat-hebat kawan-kawan awak kini ko yo. Ambo baru tau dari blo Da Fadh ko. Salam buat Agus Hernawan nan sadang di Amerika. Tolong sampaikan salam ambo ka Obama. Sudah tuh samo Elasmendri di Bali.

    Halo juga, salam angek, kabanyo: Tribun Sumbar ka buka apo iyo.

    Komentar oleh ary sastra — Juli 2, 2008 @ 3:49 am

  89. Hendra Efison Ampuang? Dunsanak ambo.
    Lai baa kaba Ampuang. Lai Barasok jo Indaruang tu taruih.

    Ambo simpan nomor ampuang Dek Ambo. Sayangnyo di Padang ambo sabanta nyoh. Mungkin ampuang sibuk. Jadi mungkin ndak basobok ambo doah.
    Lai panjang jo rambuik ampuang lai.
    Ambo manulih artikel ka padek ciek yo….

    Ambo taragak jo Faisal Tu mah. Si Bagong gai. Pokoke jo Kawan 92.
    Kito buek wadah lo ciek baa nyoah.
    Sukses Ampuang

    Bilo Mandaki awak basamo baliak.

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juli 7, 2008 @ 3:41 am

  90. Rain Maker Elasmendri
    Urang di Piaman bacokak pakaro asak-maasak ibukota kabupaten. Kito pindahan ibukota kabupaten Padang Piaman ka Pulau Anso baa?

    Komentar oleh Suryadi — Juli 10, 2008 @ 7:21 pm

  91. ada dua sejarah yang terjadi di Jambi. yang satu sejarah kali pertama diadakan pertemuan sastrawan dan yang satunya antrean panjang BBM. ya, TSI 1 di Jambi kemarin berbarengan dengan kondisi sosial yang sangat parah. kelangkaan BBM dan pemadaman listrik yang cukup lama setiap hari secara bergantian dan berimbas pada sulitnya air PDAM. sampai hari ini antrean panjang masih terjadi. orang2 dengan rela menunggu berjam-jam bahkan berhari-hari untuk antrean mobil.
    pada TSI, pembicaraan dan bisik2 hanya seputar org2 yang bergumul disana. karena kita tahu secara umum tujuannya masih seputar apresiasi. berbicara masalah ruang, penerbitan, masalah perlindungan hukum, dsb2. sementara pembicaran dan bisik2 kelangkaan BBM di Jambi terjadi disetiap sudut, di setiap rumah makan, di warung2, di tempat kongkow2, di jalan2, apalagi ditempat antrean.
    TSI selesai, para sastrawan dan kritikus bubar dan pulang ke kampung halaman masing2 dan mungkin membawa cerita. sedangkan antrean panjang tak kunjung bubar. cerita dan bisik2 semakin berdengung. tak ada cawako dan pasangannya yang cuap2 tentang keadaan ini. semuanya diam dan tentu tidak mau merasakan panjang dan lamanya antrean.
    lalu, mau apa kita dengan keadaan ini?

    terima kasih komandan atas kehadirannya di “rumah kita”.

    salam,
    ricky manik

    Komentar oleh ricky — Juli 11, 2008 @ 3:28 am

  92. Pak Surya, bilo ka kito pindahan. Bara paralu kapa mamindahan, beko ambo kirim dari Gilimanuk.
    Kalau ndak cukuik beko kito pinjam kapa cindua mato baa nyo. Mintak izin ka Malin Sutan Kayo di Songka lu.

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juli 11, 2008 @ 8:26 am

  93. PAK SURYA, TAKANA JO LAGU LAMO:

    ILAN KAPALO ILAN SAKAREK KAPALO NAGO
    DI LAUIK ARI LAH HUJAN, DISIKO LAH GABAK PULO,

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juli 11, 2008 @ 8:31 am

  94. URANG PAUAH BAKUDO LIMO
    NAN SAIKUAH MAMUTUIH TALI
    URANG JAUAH BAKIRIN BUNGO
    KOK LAYUAH JOA DIGANTI

    (LAI MEKAR JO TULIP DI BULANDO TU LAI)

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juli 11, 2008 @ 8:33 am

  95. I
    TITIAN PAUAH
    REL KARETA API
    DISINAN KITO MAMADU JANJI
    JANJI DIIKEK INDAK KA BAPISAH LAI

    DINGIN-DINGIN HARI
    LABIAH DINGIN ATI

    (dima nyo kini?)

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juli 11, 2008 @ 8:37 am

  96. Takana jo si upiak sirabiatun

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juli 11, 2008 @ 8:37 am

  97. Pak Fadh,
    Manga kini tu?

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juli 11, 2008 @ 8:39 am

  98. Bagurau kito sengeneak dulu.
    Parintang wakatu
    Paubek jariah nan tibo
    Parintang wakatu manjalang sanjo
    Paubek ati nan luko
    Supayo sajuak di dalam kiro-kiro

    Namun samantang pun baitu, goreang talatak disantuang juo
    Kopi nan angek kito tuangkan
    Galaih nan panuah kito angkek
    Supayo sanang malam nan datang
    Kaniang nan karuik dipaluruih
    Supayo basuko kita sadonyo,
    Lai baa tu rang banyak

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juli 11, 2008 @ 8:45 am

  99. Badaceh pantun Elasmendri,
    Iyo gak rumik: Listrik mati di Jambi, tapi kan peserta PSI lai taruih juo baco puisi…
    Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miski. Kecek Afrizal Malna di Kompas: “Bunga bateba2 di dalam kota. Afrizal Malna ko taruih mandiskusikan BULAKANG RUMAH JO MUKO RUMAH. Bak kecek Hamsad Rangkuti kapatang di Palangkaraya: bamain2 ndak tantu ojok jo bahaso. Karuik koniang mambaco tulisan e.
    Mbo baleh pantun ‘Rainmaker’ Elasmedri ciek lu:

    Balaia kapa Tuan Haji,
    Mambao rotan saguluangan,
    Lai di bawah payuang panji,
    Saketek indak kalinduangan

    Komentar oleh Suryadi — Juli 15, 2008 @ 9:58 am

  100. Pak Surya, dima kini ko? Di bulando atau di Padang?

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juli 15, 2008 @ 12:36 pm

  101. Masih di Bulando, Elasmendri. Taragak anyang taruang, tapi nan ada kantang ulando nyo. Awal Agustus ambo di Batawi, ‘Rainmaker’. Ado mangecek di Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara 12,di Universitas Padjajaran, Banduang, 4-7 Agustus 2008. Kok ka Banduang Elasmendri, sobok kito di sinan.

    Komentar oleh Suryadi — Juli 15, 2008 @ 4:08 pm

  102. Halo da Fad. Sasuai saran dunsanak ambo Zulmasri, kini alah ambo ganti menjadi arysastra.wordpress. Tapi ambo masih ndak mangarati baa caro mambuek fitur-fiturnyo doh. Maklumlah awak dulu kuliah di kadai kopi Ni Upik se nyo. Kini ko kabatulan sajo lai bisa mamakai komputer jo internet dek karajo di surek kaba se mah. Salam

    Komentar oleh ary sastra (kobeks) — Juli 30, 2008 @ 5:06 am

  103. Halo Uda Fad. Sasuai saran kawan Ambo Zulmasri, kini ambo baraliah ka wordpress. Tapi sampai kini ambo masih binguang mambuek fitur-fiturnya. Maklumlah awak kan dulu kuliah di kadai kopi Uni Upik se nyo. Mamacik komputer jo main internet ko dek kabatulan karajo di surek kaba se mah. Salam

    Ondeh Madeh, keren, bantuak Chak Nur, eh Chuk Noris bintang film lago tu. yo padek….

    Komentar oleh ary sastra (kobeks) — Juli 30, 2008 @ 9:55 am

  104. lapeh taragak awak masuak ka blog pak Fad ko, rami, raso masuak ka kantin sastra Unand.. jauah jalan dari ikip/unp di aie tawa, rasonyo ndak ado latiah, baitu pulo wak masuak blog ko.. sobok awak jo kawan2 lamo (nan kawan antah lai takanan antah indak hehe), kok lai sobok jo kawan awak nan ciek lai, israr, sampaian salam ambo ka beliau pak fad

    Komentar oleh mairi nandarson — Agustus 1, 2008 @ 3:29 am

  105. Da Zulmasri, wakatu ambo pulang kampuang patang ko, horison da Zul lai basobok. Agiah ambo alamat lengkap da Zul, ambo kirinan majalah tu.

    Salam
    Elasmendri

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Agustus 2, 2008 @ 11:29 pm

  106. alamaikkan surek bisa di:

    Zulmasri
    SMA Al-Irsyad
    Jalan Seruni 66A
    Pekalongan 51123

    Apo mampir sekalian di Pekalongan waktu baliak ka Bali?

    Komentar oleh Zulmasri — Agustus 8, 2008 @ 9:50 am

  107. Ok, Da Zul

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Agustus 11, 2008 @ 4:20 am

  108. nurul fahmy

    samo-samo pak. lah batarimo pakirim ambo. kapado kawan-kawan nan dak mandapek, kacau se kopi tu sagaleh gadang pak, minum barami-rami, kan samo senyo tu, mancubo juo, hhehe.
    oyo, samo-samo ambo mohon maaf juo, kok ado kasalahan nan talisan atau nan tatulihkan…

    SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUSA DI BULAN RAMADAHAN..

    Yo samo-samo, semoga puaso kita akan lebih baik di bulan iko.
    salam

    Komentar oleh nurulfahmy — Agustus 28, 2008 @ 8:20 am

  109. Apak-apak, Ibuk-ibuk ambo di Sastra jo Konco-Konco kasadonyo:

    Ramadhan adalah keteduhan dari pohon-pohon rindang yang tumbuh di tepian sungai yang bening yang mengalir di tengah padang rumput yang hijau.

    Selamat Puasa

    Iyo Salamaik Puaso sadoalahe, salam maaf.

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Agustus 30, 2008 @ 1:49 am

  110. Pak Suryadi,
    Salamaik Puaso.
    Bilo hari rayo di Bulando
    Alah babali tiket kapa ka Piaman.
    Beko abih beko.

    Pak Fadh,
    Tiket ka songka tolong di Booking dulu.
    Bilo awak basobok di Bali baliak.
    Dari Bali taruih ka Australia awak.

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — September 1, 2008 @ 12:11 am

  111. assalamualaikum pak, ado nan lupo pak
    mintak wak alamaik e-mail surek kaba yo pak. talabiah dahulu tarimo kasih banyak. kiriman ka e-mail awak se pak.ditunggu

    Komentar oleh firman — September 3, 2008 @ 6:33 am

  112. Alo Uda Fadh. Kalau bulan puaso ko takana awak jo warung kafir di Barak Vietnam dulu. Tapi kini indak lai Da Fadh. Percuma sajo awak kuliah Bahaso Arab jo Fadhnyo… Fiil Amar jo Mudariak tuh lai masih takana jo awak. Salam buek Dunsanak sadonyo. Salamaik Puaso. Mohon Maaf Lahir dan Batin…..

    Komentar oleh arysastra — September 6, 2008 @ 1:18 pm

  113. ajo sur….

    taragak awak mambaco tulisan da sur. tapi dalam bantuak cerpen atau novel. tolong buek-an awak ciek carito tantang seorang pribumi nan acok bakunjuang ka lua nagari. mampia di gedung-gedung tuo nan dibangun jo darah samo aia mato di negara jajahan. yo tabayang dek inyo penderitaan rakyat tu.

    awak tunggu yo jo. patajam se konfliknyo. endingnyo tasarah.

    Komentar oleh Zulmasri — September 6, 2008 @ 4:22 pm

  114. haha…rancak ide Zulmasri mah. Mbo cubo tulih beko…

    Komentar oleh Suryadi — September 8, 2008 @ 2:34 pm

  115. Eh…ampia lupo: salamaik puaso kasado alahe. Liek http://www.padangkini.com soal puaso di Nagari Ulando. Elasmendri babuko jo bebek betutu mah, kalau Zulmasri pasti babuko jo rawon…

    Eh Nco baa kalau babuko jo martabak kubang…..

    Komentar oleh Suryadi — September 8, 2008 @ 2:37 pm

  116. assalamu’alaykum… pak Fad…..
    salam kenal …
    http://www.ariex.co.cc

    Walaikumsalam, salam kenal juga….

    Komentar oleh abuipah — September 15, 2008 @ 1:18 pm

  117. salamaik Ari Rayo. Makasuik ati nak pulang ka kampung. Apo dayo kapa lah panuah. Lewat blog ko silaturahmi kita sambuang. Salam dari kami urang nan jauh. Ary sastra (Kobeks) sekeluarga mengucapkan mohon maaf lahir batin untuk dunsanak kasadonyo. Kalau ado utang piutang mohon direlakan sajo.

    Iyo Salamaik Ari Rayo, walaupun bajauhan namun dakek di ati…

    Komentar oleh arysastra — September 27, 2008 @ 2:25 pm

  118. Met idul Fitri kasado alahe. Mohon maaf lahir batin.

    Samo2 selamaik lahia batin pulo, semoga puaso kito ditarimo Allah, amien

    Komentar oleh Zulmasri — Oktober 5, 2008 @ 12:01 am

  119. Salamaik hari rayo, Malin. Baa kaba kini, lai sehat-sehat sajo.

    Wah, Salamaik Hari Rayo, kaba baik, Alhamdulillah lai singgah konco lamo kito, Hoii Pak Kobex, Pak Zul, Pak Surya, sadoalae.. iko konco kito Elfialdi dari simpang anam alah tibo. A yo sero ota kito koma…..

    Komentar oleh elfialdi — Oktober 6, 2008 @ 2:02 pm

  120. Halo Uda Fadh. Baa kaba kawan awak si Elfialdi tuh. Lai bakadai nasi juo di simpang anam tu lai. Kalau lai ambo taragak ikan bakanya. Lai ado nomor HP nyo tolong sms kan ka nomor ambo, 081372255454. Tarimo kasih yo da Fadh

    Wah, lai, iko no HPnyo: 081363453461 atau 08126746259, samo2…

    .

    Komentar oleh ary sastra (kobeks) — Oktober 9, 2008 @ 5:46 am

  121. Aa…talambek mangucapkan salamaik Rayo. Tapi bialah talambek daripado indak samo sakali. Elfialdi, lah lamo kito ndak sobok. Kama Elfialdi?
    Nco…kama Nco? AMbo sms ndak manjawek2?

    Selamat untuk “pengelana dari Pariaman”

    Komentar oleh Suryadi — Oktober 12, 2008 @ 12:48 pm

  122. Ej ajo. alah salasai novel tu?

    Komentar oleh Zulmasri — Oktober 13, 2008 @ 7:05 am

  123. Hai apa kabar?

    Komentar oleh wahyunimuliahelmi — Oktober 23, 2008 @ 4:20 am

  124. Ambo indak pandai manulih novel ko, Zul. Tunjuak’anlah caronyo.

    Komentar oleh Suryadi — Oktober 25, 2008 @ 9:43 am

  125. Kama konco ambo, Drs. Fadlillah Malin Sutan Kayo, M.Hum. ko? Lah lamo baliau indak mancogok. Di-sms indak pulo manjawek2. Ambo kirobaliau sibuk pilkada ko?

    Komentar oleh Suryadi — Oktober 25, 2008 @ 9:56 am

  126. Da zul, ambo ka mangiriman horizin nyo, yo. Tunggu dulu.

    Pak Surya, lah lamo kito indak bakirin kaba. Baa kaba. Ambo liek sosok e tapampang di kota. Iyo lah hanyuik urang piaman di Bulando. Salamaik an taruih carito lamo tu, Pak. Banyak generasi awak nan talupo. Bak kecek Sukarno jo : Jasmerah e, Pak.

    Pak Fadh, Lai baa kaba. Lah lamo lo kita ndak kontak.

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Oktober 29, 2008 @ 9:35 am

  127. Koreksi: Ambo liek sosok Pak Surya tapampang di Kompas- sorry salah tulih di ateh tua – Elas- tatulih di ateh di kota -

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Oktober 29, 2008 @ 9:38 am

  128. oke elas. awak tunggu. paralu ndak nanti di tulih di http://zulmasriwordpress.com ? Judulnyo: Pusako nan alah babaliak.

    he he he
    eh, las. tolong ajo sur mambuek novel tuh. alah kapayahan ajo manulih supayo taraso sero dibaco….

    Komentar oleh Zulmasri — November 3, 2008 @ 7:35 am

  129. oke elas. awak tunggu. paralu ndak nanti di tulih di http://zulmasri.wordpress.com ? Judulnyo: Pusako nan alah babaliak.

    he he he
    eh, las. tolong ajo sur mambuek novel tuh. alah kapayahan ajo manulih supayo taraso sero dibaco….

    Komentar oleh Zulmasri — November 3, 2008 @ 7:36 am

  130. Da zul, alah pilkada urang di pekalongan.
    Ikuik ambo ciek a

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — November 4, 2008 @ 2:50 am

  131. Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah.
    Kami berharap bisa meningkatkan kerjasama dengan memasangkan WIDGET Lintas Berita di website Anda sehingga akan lebih mudah mempopulerkan artikel Anda untuk seluruh pembaca di seluruh nusantara dan menambah incoming traffic di website Anda. Salam!

    Komentar oleh lintasmarketing — November 8, 2008 @ 5:44 am

  132. trims, komandan sdh mampir ke blog saya. kalo mampir lagi tinggalkan jejaknya ya…
    sehat dan kreatif selalu…jgn letih..

    salam,
    manix

    Komentar oleh manix — November 28, 2008 @ 1:35 am

  133. ada beasiswa ke luar negeri.
    bagi yg berminat, silahkan kunjungi http://informasi-pendidikan.blogspot.com

    Komentar oleh education info — November 29, 2008 @ 8:24 am

  134. kunjungan dengan pesan perdana, Pak.

    Komentar oleh MalaM — Desember 1, 2008 @ 2:38 am

  135. pak fad, numpang main yo. Lun dapek banyak kawan wak di siko lai. Koko seperti biasa, agak susah dibao maota hehe. Urang IAIN ndak lo banyak nan punya rumah di internet. Tapi tamu pak Fad kok laki-laki se? Kama Umil Khalis atau Defina bagai?Sajak jadi pagawai ko uni-uni tu ndak sempat buka internet bagai nampaknyo lai atau memang untuk laki-laki se ndak?
    Kok iyo talongsong wak mah. Semoga tidak begitu yaa dan pastinya tidak
    salam dari Gwangju

    Bulan januari “ambo kirim” Bang Yusuf ka Korea tu jo kelarganyo, bia bisa dapek kawan maota, salam ka Koko, suruah inyo manulis ka Kompas, ala taragak kami mambaco tulisannyo.

    Komentar oleh kabati — Desember 3, 2008 @ 7:27 pm

  136. Assalam..
    pak, bilo maaja kami yang 08 pak
    trims

    Komentar oleh willy — Desember 13, 2008 @ 10:26 am

  137. ondeh pak fad lapeh taragak ambo jo pak fad, saraso basobok muko awak kiniko. baa kaba pak fad lai sehat se. Posisi dipadang dima kni, mungkin kalau ambo ka Padang ambo sempatkan batamu jo komandan kito. Kalau ambo masih di Jambi, di nagari kubu kato urang. Pak fad, tatompang salam ambo ka Elasmendri jo pak Suryadi ( masih ingek ndak beiau2 tu joambo) . Klau ka Jambi agaiah tau ambo buliah ambo carian pak fadh minyak Jambi nan paten. Talabiah takurang ambo mohon maaf, ambo mohon diri dulu, Sakian.

    Komentar oleh Ed ( Zuhdi Darma ) — Desember 13, 2008 @ 4:47 pm

  138. Oi, Da Ed.
    Baa Kaba?
    Iko ambo, Elasmendri.
    Sanang bana ambo basobok lewat blog ko.
    Agiah lah ambo e-mail jo nomor telepon. Kalau ka jambi ambo tokok kawek tu anggak sangenek.
    Kalau ado e-mail, yo kirim-kirim e-mail awak.

    Komentar oleh elasmendri — Desember 17, 2008 @ 4:31 pm

  139. siang komandan…ambo kini ado di siko…blog lamo ambo kanai virus…hehehe…salam perjuangan

    Komentar oleh kinoi — Desember 18, 2008 @ 4:34 am

  140. elas, baa kabanyo? alah bakirimkan horison tu? awak tunggu di pekalongan, kok ndak sampai-sampai?

    Komentar oleh Zulmasri — Desember 19, 2008 @ 7:39 am

  141. Ok, Da Zul, Hari Senin tanggal 22 Desember 2008 ambo kirinan. Tunggu jo di Pekalongan, yo.
    Ambo masih sibuk jo proyek pulau ambo. Sorry, yo.

    Komentar oleh elasmendri — Desember 20, 2008 @ 4:09 am

  142. pak Fad Numpang liwaik yo…..
    Elas, baa kaba, ambo lai baiak2 se, kalau ambo baco diwaruang pak fad ko, elas kiniko di bali apo iyo tu?
    Kontak salanjuiknyo ko El….
    zuhdi_lola@yahoo.co.id Hp 081366519234

    Komentar oleh Ed ( Zuhdi Darma ) — Desember 22, 2008 @ 2:58 pm

  143. pak fad,
    numpang lewat.

    pak kasih komentar ke blok ci ya pak,

    di tunggu.

    Komentar oleh samsiarni — Januari 9, 2009 @ 6:07 am

  144. lamlekom ndan…..
    baa kaba nyo komandan kiniko…..ambo la lama ndak suo jo komandan… mungkin kini saatnya kito basuo kembali setelah 6 tahun….
    mungkin ambo dianggap kawan yang kurang ajar selamoko karena tidak pernah beri kaba samo komandan…..tapi karena satu dan lain hal makonyo ambo harus hilang sementara dari peredaran.
    ambo sekarang tingga di kota subulussalam NAD. ambo bekerja sebagai wiraswasta kecil-kecilan yang hasilnyo hanya cukup untuk makan sajo. untuk saat ini ambo jo kawan2 di subulussalam coba membangun sebuah organ di bidang kebudayaan yang namonyo LKP (lembaga kebudayaan Pakpak) Suak Boang. ambo telah menikah dan telah dikarunia seorang anak laki laki bernama Muhammad Din Satrianta Solin. anak yang nantinya akan meneruskan kerja-kerja ayahnya yang belum selesai. Insya allah.
    kalo boleh minta tolong samo komandan….. tolong bantu ambo untuk tato di bimbing dalam melaksanakan kerja2 kebudayaan di wilayah Aceh ini dan dibantu juo masalah buku n info2 tentang kebudayaan. ambo Nurdiansyah Putra Solin/ Bp 97 184 012. Add Jl Panglima Polem no 48 Subulussalam. Hp 081269405678

    Komentar oleh ucok 97 — Januari 10, 2009 @ 2:16 am

  145. Assalamualaikum, Pak …, bilo wak kubak utak Adonis ko Pak?

    Komentar oleh ilhamyusardi — Januari 15, 2009 @ 7:49 pm

  146. ass komandan. yo lah lupo jo utang tu yo? atau balupo2 an?la panek ambo manunggu indak juo dapek kaba…ambo mgkn alun bs s2 dlm 5thn ko pak…bos kalera tu alah definitif…nyo skak ambo ndak buliah s2 kecuali ambo amuah manuruikan kecek2 anjiang gadang tu…dan kini ambo sadang menikmati ‘karajo’ ambo 4thn belakangan…memang pahit menyuarakan kebenaran tu yo pak…ambo lillahita’ala se lai nyo…Allah pasti ado mukasuik jo rencana dlm perjalanan hiduik awak…ndak sia2 kan pak?ambo nio curhat jo apak,tp nantik se lah kalau awak lah bersitatap muko…baa kaba keluarga pak?aman?salam utk rang rmh…jo kwn2 di sastra…
    hanya ada satu kata: LAWAN!!

    SALAM RINDU JO KOMANDAN…

    Komentar oleh kinoi — Februari 2, 2009 @ 6:51 am

  147. salam. pak gabung di facebook pak. mungkin lebih interaktif diskusinya

    Komentar oleh il — Februari 28, 2009 @ 6:12 am

  148. What kind of world do we have now?

    antalah.
    Eh Slamat la, angku Suryadi alah jadi dotor kini

    Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — April 7, 2009 @ 12:14 am

  149. Salamaik jadi Doktor, Pak Surya.
    Tingga Profesor lai Pak.
    Gapailah Cito-Cito Satinggi Bintang di Langik, Pak.
    Tapi jan lupo ka lauak di lauik Piaman.

    Komentar oleh elasmendri — April 12, 2009 @ 9:59 pm

  150. Pak Fadh, bilo awak basobok di Bali baliak?

    Itulah, alun tau lai do, doakan pulo ambo yo, iyo taragak ka Bali tu Baliak ma.

    Komentar oleh elasmendri — April 12, 2009 @ 10:03 pm

  151. Pak Fadh, Bara no HP kini. Nomor nan dulu hilang karano HP ambo masuak mesin cuci.

    Komentar oleh elasmendri — April 12, 2009 @ 10:05 pm

  152. Assalamualaikum, pak fad.
    partamo, mokasi pak. Artikel meramal bahasa Indonesia masa depan dipercayakan masuak buletin apak. ingek2 an juolah wak pak. kok lai ka jadi urang juo.
    soto ciek pak, main-main dumah apak. byk urang pinta kiRo e dumah pak fad ko. sampai an salam wak samo pak suryadi ciek pak. wak salute ka e mah.wak nandak lo ka bulando co e tu. tapi baa caRo e tu yeh..? ko dak dialah,,in may dream i go to keukehoff.liek bungo tulip pak suryadi. Apo je warno tulip tu pak suryadi?
    Pak fad sampaian lo salam wak samo bg agus hernawan yo pak. sebaris puisi e wak kutip dalam cerpen Menuai Rinai.
    Salam kasadonyo uda2, uni2, abg2, angku2, keluarga besar sasindo unand. eh buya fahmi dima kini pak? salam lo ka e pak. mokasi yo pak.
    By: anak ketek nan jolong gadang…(defie)

    Komentar oleh Defie — Mei 6, 2009 @ 12:19 pm

  153. Apa yang terjadi seandainya para pahlawan yang telah terdahulu hidup bersama kita kembali.

    Salam Sejahtera

    Dari Pulau

    Komentar oleh elasmendri — Mei 8, 2009 @ 11:17 pm

    • El Gabuang di FB Ell

      Komentar oleh zuhdi darma — Juni 11, 2009 @ 4:02 pm

  154. lapeh sumbu e, Pak. Lah baroyak lo di Padang.
    Baa kampus.

    Malatui trapo listrik sastra jo fisp dan hukum dek nyo

    Komentar oleh elasmendri — Agustus 16, 2009 @ 11:24 pm

  155. Pak Suryadi, kabanyo pulau Angso di Piaman, lah takalabuang lo dek gampo. Pai lah caliak pulang dulu, kok ado kabek e nan lapeh ndak.

    Ajo Surya ala di kampuang kini, Ajo Elasmendri nan alun lai, El banyak maaf ka masuak puaso ko.
    Fadlillah MSK

    Komentar oleh elasmendri — Agustus 16, 2009 @ 11:29 pm

  156. Samo-samo Pak Fadh.Bulan puaso ko iyo lamak mandanga lagu malayu di kejauahan. Gamaik jo tikam tuo. Mantap.
    Talabiah ka sahur tu a. Taraso puaso raso e.
    Ingek kampuang, seneak.

    Pak Surya, Pacik an bana tagok-tagok Pulau Angso tu.

    Komentar oleh elasmendri — Agustus 22, 2009 @ 12:06 am

  157. Salam maaf banyak-banyak Pak Fad. Takana di awak zaman di Padang dulu. Salamaik bapuaso!

    Iyo samo2, semoga selalut dapat berkah Allah. Padang masih sarupo itu juo lai, lambek perubahannyo.

    Komentar oleh Syukri Datasan Al-Pauhi — Agustus 24, 2009 @ 8:05 pm

  158. Sutan, iko blog bagus sekali, banyak penggemarnyo.
    Nomor satu di Ranah Minangkabau hehehe.
    Salam untuak Syukri Datasan Al-Pauhi. Takan Tahun 1987, puisi-puisi kito saling beriring.

    WNS

    Tarimo kasih, lai masuak ka mail ambo tu nyo. Baa lai ka pulang ari rayo?

    Komentar oleh Wannofri — Agustus 27, 2009 @ 3:00 pm

  159. semoga selalu dalam keadaan baik pak fad. salam…

    Samo-samo, semoga Allah Membahi kita.. amien

    Komentar oleh meif — September 2, 2009 @ 6:58 pm


Ada yang ingin disampaikan? RSS Komentar URI Lacak Balik

Tentang penulis

Fadlillah Malin Sutan Kayo dari Kampuang Batima Soengai Jamboe adalah dosen dan peneliti di Pusat Penelitian Sastra Indonesia (Center for Research of Indonesian’s Litterature) Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang.email: fadlilah@fsastra.unand.ac.id

Cari

Navigasi

Kategori:

Tautan:

Arsip:

Feed