Artikel Sastra Budaya
Oleh Fadlillah Malin Sutan
Berjalan ingatan rasanya kepada pementasan Oedipus pada tahun 2004, ketika mengamati bangsa ini. Mengapa sebuah Oedipus yang telah berumur sekitar 2.300 tahun dipentaskan oleh Noktah di hadapan publik di ibukota Sumatra Barat? Ada jarak tempat dan waktu yang begitu jauh, pertama Yunani, ia berada di belahan dunia yang ribuan kilometer dari pantai Padang. Kedua jarak waktu 2.300 tahun lebih. Apa hubunganya dengan kondisi hari ini, dan realitas di sini, dan masa depan? Apa yang mau dibicarakan dengan hubungan ini?
Mau tidak mau inilah salah satu pertanyaan penting yang pertama kali akan muncul dalam pikiran publik, hendaknya. Pertanyaan itu bukan untuk Noktah (Kelompok Studi Sastra dan Teater), yang sebelumnya sudah mementaskan 15 naskah teater sejak ia berdiri tahun 1993. Naskah lakon dari mitos itu pertama ditulis oleh Sophocles. Sebuah mitologi dari Yunani, kemudian juga pada tahun 1931 ditulis oleh Andre Gide, dan Noktah mengangkat ke pentas pertunjukan tanggal 28, 29 dan 30 Mei 2004 di Taman Budaya Sumatra Barat dari tulisan Andre Gide, yang diterjemahkan oleh Ali Audah.
Adapun pertanyaan itu dari publik dan ditujukan untuk publik itu sendiri. Mengapa begitu? Hal itu disebabkan, apabila Noktah yang menjawabnya dan menerang-nerangkannya kepada publik maka sebuah teater tidak perlu dipentaskan lagi. Untuk melakukan itu cukup diadakan suatu ceramah atau kuliah umum, dan hal itu tentulah tidak mencerdaskan, karena sudah menjadi semacam menggurui, dan itu bukanlah hakekat dari teater.
Kemudian ada apa dengan pertanyaan itu, dari tahun 2004 dan sekarang tahun 2009. Pada pertanyaan itu ada persoalan penting yang tersimpan. Adapun masalah waktu dan tempat tidak penting tanpaknya di sini, sepertinya ada persoalan yang begitu sangat dekat, yang menghubungkan Oedipus itu dengan realitas hari ini, yakni estetika dan masalah yang dikemukakannya.
Sebenarnya pementasan Oedipus untuk di Indonesia bukanlah hal yang baru, karena Rendra sejak tahun 1964 sudah tiga kali menonjok kebudayaan Indonesia dengan pertunjukan teaternya. Dari catatan in terasa bangsa ini sudah bebal, dan persoalannya hanya itu ke itu saja dari tahun ke tahun, persis seperti Oedipus membawa batu dari tahun ketahun sampai hari kiamat. Tetapi Indonesia sebagai suatu kebudayaan sepertinya sudah “membatu” Malin Kundang.
Sebanarnya orang lebih banyak melihat Oedipus dari paradigma Freud suatu kompleksitas inces (perkawinan seketurunan, ibu dengan anak atau saudara). Paradigma ini yang dianggap penting oleh sebagian orang, namun ada estetika lain yang mungkin jauh lebih kuat dan kontekstual. Estetika itu adalah bagaimana Oedipus mau mengakui, begitu jantan, menerima kesalahannya dan memberikan hukuman terhadap dirinya sendiri, di saat ia sangat berkuasa, di saat hukum ditangannya dan di saat dia jadi raja.
Ketika pementasan Oedipus tahun 1964 oleh Rendra, diungkapkan Goenawan Mohamad sebagai estetika eksistensialis, sedangkan pada pementasan Rendra 1987 pada bagian itu juga Goenawan Mohamad mengatakan sebagai jeritan keberanian di depan kemungkinan yang paling mengerikan.
Ini yang membedakannya dengan Sangkuriang, atau beberapa naskah yang lebih mementingkan paradigma kompleksitas inces. Estetika dari Oedipus itu memang suatu estetika yang dekat dengan realitas manusia di segala zaman dan tempat.
Inilah yang membuat Oedipus menjadi naskah teater yang menembus zaman dan dapat berbicara pada setiap generasi berbagai bangsa serta setiap tempat manusia. Estetika Oedipus adalah estetika yang memberikan katarsis (baca; pencerahan), sesuatu yang membuat orang meresa terlahirkan kembali. Sesuatu estetika katarsis yang paling sederhana dan paling kuat, jika tidak karena estetika itu, maka Oedipus tidak akan pernah dibicarakan lagi, dan tidak akan menembus zaman.
Daya cekam yang menghadirkan katarsis itu adalah ketika Oedipus menusuk matanya dengan jarum sebagai hukuman dan dia meninggalkan tahtah kerajaan, meninggalkan segala-galanya dengan jantan. Inilah tradisi satria, tradisi indahnya suatu kejantanan sosok manusia dan peradaban. Suatu keindahan yang tak lekang, kata Goenawan Mohamad. Saya ragu bangsa Indonesia mampu bertindak jantan ini, kecuali bangsa Minang.
Adakah watak tradisi itu di negeri yang bernama Indonesia, di Minangkabau? Mungkin di Minangkabau hal itu yang disebut dengan “Tibo di mato indak dipiciangkankan, tibo di paruik indak dikampihkan”, atau “tibo di mato buto dan tibo di ati mati” (Tiba di mata tidak dipejamkan, tiba di perut tidak dikempiskan dan tiba di mata buta, tiba di hati mati).
Korea Selatan, Jepang, mempunyai tradisi ini, Jepang mengenalnya dengan tradisi harakiri. Eropa dan Amerika tidak mengenalnya, kecuali Yunani. Tetapi bagaimana dengan di Minangkabau hari ini? Di Minangkabau ada dua jenis manusia, pertama disebut Minang dan kedua disebut Kerbau, dengan pepatah “manusia tahan kieh (kias, majas, kata), binatang tahan palu”.
Orang Minang akan akrab dengan kata-kata “lai urang inyo” (Apakah dia manusia yang berwatak manusia?), karena banyak ditemukan orang Minangkabau yang tidak “urang”, inilah yang disebut Kerbau (manusia yang berwatak binatang). Di Minangkabau akan ditemukan kata-kata yang diucapkan setiap orang secara umum, yakni “alah manjadi urang anaknyo” (anaknya sudah menjadi manusia yang berwatak manusia). Sosok Oedipus itu hadir pada jenis manusia yang disebut orang Minang, karena yang disebut orang Minang itu adalah manusia yang berwatak “Tibo di mato indak dipiciangkankan, tibo di paruik indak dikampihkan”, “tibo di mato buto dan tibo di ati mati”.
Apakah Sumatra Barat sekarang dipimpin oleh manusia Minang atau manusia Kerbau? Apakah Indonesia akan dipimpin oleh manusia yang berwatak manusia atau oleh manusia yang berwatak binatang (seperti istilah kebun binatang; cecak dan buaya; siapa rajanya). Pertanyaan itu hanyalah publik yang menjawab sendiri.
Bagi orang Minang tidak ada manusia yang tidak bersalah begitu juga Oedipus, tetapi manusia baru menjadi manusia ketika ia jujur dengan dirinya dan orang banyak dan mau menghukum dirinya sendiri. Untuk hal ini kita harus membaca Panca Tantra atau Kalilah wa Dimnah.
Adalah berat, sangat berat, untuk mengakui kesalahan sendiri dan menghukum diri sendiri di depan orang banyak. Mungkinkah seorang ketua, seorang Bapak, Ibu, guru, dosen, penyair, seniman, anggota dan ketua DPRD, Gubernur, Walikota, Bupati, Pejabat Militer, Ketua KPK, Kapolri, Kejagung, MA, Bareskrim, Presiden mau mengakui dirinya koruptor dan menghukum dirinya di depan publik.
Wahai.. tentu mustahil rasanya, itulah yang dilakukan oleh Oedipus. Inilah Manusia. Jika pengakuan dikamar tertutup dan tidak seorang pun yang tahu, maka tentu saja setiap orang dapat melakukannya, dan hal itu tidak berguna bagi publik. Apakah perbuatan Oedipus itu adalah mempermalu diri sendiri? Bukanlah di sana letaknya; mempermalu diri sendiri, tetapi sebaliknya penghormatan dirinya kepada diri sendiri, karena pernyataan itu berada pada publik dan menghukum diri sendiri di depan publik adalah karakter moral yang bertanggung jawab.
Indonesia merupakan negara terkorup nomor lima besar, akan tetapi tidak seorang pun berani mengakuinya, adalah hal yang aneh. Pengucuran dana triliun-triliunan, perusakan hutan di mana-mana, pengurasan alam, pembantaian manusia, penindasan terhadap kepentingan rakyat di mana saja, tetapi tidak seorang pun berani mengakui dan menghukum dirinya. Tragiknya hukum juga sudah hancur. Hukuman seorang koruptor raksasa sama dengan hukuman seorang maling ayam (kalimat ini sekarang terasa sudah basi, sekali lagi basi). Pada saat kebudayaan berada dalam keadaan terpuruk di lembah kekuasaan yang membusuk, dan pada saat yang sama generasi bunga mewangi (dan kecanduan dunia gelamoran), hadir di mana-mana dengan memuakan.
Barangkali kita perlu mengajak kembali untuk membongkar wacana (konsepsi) akar kekuasaan, hukum, keadilan dan kemanusiaan. Kekuasaan yang pada akhirnya diketahui ternyata umurnya sudah tua dan purba dari manusia zaman ini, yang mereka agung-agungkan dengan kata modern, tetapi kelakuan manusia dengan kekuasaan itu tetap purba dan primitif.
Dengan demikian ingatan pada Oedipus adalah suatu satir yang kontekstual pada manusia Indonesia yang bebal dan realitas Sumatra Barat. Adapun orang-orang Minang agaknya akan cepat mengerti dengan lakon yang didialogkan dengan kenyataan hari ini. ***
Puruih Kabun 02062004-14112009:16;17-
*) Fadlillah Malin Sutan, dari Kampuang Batima nagari Soengai Jamboe, dosen dan peneliti di Pusat Penelitian Sastra Indonesia Jur. Sastra Indonesia, Unand, Padang.
Hi, Pak Fadlillah.
How are you today?
Nice to see your photo again
Bantuak koboi.
Tu sia di balakang foto apak tu?
Diskusi apo awak kini nan lamak ko?
Pak fad, carian ambo nomor HP Hendra Efison ciek. Kawan ambo wartawan Padang Ekspress.
Mokasi
Salam Salamaik Tahun Baru.
Salam ka Uni tu ciek.
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Januari 4, 2008 @ 1:12 am
Renungan Tahun Mancik
Mancik dalam belek
Makin sarik, makin diliek
Mancik di ateh pagu
Makin takapik, makin maju
Mancik di ateh talam
Pitih sarik, ameh badaram
Bantuak ikua mancik
Makin sarik, makin dipacik
Karajo mancik
Manciri ilik-ilik
Bantuak mancik
Ikua ketek, gigi takapik
Parangai mancik
Mancogok di tampek nan sarik-sarik
Nan samo jo mancik
Urang pilik
Main mancik-mancik
Mandok dulu, baru mancicik
Film mancik-mancik
Tom and Jerry
Salam
Elasmendri
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Januari 8, 2008 @ 1:32 am
assalamualaikum pak….
yo gagah apak kironyo… yo.
salamaik berjuang yo pak
kerikil-kerikil tajam tu pasti ado
baa tu pak….
firmansyah sasindo 07
Komentar oleh firmansyah — Januari 9, 2008 @ 1:28 pm
pak, baa kaba kini?sehat kan pak…amiennnnnnnnnn
pak, cigok2lah adiak apak di internet.hehheheheheh
Komentar oleh sonezza — Januari 15, 2008 @ 4:19 am
komandan..baa kok payah bana submit comment ka blog jurusan tu?alah ilang jari ambo ciek, tp indak juo takirim2 doh. tlg cari tau ciek yo komandan..tks
salam taragak jo komandan
Komentar oleh kinoi — Januari 25, 2008 @ 1:49 am
Intel Melayu ma….
Komentar oleh Maknaih — Januari 31, 2008 @ 5:16 pm
Pak Fad, lamo awakko mancari tulisan2 Pak Fad. Ndak sangajo batamu blog ko. Wah, makin sukses sajo. Selamat.
O iyo, lah lamo awak ndak manulis. Pas ado lomba cerpen nan diadokan Diknas-majalah Horison akhir 2007, awakko ikuik. Alhamdulillah, dapek 4 jt, juaro 3. Jadi pengen nulis yg banyak.
Cerpennya Kidung Sunyi Seorang Guru ado di blog awak http://masterzulmasri.blog.com
Insya Allah cerpen2 lain nyusul.
Ok, salam kreatif plus salam buat dosen2 Sasindo Unand: bu Yet, p.Yusuf, ni Zur, dll.
Salam…
Komentar oleh Zulmasri — Februari 3, 2008 @ 12:00 pm
P.Fad, kok nggak ada lagi catatan/indeks tulisan sastra yg di koran padang di blog ini? Sy tunggu-tunggu lho.
O iya, sesekali jalan-jalan ke http://zulmasri.wordpress.com ya…
Komentar oleh zulmasri — Februari 18, 2008 @ 11:14 am
Pengen nulis di padang, namun blm sempat, insya Allah nanti. Trims info emailnyo. P.Fad ikut ngelola blog sasindo ya?
Komentar oleh Zulmasri — Februari 22, 2008 @ 2:17 pm
Ass p’fad………………
apo kaba………? masih inge ndak jo awak ko ?
Komentar oleh Rita Yulmiati — Maret 5, 2008 @ 4:24 am
assalamualaikum Wr. Wb
pak, dima ambo bisa dapek buku “TUGAS SASTRWAN ISLAM SEBAGAI KHALIFAH ALLAH” PENULISNYO BUYA HASJMY.
ILHAM YUSARDI
Komentar oleh ilbinbulkaya — Maret 6, 2008 @ 9:25 pm
Lah batamu Fadlillah jo Zulmasri….sarat ‘rain maker’ di Bali….
gara-gara teknologi internet
Tingga ambo macigok2 dari baliak pintu…
Leiden…manjalang musim bungo..
Komentar oleh Suryadi — Maret 9, 2008 @ 1:41 pm
Salam kenal, saya Jati dari Purwokerto. Saya sedang membuat buletin sastra, namanya kakawin. karena masih baru jadi belum banyak pembaca yang mengirim karya ke saya, sedang sudah ada indikasi mereka mulai ingin membaca karya selain punya saya, karen aitulah maka saya ingin meminta ijin untuk memuat karya anda di buletin saya.. Buletin ini saya rintis sendiri dengan biaya sendiri jadi maaf tidak ada honor selain memberikan buletin gratis. terima kasih, saya tunggu jawabannya.
Komentar oleh Dwiana Jati Setiaji — Maret 10, 2008 @ 5:52 am
komandan.masuak an lah blog ambo ka blog sahabat komandan ciek. mksh bnyk komandan hehehe
Komentar oleh kinoi — Maret 10, 2008 @ 6:08 am
komandan,ambo tny ciek.apo referensi yg bs ambo lacak ttg inventarisasi sastra modern indonesia?ambo sdg paniang kini ko.tlg ciek komandan.klo ado versi phd rancak bana komandan.tp klo ndak ado,mnt tlg komandan jalehan ka ambo apo kiro2 hal2 yg paralu diinventarisasi:apokah bukunyo,pengarangnyo,genrenyo,atau apo.sblmnyo trmksh komandan banyak2 ko ha.ndak stek ‘alah juo do ha…
jaya komandan
salam taragak bana
Komentar oleh kinoi — Maret 14, 2008 @ 1:08 am
Onde… ajo Suryadi di Balando. Yo lah lupo jo pinukuik samo akik maco. Pulang oi, baok noni Balando tuh kamari.
Komentar oleh Zulmasri — Maret 16, 2008 @ 10:18 am
Dima Zulmasri kini ko? Di Batavia atau di Cotta Concordia? Lah bara urang anak? Lah bara urang pulo ‘rang rumah? Kok taragak noni Balando, ambo kirimkan gak tigo. Lah cukuik tu? Tapi lai tagadapang dek Zulmasri? kasa-kasa co bada mudiak..he he…
Komentar oleh Suryadi — Maret 21, 2008 @ 4:06 pm
Nco, alah tarimohonor Kompas kapatang? Makan gulai kambiang awak lai di Pasa Baru. Di ambo galang2nyo samo sayua pucuak parancih jadi juo…he he.
Komentar oleh Suryadi — Maret 21, 2008 @ 4:07 pm
komandan.tlg krimkan namo2 sastrawan di pdg yg bs jadi juri baco puisi. kecuali agus yo komandan?salam angek.mksh komandan
Komentar oleh kinoi — Maret 25, 2008 @ 4:41 am
Awakko ado di Pasisia Utara Pulau Jawa da Sur. Pasnyo di Pekalongan. Salah satu sentra batik Indonesia, yang kini juga telah diklaim Malaysia sebagai produk mereka.
Awak salut jo Uda Sur. Tulisan uda Naldi dulu di Kompas sesuatu nan luar biaso. Indak kunjuang diangkek di Unand jo UI, malah sukses di Balando. Salut
Kini awak indak tertarik samo noni Balando. Cukuik urang rumah dari nagari awak sajo. Doakan sajo, indak lamo lai awak dapek momongan. Nanti dikabari.
Ba a, lai acok pulang ka Piaman da Sur? Ingek Kata jo Sunua mananti.
Untuak Pak Fad, tarimo kasih numpang manulih di Ruang Komentar ko.
Komentar oleh smp2talun — Maret 28, 2008 @ 2:31 am
hahaha
akhir e basobok juo Pak Padil di awak. alah ambo link kan ka blog ambo. link kan pula blog awak pak yo…
si labaimalain
Komentar oleh riki dhamparan — Maret 28, 2008 @ 9:11 am
Zulmasri,
Baa pakaian Zulmasri bantuak pakaian Muammar Khdafi tampak dek ambo? Agiah lah ambo alamaik rumah jo nomor HP Zulmasri tu. Urah rumah urang Jawa atau urang Minang? Kalau tapasek ambo ka Pekalongan, mbocari Zulmasri beko.
Komentar oleh Suryadi — Maret 30, 2008 @ 2:23 pm
Pakaian? He he
Alamat gubuk samantaro di Perum Pisma Blok M No.2 (masih nomaden). HP: 085642638639
Komentar oleh Zulmasri — Maret 30, 2008 @ 3:13 pm
ha.. rami rumah Pak Fadlillah mah.. basobok jo banyak kawan di siko.. taragak awak dek nyo.. hehehehe salam dari Batam…
Komentar oleh mairi nandarson — April 1, 2008 @ 12:02 pm
Pak Surya, bensin abih di bali. Kirim lah dari bulando seneak.
Pak fadh, manga kini tu.
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — April 4, 2008 @ 2:45 am
Tarimo kasih ateh info alamaik hotel Zulmasri. ‘Rain maker’, baa kok lucut bensin di Bali? Minum bensin urang di sinan? Mairi Nandarson, baa kok Mairi tunjuak taruih awak?
Nco…salang ambo topi Konco tu gak sahari…ambo ka pai baburu kondiak…
Komentar oleh Suryadi — April 4, 2008 @ 1:11 pm
Bertubi2 ’searangan’ Katrin Bandel ka SAMAN jo AYU UTAMI. Kanai lendo pulo GOENAWAN MOHAMAD. Artikel2 Katrin lengkap di weblog R. Dhamparan. Tanggapilah dek pendekar2 kiritik sastra–Sudarmoko, Fadhlillah, dll.
Komentar oleh Suryadi — April 6, 2008 @ 6:13 am
pak fadh…
salam, pak
berkunjunglah ke blog kami..
http://www.rumahteduh.wordpress.com
Komentar oleh rumahteduh — April 7, 2008 @ 8:23 pm
assalamualaikum, pak.
Komentar oleh nurul fahmy — April 8, 2008 @ 4:48 pm
komentar ambo dak apak tampilkan?
salam hangat
nurul fahmy
Komentar oleh nurul fahmy — April 8, 2008 @ 5:19 pm
salam bang suryadi.. tunjuak2 tu barek ka awak mah, ka urang ciek nyo.. ka awak ampek hehehehe baa kaba? lamak lo di blog pak fadh ko.. bantuak lapau lo.. takan katiko awak main2 ka Limau Manih, ado lapau di ateh bukik ketek di muko kampus tu.. nan kurang ciek nyo.. minum, kok bagalak-galaknyo lai.. rami malah hehehe salam kasadonyo dari Batam..
Komentar oleh mairi nandarson — April 14, 2008 @ 10:56 am
Pak, kok lai barakaik doa Apak ambo isuak jadi dosen, ambo batarimo kasih bana ka Apak, tapi alun kini lai Pak, Hiks !!! ambo alun S2 lai, santa lai, kuliah ambo dulu sakali lai. hehehehe.
Sagan ambo kaurang sabalik, kok link blog ambo dilatakan di kategori dosen…
salam
Komentar oleh nurulfahmy — April 15, 2008 @ 4:10 pm
Untuak Zulmasri: Salam batamu baliak. Foto e gagah bana. Lai ingek jo samo ambo lai
Untuak Pak Surya: Kalau ado nan maajak makan gulai kambiang ajak ambo ciek. Tapi gajeboh nan lamak
Untuak Pak Fadh: Pak kok pulang ka Batu Sangka, lalu ka Padang Panjang, Balian ambo gajeboh ciek.
Untuak kawan-kawan nan ado di blog ko, agiah komentar ka puisi ko ciek.
Gajeboh
Di malam perkawinan antara kabut dan perantaranya
Dimanakah kau simpan titik api
Yang hauskan semua pengembara
Dan rindukan semua hujan yang turun
Dari matahari yang semakin mengering
Di depan rumah ibu kita
(Da Zulmasri, Pak Surya, Pak Fadh, komentar lo sengenek yo)
Salam dari ambo dari Pulau kenek.
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — April 18, 2008 @ 4:14 am
Elasmendri rang piaman, kini di bali yo? ba a kabanyo? kato ajo suryadi, rang bali lah minum bensin? hah?
indak lupo samo elasmendri. o iyo, bundel majalah horison nan elasmendri pinjam masih disimpan ndak?
Pak Fad, mo kasih numpang nulis di ruang ko
Komentar oleh Zulmasri — April 18, 2008 @ 10:17 pm
Iyo santiang pulo ‘Rain maker’ Elasmendri mambuek puisi. Aluih katamnyo. Susah ambo maurai kode2nyo. Mbo cari jo knci Inggirih indak cocok. Jo kaktuo indak juo cocok. Mbo bae bamanuang di kebun tulip di Keukenhoof dulu……
Kok Zulamsri alah bakilek pulo kaniang nampak di ambo. Sabanta lai ka jadi professor, ndak?
Komentar oleh Suryadi — April 19, 2008 @ 5:04 am
sia tuh zulamsri, jo?
puisi elasmendri, awak satuju samo ajo suryadi. awakko ndak tahu hubungan gajebo samo malam perkawinan. rasonyo atau apo. tanyo ka pak fad sajo. ba a pak fad?
Komentar oleh Zulmasri — April 21, 2008 @ 12:18 pm
Da Zulmasri, Maaf pertamo ambo aturkan ko a. Masalah bundel horizon tu antah dima latak e a
Kayaknyo di Piaman. karena wakatu ambo barangkek dari rumah ka pulau tampek ambo tadampa kini ambo tinggaan buku ambo saparo di rumah di pariaman. Antah sia nan mamindahan buku ambo tun ndak basoboak, tamasuak mungkin horison tun. Ambo balian jo horison baru yo.
Kaduo, kayaknyo filsafat adalah pendalaman, filsafat adalah pendalaman dengan beribu pertanyaan, mungkin Pak Surya Jo Da zul bisa komen dengan puisi tu lewat pendalaman dan pertanyaan. Tapi kalau lah dalam bana, beko tabanek lo beko. Pabia an jo lah. Maota Nan Lain Jo lah awak.
Ado usul ciek koa, maota awak tentang satu topik, awak kambangan ota tun, awak kompilasi komentar nan ada, awak jadian satu artikel keroyokan dari ota awak ko, awak tulis, awak kirin kama nan bisa dimuek, atau awak buek buku kenek-kenek tentang ota ko baa nyoah, lai satuju kasadonyo tua. Awak tantuan sia nan jadi editor ota ko beko.
Ambo mulai lah jo pertanyaan ciek lu: Kalau seni ko dibaok bajalan-jalan apo nan tajadi?
(mintak komentar urang lapau kasadonyo tu a.
Pak Surya, lompek an baruak tun sangeneak, lah mancaguik karambia mudo di ateh, Pak.
Pak Fadh, pirik usuak e tu sangeneak.
Da Zul, iyo gagah taruih foto e rang.
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — April 25, 2008 @ 1:42 am
Pak Fadlillah, kama nan mancogoak ko baa ko, kama, Pak.
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — April 25, 2008 @ 3:23 am
Pak Fadlillah, ko, tamu e banyak. Tapi urang e ndak mancogoak, doah. Ka balaguan cogoak-mancogoak, tun.
Pak Surya, laguan an lah cogoak-mancogoak tun a, ndak kalua mancogoak Pak Fadlillah tun.
Da Zulmasri, bagitar lah sangeneak.
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — April 25, 2008 @ 3:26 am
Elasmendri yg baek.
Kok ndak ditulis sajo pikiran Elas itu di blog punyo Elas. Bia nanti diskusi tambah lamak. Indak lamak pakai ladang Pak Fad taruih. Ditunggu
Komentar oleh Zulmasri — April 25, 2008 @ 11:21 am
1. Pak Fad apo sadang tajadi di Padang? Awak baco di blog Sasindo yo bakacamuak nampaknyo masalah patamuan penyair. Ado apo sabananyo?
2. Awak penasaran jo anak-anak di Rumah Teduh. Siapo mereka tu?
Komentar oleh Zulmasri — April 25, 2008 @ 11:29 am
Elas,
Kalau seni dibao bajalan-jalan, mako seni tu akan ‘lapuak’ di jalan. Ambo liek jarang nagari asiang nan mambao duta seni nyo ka lua nagari. Mereka batindak sabaliaknyo: manyuruah urang asiang maliek seninyo ka nugarinyo sendiri. Jadi, soal seni nan dibaok bajalan2 ko sabananyo kito taparangkap dek mode nan dikembangkan kolonialisme zaman saisuak: ingeklah pameran Hindia Belanda di Amsterdam babarapo kali. Nyo pajang awak di situ, nyo caliak2.
Komentar oleh Suryadi — April 26, 2008 @ 7:09 am
Baa acok bana Limau Manih tu ditembak patuih, Fadh?
Komentar oleh Suryadi — April 26, 2008 @ 7:10 am
nampak dek ambo, iyo lah kayo sutan. Siko sawah siko sawah sawahheeee kasasoalahe… Iyo alah kayobana sutan. Ko sasuai jo lagu ebiet. “aku pernah punya cita-cita, jadi petani kecil, di belakang rumah kupelihara berbagai tanaman…..lanjutkanlah sutan.
Komentar oleh wannofri — April 27, 2008 @ 7:37 am
Hi, Da Zul : Thanks. Ladang di kebun tetangga, lebih baik dari ladang di kebun sendiri. (bagarah jo nyoh, koa, hihihi)
Baa pandapek Pak Surya tu a?
Salam dari Bali.
Apo nan lamak di Pekalongan, tu Da Zul. Numpang makan ciek sinan.
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — April 28, 2008 @ 4:58 am
Urang marayakan hari wapaik Khairil Anwar di Taeh, nan Wannofri manyingkia waknyo ka Bangi Selangor Darul Ehsan. Baa tu Nco? Zulmasri, baokan kain batiak Pakalongan nan gak aluih tu ciek. ‘Rain maker’ Elasmendri, lah pandai mambaco naskah lontar di Gedung Kirtya tu? Lah pandai paggia “Oooommmmmm….oommmmm shanti..shanti…oooommmm!” Nco, kok yo berang Dubalang Pagaruyuang dek tulisan ambo di Padang Ekspres tu, iyo lah ka jadi ‘exile’ pulo ambo ko di nagari urang, padohal ambo ndak tahan kalau sakali sataun indak makan kuah sate Piaman. Sansai wak ambo.
Komentar oleh Suryadi — April 28, 2008 @ 9:40 pm
Elas, kalau makanan yo kalah jauh rasonyo dibandiang jo nasi kapau atau simpang raya.
Andalannyo batiak, banyak di siko, baserak-serak. Ajo kalau kamari bisa cari nan paliang aluih bahannyo (sampai ndak taliek) di grosir setono, gamer, pasa santiling, dll. Malampuah, murah-murah hargonyo. Ajo pengen hargo 500 rb atau sajuta, ado barangnyo.
O iyo, cari batiak nan bahannyo aluih untuak apo Jo? Untuak muandok? Kato Pak Fad, ajo dicari-cari urang yo
Komentar oleh Zulmasri — April 29, 2008 @ 5:06 pm
Awak satuju jo pandapek ajo tantang seni nan bajalan tu. Alun lamo tabatiak kaba: urang awak (Indonesia) jadi duta seni ka lua nagari. Nyatonyo di lua nagari mereka tu dijadikan pambantu, tukang cuci, bahkan ado nan jadi palacua. Menyedihkan.
Komentar oleh Zulmasri — April 29, 2008 @ 5:18 pm
Zulmasri, ambo mancari batiak Pakalongan nan aluih-aluih gunonyo untuak manapih santan……(ups???). Konco Fadlillah, baa mako Fauzi Bahar suko bana mandoa basamo kini? Nyo kumpuakan urang di tongah lopang–mulai dari anak sakola sampai ka nan gaek agogo–sudah tu nyo suruah ratik tagak jo mandoa basamo. Asmaul Husna lah namonyo…tabligh akbar lah…Fenomena apo pulo ko Nco? Kok di surau saisuak ambolai dapek nasi bungkuih (namonyo nasik samek,dek basamek jo lidih) kalau urang mandoa basamo. Ko, lai diagiah dek Fauzi Bahar urang2 tu nasi samek sasudah disuruah bapaneh2 mandoa basamo? Ka jadi labai ko Fauzi Bahar sasudah baranti isuak jadi Walikota Padang?
Komentar oleh Suryadi — April 29, 2008 @ 7:02 pm
Bisa mintak tolong pak Fadh.
Pak Fadh, Carian Ambo Buku Pak Suryadi Ciek di Padang Judulnyo “Syair Sunur”. samo “Madilog” – Tan Malaka. Bara arago buku tu kaduo nyo, jo bara ongkos kirim, ambo tunggu yo.
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Mei 2, 2008 @ 2:03 am
Konco Fadlillah, iyo batua kecek Nco tu. Hari ko kalua pulo inyo di Padang Ekspres. Bahaso Arab judul tulisan e (Lai pandai wee mangaji ko?) Batua bana, Nco! Nangkodo Baha ko mampagunokan agamo untuak malampok cadiak buruaknyo. Bak kecek Konco, lah bagalemak-peak kota Padang ko dek nyo. Urang gilo baladiang ko ka tapiliah pulo sakali lai? Sia tu nan mamilih? Ha ha…kok ‘maaram’ ko nyeh lai kota Padangko suak lauik.
‘Rain Maker’, di biliak karajo ambo, mbo caliak lai ado juo lai sakapiang buku Syair Sunur tu. Baa? Kama ka ambo kirimkan? Agiah alamat ‘hotel’ tampek ‘Rain Maker’ Elasmendri tingga.
Komentar oleh Suryadi — Mei 2, 2008 @ 8:04 am
sia tu fauzi bahar? wakatu masih di padang, kok awak ndak tahu jo urangnyo yo. wakatu alah jadi wali kota padang, karajonyo bolak baliak padang jakarta. di jakarta nyo badagang baju di kaki limo. kalau baitu yo la jadi urang bagak di kampuang yo.
ajo bilo pulang? kalau pas ka pilkada, ikuik se. nanti didukuang dari kota batiak. pak fad satuju kan?
Komentar oleh Zulmasri — Mei 2, 2008 @ 10:11 pm
Ambo ndak namuah masuak Pilkada doh, Zulmasri, beko ‘bakada-kada’ ambo. Payah pulo beko pi kama-kama, takuik dituduah pakai pitih rakyaik pulo. Padohal ambo urang palala. Bialah konco ambo Fadlillah se nan ikuik. Kito dorong dari balakang.
Komentar oleh Suryadi — Mei 4, 2008 @ 7:29 am
Dear Pak Surya,
I have sent e-mail to you about the hotel where I stay.
Thanks for the books you would send to me. It would be a great happiness to have your book about the country in the big ocean of west coast of West Sumatera.
Thanks
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Mei 9, 2008 @ 1:49 am
Untuk Pak Fadh,
Berbahagialah,
Banyak tamu di rumahmu
Jangan pernah suruh mereka pergi
Kalau mereka hanya bercerita
Bahwa hujan tak pernah lagi lewat di rumahmu
Salam perkoncoan.
Ikuit konco-konco ciek yo. Ndak usah maurus Pilkada:
Never talk to stranger
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Mei 9, 2008 @ 2:02 am
singgah ciek komandan..numpang lalu..
Komentar oleh kinoi — Mei 14, 2008 @ 2:53 am
Konco Fadlillah. Apo pulo nan bajangkik di Padang (dan kota2 lainnyo) kini? SMS SANTET? Wah…pakau pula kita ko? Orang Indonesia hebat2. Bisa nggak menyantet Presiden Bush. No hpnyo lai di ambo ko.
Mainkan LEAK Bali tu, Elasmendri.
Komentar oleh Suryadi — Mei 16, 2008 @ 1:09 pm
wah wajah baru pak fad? mudah-mudahan ganti bukan karena gurau rang malaysia, da wansamry.
ajo suryadi, mainkan gasiang tangkurak tu. hebat mano jo sms santet…
Komentar oleh Zulmasri — Mei 16, 2008 @ 9:30 pm
Zulmasri, iyo wajah baru tampaknyo ko. Ambo malah sanang maliek pamandangan sawah jo dangau nan dulu. Tabayang dek ambo kami kemping di Rao-rao dulu. Pak Gusdi Sastra kanai kantuik dalam kalumun dek ‘Buya’ Fajri Usman. Baa kok barubah, Konco Fadhlillah. Pengunjung protes nih!
Akan kito mainkan gasiang tangkurak tu, Zulmasri. Bia nak mamanjek2 dindiang paja ko.
Komentar oleh Suryadi — Mei 18, 2008 @ 12:21 pm
Untuak konco-konco:
Sebuah renungan
Sebuah kalimat bijak nan baisi motivasi sangaik gadang nan disampaian dek orang tuo awak, pendiri INS Kayu Tanam: T. Moch. Syafei:
“Lebih baik menjadi raja kecil daripada menjadi budak besar.”
Rasonyo mungkin bisa menjadi renungan bagi kita basamo. Mumpung Mei adalah Kebangkitan Nasional. Marilah kita memotivasi diri.
Tafsirkanlah.
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Mei 26, 2008 @ 3:17 am
Satuju awak……saratuih persen
Kama tuan rumah (Fadlillah) ko? Lah kembali pula di ke Ranah Sikalawi?
Komentar oleh Suryadi — Mei 30, 2008 @ 1:52 pm
Pak Fad, ajo Sur, Elas, dll. Alhamdulillah, anak awak alah laia. Cek di blog awak. Mo kasih doanyo.
Komentar oleh Zulmasri — Mei 30, 2008 @ 6:50 pm
Da Zul,
Salamaik punyo momongan baru. Salamaik bahagia. semoga menjadi anak yang Saleh dan Pintar. Semoga selalu berbahagia.
Salam
Elas
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Mei 31, 2008 @ 10:05 am
Pak Surya,
Pak Fadh, inyo sadang batarak di ateh Gunuang Marapi tu mah. Mako-nya ndak nampak. Jan digaduah pulo.
Pak Surya, lah tarimo alamat hotel ambo?
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Mei 31, 2008 @ 10:07 am
Assalammualaikum WW. Sabana lapeh taragak ambo mancaliak foto Da Fadh. Batambah ganteng kini yo… Mudah-mudahan Da Fadh lai takana juo jo ambo. Salam buat keluarga dan Ibu dan Bapak Dosen di Limau Manih. from Kobek….
Komentar oleh ary sastra — Juni 1, 2008 @ 6:29 am
sehat komandan? komandan, tulisan yg dikirim k ambo tuh (Mengapa Kita Masih Miskin?) ambo posting ke blog ambo yo? boleh kan? bia bnyk nan baco. mokasih. hehehe..
Komentar oleh manix — Juni 5, 2008 @ 2:24 am
Kama urang-urang ko Pak Fadh,
Agak langang galanggang sengeneak.
Jo Rajo Galanggang ndak nampak doah.
Manga urang di ranah Sikalawi, Pak Surya.
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juni 5, 2008 @ 4:31 am
Kepada Zulmasri: selamat untuk kelahiran anaknya. Semoga memberi berkah kepada orang tua. Gelang rambut anarki. Kau lahir waktu pagi, ketika harga minyak sedang melonjak tinggi….
Kepada ‘rain maker’ Elasmendri: Selamat juga atas kembalinya banyak turis mengunjungi Bali. Alamat hotel sudah diterima, namun buku belum sempat dikirimkan. Orang memang agak berduka di Ranah Sikalawi: Tiang Bungkuak meninggal dunia.
Kepada Fadlillah M.St.Kayo: Selamat atas artikelnya yang membuat perut Dekan Fak Sastra Unand mules. Apa yang terjadi? Ambo lai rencana ke Indonesia Juli-Agustus. Ada kerjaan sedikit di Bandung dan Buton. Juni juga mau pergi sebenetar ke Liverpool untuk the 24th ASEASUK Conference. Mau dibawakan apa dari kota the Beatles itu?
Komentar oleh Suryadi — Juni 7, 2008 @ 7:22 pm
trims doa kawan-kawan untuak anak awak. mo kasih banyak.
untuak kobek, batua kato pak fad, susah komentar di blog kobek. apo paralu ganti pakai wordpress sajo.
tapi garembeh di wajah kobek tambah subur, melebihi alm da Al (yusriwal).
salam jabek arek
Komentar oleh Zulmasri — Juni 9, 2008 @ 5:32 pm
Ambo suko maagiah komentar di blog Konco Malin St. Kayo ko dek indak ado syarat harus masuak’an password dll. bagai. Payah bana, rancak tabukan bantuak blog Konco ambo ko. Kalau dibuek Fakultas Kebudayaan Minangkabau, ambo usul dekannyo Drs. Fadlilah Malin Sutan Kayo, MSi sajo kito angkek. Gaji gak 15 jut sabulan kan lai cukuik tu?
Komentar oleh Suryadi — Juni 9, 2008 @ 9:51 pm
Jaan comeh bina, Nco. Satinggi2 tabang bangau tantu tinggi juo kapataabang….eh…pulangnyo ka kubangan juo. Kalau lah tadonga Nco jadi Rektor UNAND,ambo kamehan bungkuihsan ambo lai.Mboa pai balayie pulang lai…
Komentar oleh Suryadi — Juni 14, 2008 @ 10:40 am
Gurambeh
(Puisi salam basobok untuk Da Kobek)
Ku tak mau terkatung-katung di jalanmu
Akhirnya aku keluarkan engkau
Dari dagu dan pipiku
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juni 14, 2008 @ 11:30 am
Satuju ambo tu mah, Pak Surya.
Pak Malin Sutan Kayo Jadi Dekan-nyo. Kalau Ndak cukuik 15 juta, ambo tambah nggak sengeneak beko.
Pak Fadh, have a nice weekend!
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juni 14, 2008 @ 11:38 am
Pak Surya,
Bulando iyo basansam main e di Euro 2008 mah.
Baagiah capak-capak baruak lo pemain e sabalun ke Swiss ndak?
Have a nice weekend to you and your familiy.
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juni 14, 2008 @ 11:40 am
salam motivasi modal insan juara
aminnnnnnnnnnnnn……….
Komentar oleh zaiful — Juni 17, 2008 @ 3:42 pm
Assalammualaikum. Baa Kaba Da Fadh. Nomor HP Da Fadh yang di blog dosen itu ndak bisa dihubungi doh. Bara nomor HP Da Fadh nan sabananyo. Untuak Zulmasri Salam kompak. Lapeh taragak ambo maliek foto inyo. Sudah tuh Elasmendri. Baa kaba kini. Sudah tuh jo Ajo Suryadi. Mudah-mudahan lai takana juo jo Ambo…
Komentar oleh ary sastra — Juni 18, 2008 @ 6:32 am
lah ambo posting ke blog ambo, komandan. mokasi atas izinnyo. kalo lah ado iklan nan masuak ka blog, setiap tulisan akan ambo agiah honor. doakan sajo. hahahaha… teruskan perjuangan!!
Komentar oleh manix — Juni 18, 2008 @ 7:52 am
Pak, iko ambo (azan). jangan lupa link y pak… trims…
Komentar oleh koeboe — Juni 20, 2008 @ 12:09 pm
assalamualaikum, komandan.
a kbr kini, mudo se taruih nampaknya. salam to bang kobek, juo selamat ke da zulmasri atas kelahiran anaknya.
semoga suatu hari da suryadi benar2 jd rektor unand, komandan jd dekan, dan orang2 seperti koko dll tak perlu pergi, sbb di sana mereka dihargai.
salam,
ah
Komentar oleh agus h — Juni 21, 2008 @ 1:48 pm
salam,
aku tinggal di small city, state massachusetts. kamarku berhadapan dgn sebuah taman kota, luas, asri, dan bersih. taman itu jd tempat orang2 mengungkapkan cinta dgn jujur, sublim dan puitis. setiap bangku bertuliskan nama2.. bangku-bangku dengan secarik memento, sejenis obituary untuk apa yang kita cintai. di taman itu, aku paling senang duduk di bangku bertuliskan “berty and burker, from your children”, yang terbuat dari kayu, menghadap ke sepasang pohon oak tua.
mungkin, suatu hari, aku jg mau memesan sebuah bangku kayu, menghadap ke timur, di situ akan kutulis sebuah nama, “indonesia, ……-today”
wah, senang bisa menyemangati kawan2.
di sini aku msh berkutat dgn rasa kehilangan, komandan. memulai dari awal lagi, dan mulai mencari dan menemukan. seperti sebuah keluarga yang tinggal tdk jauh dr tempatku. mereka begitu sedih atas kehilangan kucingnya, mereka bikin pamflet, lengkap dgn foto si kucing and no tlp yang bs dihub.
waw, kubilang ke seorang kawan, di negeriku ribuan orang hilang dan dihilangkan. dalam th 65, nyaris sejuta orang hilang, di peristiwa priok, aceh, di peristiwa 98 dll. dan anehnya kami tak pernah merasa kehilangan. betul, komandan?
e, ambo jd takana pasar baru, membayangkan jejalan ke kampus, dan sebuah ruang yang dikelilingi debu, dengan komandan di situ lengkap dengan topi serdadu. mungkin bisa komandan buatkan sebuah bangku kayu di pojok sastra tu, dengan tulisan “to koko and agus from yours in struggle”…he…he….
salam
Komentar oleh agus h — Juni 22, 2008 @ 1:02 pm
wah, terlalu ambo harus melarang sesuatu yang baguno dan baik untuk ambo, komandan dan org lain? silahkan kunjung ke Jambi komandan. Jadi tim monitoring independent ajo bko ndak? hehehehe… kami tunggu kedatangannyo yo?? jgn lupo sedikit oleh2 dari sinan sekadar menjemput memori. makasi, komandan.
salam
Komentar oleh manik — Juni 23, 2008 @ 4:03 am
komandan, ambo danga berita oleh pantia temu sastrawan nan di Jambi bln Juli tuh. bahwasanyo, komandan diminta menjadi pembicara/pemakalah untuk tematik “Advokasi Sastra”. nah, tuh lah undangan hebat tuh!! segeralah tibo, kami tunggu kedatangannyo. hehehehe…
salam
Komentar oleh manix — Juni 24, 2008 @ 7:34 am
Dari Amerika, Bali, Jambi, Pantura, Ulando, Betwi, Tobek Patah,…..kita bertemu di sini…mengenang angin sepoi di kampus Limau Manih. Masih terngiang buno cingkariak dan kondiak di malam hari…
Kemaren aku tertahan sebentar di Liverpool John Lennon International Airport, karena ada badai d Laut Utara. Tersandar aku di patung besinya yang dipajang di departure gate. Dua hari bicara dalam the 24 ASEASUK conference, tapi di hari aku ingin cepat pulang. Dimana bisa kucari martabak mesir, sate Piaman, dan lompong sagu bagulo lawang di kota yang penuh gedung2 tua hasil perahan tenaga dan nyawa manusia Afrika Selatan, India, Malaysia, dan Pakistan itu? Di malam yang masih terang aku mendarat kembali tgl. 22 Juni di Schiphol international Airport, Amsterdam. Tak jua kutemukan nasi kapau si Kamba dan Soto Padang di sana. Wahai Toto Sudarto Bachtiar, benar katamu: “Aku telah sampai pada batas tepi dimana aku tak bisa kembali lagi…”
Komentar oleh Suryadi — Juni 26, 2008 @ 4:08 pm
beberapa hari yang lalu, aku diajak makan malam oleh seorang temen, seniman dan seorang guru di high school sini. selain aku, temen itu dan istrinya, ada juga seorang social worker, lecturer, pasangan muda dari brasil yang sdg ngambil doktor dan master, dan satu pasangan lg dari south africa.
yg social worker sdh keliling dunia, termasuk aceh pasca tsunami, yg lecturer punya ducth ancestor, yg dr brasil masing2 punya garis turunan berbeda, suami german, istri itali. menarik pasangan satu lg, dari south africa tp keturunan india. dan, dia bilang, bahwa saudara jauhnya punya suami yang leluhurnya berasal dari indonesia.
aku digigit sunyi. untunglah, kami makan di korea restauran, yang dindingnya dipenuhi graffiti. ada bermacam aksara, bermacam bahasa di dinding itu. dan..waw, ada jg bahasa melayu di situ. “Selamat Datang” ttd sebuah nama indonesia Sanjaya…apa berikutnya..aku lupa..
korea restoran dgn bahasa dan sebuah nama Indonesia,paling kurang bikin aku tidak merasa sendiri. ada Asia yang menemani, sebuah tanah yang sekian lama kubayangkan sebagai identitas, sebagai esensi, yang barangkali sesungguhnya cuma perlambang, sebuah tautan bagi ingatan.
aku coba memahami itu, kini Komandan. jg cb memahami diksi puisi yang dikutip da suryadi, “pada batas tepi di mana aku tak bisa kembali lagi..”
selama ini, “batas itu” begitu pasti, sesuatu yang telah terbentuk, dan bukan sesuatu yang sedang dibentuk. sekian lama, kita terbiasa memahaminya secara ganda: “ruang” yang berarti asal dan “tanda” yang berarti pesan2 identitas. dan kita si “puppet”, si wayang, dan entah siapa si “dalang”.
“jangan berhenti di sini, kata chairil, “kita pejalan larut menembus kabut,”
ah…abis, makan, kami jalan ke Iron house–atau horse–semacam klab musik. malam itu tampil musisik kulit hitam. aku dak begitu tahu jenis musiknya, seperti campuran jazz, reggae, dan entah apa lg. terakhir dia maenkan lagu–kata temen seniman/guru, yang berjudul “deportees”, ditulis oleh Woody Guthrie, penyair, songwriter, and american folk musician.
‘….so, farewell to my friends, good-bye Rosalita/ Adios mis amigos, youse the same Maria/ you won’t have name when you fly the big aeroplane/ all they will call you will be deportees…’
sebuah lagu protes, Komandan. protes atas rasisme terhadap buruh perkebunan, sama dgn TKI ilegal kita di Malaysia. mereka asal mexico yang dideportasi ke tanah “asalnya”, dgn pesawat tua yang kemudian jatuh. lagu ini memprotes perlakuan media, yang tidak menyebut korban dengan nama, tapi dengan sebutan “deportees”.
sama dgn TKI dan kita di malaysia yg tidak disebut dgn nama, tapi cukup dengan sebutan “budak indon…!!!” BEDEBAHHHH…………!!
sorry klu kepanjangan, Komandan.
salam
Komentar oleh agus, deportees too — Juni 29, 2008 @ 2:15 am
Salamaik pagi, siang jo malam Pak Fad…..
Ambo sonialis, mahasiswa apak dulu (Sasindo BP 92). Alah lamo Pak Fad ndak bukak blog ko yo….? Pasti sibuk luar biasa yo Pak/
Komentar oleh sonialis — Juni 29, 2008 @ 4:41 pm
sonialis1173@yahoo.com iko salah mah pak. Nan batuanyo bendank1173@yahoo.com
Komentar oleh sonialis — Juni 29, 2008 @ 4:42 pm
- kaba sonialis baek2 sajo pak fad. anak surang laki2 jolong gadang 2 tahunan. namonyo avarelzy hafizh efison.
- bara nomor hp si elas pak fad? nan ambo 0819750-8538
- si bagong jadi pak ogah di daerahnyo,kaba dari faisal. si faisal (0818856108) tau mah nomor hp si bagong pak fad.
Komentar oleh sonialis — Juli 1, 2008 @ 11:18 am
Halo Da Fadh. Alah hebat-hebat kawan-kawan awak kini ko yo. Ambo baru tau dari blo Da Fadh ko. Salam buat Agus Hernawan nan sadang di Amerika. Tolong sampaikan salam ambo ka Obama. Sudah tuh samo Elasmendri di Bali.
Komentar oleh ary sastra — Juli 2, 2008 @ 3:49 am
Hendra Efison Ampuang? Dunsanak ambo.
Lai baa kaba Ampuang. Lai Barasok jo Indaruang tu taruih.
Ambo simpan nomor ampuang Dek Ambo. Sayangnyo di Padang ambo sabanta nyoh. Mungkin ampuang sibuk. Jadi mungkin ndak basobok ambo doah.
Lai panjang jo rambuik ampuang lai.
Ambo manulih artikel ka padek ciek yo….
Ambo taragak jo Faisal Tu mah. Si Bagong gai. Pokoke jo Kawan 92.
Kito buek wadah lo ciek baa nyoah.
Sukses Ampuang
Bilo Mandaki awak basamo baliak.
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juli 7, 2008 @ 3:41 am
Rain Maker Elasmendri
Urang di Piaman bacokak pakaro asak-maasak ibukota kabupaten. Kito pindahan ibukota kabupaten Padang Piaman ka Pulau Anso baa?
Komentar oleh Suryadi — Juli 10, 2008 @ 7:21 pm
ada dua sejarah yang terjadi di Jambi. yang satu sejarah kali pertama diadakan pertemuan sastrawan dan yang satunya antrean panjang BBM. ya, TSI 1 di Jambi kemarin berbarengan dengan kondisi sosial yang sangat parah. kelangkaan BBM dan pemadaman listrik yang cukup lama setiap hari secara bergantian dan berimbas pada sulitnya air PDAM. sampai hari ini antrean panjang masih terjadi. orang2 dengan rela menunggu berjam-jam bahkan berhari-hari untuk antrean mobil.
pada TSI, pembicaraan dan bisik2 hanya seputar org2 yang bergumul disana. karena kita tahu secara umum tujuannya masih seputar apresiasi. berbicara masalah ruang, penerbitan, masalah perlindungan hukum, dsb2. sementara pembicaran dan bisik2 kelangkaan BBM di Jambi terjadi disetiap sudut, di setiap rumah makan, di warung2, di tempat kongkow2, di jalan2, apalagi ditempat antrean.
TSI selesai, para sastrawan dan kritikus bubar dan pulang ke kampung halaman masing2 dan mungkin membawa cerita. sedangkan antrean panjang tak kunjung bubar. cerita dan bisik2 semakin berdengung. tak ada cawako dan pasangannya yang cuap2 tentang keadaan ini. semuanya diam dan tentu tidak mau merasakan panjang dan lamanya antrean.
lalu, mau apa kita dengan keadaan ini?
terima kasih komandan atas kehadirannya di “rumah kita”.
salam,
ricky manik
Komentar oleh ricky — Juli 11, 2008 @ 3:28 am
Pak Surya, bilo ka kito pindahan. Bara paralu kapa mamindahan, beko ambo kirim dari Gilimanuk.
Kalau ndak cukuik beko kito pinjam kapa cindua mato baa nyo. Mintak izin ka Malin Sutan Kayo di Songka lu.
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juli 11, 2008 @ 8:26 am
PAK SURYA, TAKANA JO LAGU LAMO:
ILAN KAPALO ILAN SAKAREK KAPALO NAGO
DI LAUIK ARI LAH HUJAN, DISIKO LAH GABAK PULO,
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juli 11, 2008 @ 8:31 am
URANG PAUAH BAKUDO LIMO
NAN SAIKUAH MAMUTUIH TALI
URANG JAUAH BAKIRIN BUNGO
KOK LAYUAH JOA DIGANTI
(LAI MEKAR JO TULIP DI BULANDO TU LAI)
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juli 11, 2008 @ 8:33 am
I
TITIAN PAUAH
REL KARETA API
DISINAN KITO MAMADU JANJI
JANJI DIIKEK INDAK KA BAPISAH LAI
DINGIN-DINGIN HARI
LABIAH DINGIN ATI
(dima nyo kini?)
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juli 11, 2008 @ 8:37 am
Takana jo si upiak sirabiatun
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juli 11, 2008 @ 8:37 am
Pak Fadh,
Manga kini tu?
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juli 11, 2008 @ 8:39 am
Bagurau kito sengeneak dulu.
Parintang wakatu
Paubek jariah nan tibo
Parintang wakatu manjalang sanjo
Paubek ati nan luko
Supayo sajuak di dalam kiro-kiro
Namun samantang pun baitu, goreang talatak disantuang juo
Kopi nan angek kito tuangkan
Galaih nan panuah kito angkek
Supayo sanang malam nan datang
Kaniang nan karuik dipaluruih
Supayo basuko kita sadonyo,
Lai baa tu rang banyak
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juli 11, 2008 @ 8:45 am
Badaceh pantun Elasmendri,
Iyo gak rumik: Listrik mati di Jambi, tapi kan peserta PSI lai taruih juo baco puisi…
Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miski. Kecek Afrizal Malna di Kompas: “Bunga bateba2 di dalam kota. Afrizal Malna ko taruih mandiskusikan BULAKANG RUMAH JO MUKO RUMAH. Bak kecek Hamsad Rangkuti kapatang di Palangkaraya: bamain2 ndak tantu ojok jo bahaso. Karuik koniang mambaco tulisan e.
Mbo baleh pantun ‘Rainmaker’ Elasmedri ciek lu:
Balaia kapa Tuan Haji,
Mambao rotan saguluangan,
Lai di bawah payuang panji,
Saketek indak kalinduangan
Komentar oleh Suryadi — Juli 15, 2008 @ 9:58 am
Pak Surya, dima kini ko? Di bulando atau di Padang?
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Juli 15, 2008 @ 12:36 pm
Masih di Bulando, Elasmendri. Taragak anyang taruang, tapi nan ada kantang ulando nyo. Awal Agustus ambo di Batawi, ‘Rainmaker’. Ado mangecek di Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara 12,di Universitas Padjajaran, Banduang, 4-7 Agustus 2008. Kok ka Banduang Elasmendri, sobok kito di sinan.
Komentar oleh Suryadi — Juli 15, 2008 @ 4:08 pm
Halo da Fad. Sasuai saran dunsanak ambo Zulmasri, kini alah ambo ganti menjadi arysastra.wordpress. Tapi ambo masih ndak mangarati baa caro mambuek fitur-fiturnyo doh. Maklumlah awak dulu kuliah di kadai kopi Ni Upik se nyo. Kini ko kabatulan sajo lai bisa mamakai komputer jo internet dek karajo di surek kaba se mah. Salam
Komentar oleh ary sastra (kobeks) — Juli 30, 2008 @ 5:06 am
Halo Uda Fad. Sasuai saran kawan Ambo Zulmasri, kini ambo baraliah ka wordpress. Tapi sampai kini ambo masih binguang mambuek fitur-fiturnya. Maklumlah awak kan dulu kuliah di kadai kopi Uni Upik se nyo. Mamacik komputer jo main internet ko dek kabatulan karajo di surek kaba se mah. Salam
Komentar oleh ary sastra (kobeks) — Juli 30, 2008 @ 9:55 am
lapeh taragak awak masuak ka blog pak Fad ko, rami, raso masuak ka kantin sastra Unand.. jauah jalan dari ikip/unp di aie tawa, rasonyo ndak ado latiah, baitu pulo wak masuak blog ko.. sobok awak jo kawan2 lamo (nan kawan antah lai takanan antah indak hehe), kok lai sobok jo kawan awak nan ciek lai, israr, sampaian salam ambo ka beliau pak fad
Komentar oleh mairi nandarson — Agustus 1, 2008 @ 3:29 am
Da Zulmasri, wakatu ambo pulang kampuang patang ko, horison da Zul lai basobok. Agiah ambo alamat lengkap da Zul, ambo kirinan majalah tu.
Salam
Elasmendri
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Agustus 2, 2008 @ 11:29 pm
alamaikkan surek bisa di:
Zulmasri
SMA Al-Irsyad
Jalan Seruni 66A
Pekalongan 51123
Apo mampir sekalian di Pekalongan waktu baliak ka Bali?
Komentar oleh Zulmasri — Agustus 8, 2008 @ 9:50 am
Ok, Da Zul
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Agustus 11, 2008 @ 4:20 am
nurul fahmy
samo-samo pak. lah batarimo pakirim ambo. kapado kawan-kawan nan dak mandapek, kacau se kopi tu sagaleh gadang pak, minum barami-rami, kan samo senyo tu, mancubo juo, hhehe.
oyo, samo-samo ambo mohon maaf juo, kok ado kasalahan nan talisan atau nan tatulihkan…
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUSA DI BULAN RAMADAHAN..
Komentar oleh nurulfahmy — Agustus 28, 2008 @ 8:20 am
Apak-apak, Ibuk-ibuk ambo di Sastra jo Konco-Konco kasadonyo:
Ramadhan adalah keteduhan dari pohon-pohon rindang yang tumbuh di tepian sungai yang bening yang mengalir di tengah padang rumput yang hijau.
Selamat Puasa
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Agustus 30, 2008 @ 1:49 am
Pak Suryadi,
Salamaik Puaso.
Bilo hari rayo di Bulando
Alah babali tiket kapa ka Piaman.
Beko abih beko.
Pak Fadh,
Tiket ka songka tolong di Booking dulu.
Bilo awak basobok di Bali baliak.
Dari Bali taruih ka Australia awak.
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — September 1, 2008 @ 12:11 am
assalamualaikum pak, ado nan lupo pak
mintak wak alamaik e-mail surek kaba yo pak. talabiah dahulu tarimo kasih banyak. kiriman ka e-mail awak se pak.ditunggu
Komentar oleh firman — September 3, 2008 @ 6:33 am
Alo Uda Fadh. Kalau bulan puaso ko takana awak jo warung kafir di Barak Vietnam dulu. Tapi kini indak lai Da Fadh. Percuma sajo awak kuliah Bahaso Arab jo Fadhnyo… Fiil Amar jo Mudariak tuh lai masih takana jo awak. Salam buek Dunsanak sadonyo. Salamaik Puaso. Mohon Maaf Lahir dan Batin…..
Komentar oleh arysastra — September 6, 2008 @ 1:18 pm
ajo sur….
taragak awak mambaco tulisan da sur. tapi dalam bantuak cerpen atau novel. tolong buek-an awak ciek carito tantang seorang pribumi nan acok bakunjuang ka lua nagari. mampia di gedung-gedung tuo nan dibangun jo darah samo aia mato di negara jajahan. yo tabayang dek inyo penderitaan rakyat tu.
awak tunggu yo jo. patajam se konfliknyo. endingnyo tasarah.
Komentar oleh Zulmasri — September 6, 2008 @ 4:22 pm
haha…rancak ide Zulmasri mah. Mbo cubo tulih beko…
Komentar oleh Suryadi — September 8, 2008 @ 2:34 pm
Eh…ampia lupo: salamaik puaso kasado alahe. Liek http://www.padangkini.com soal puaso di Nagari Ulando. Elasmendri babuko jo bebek betutu mah, kalau Zulmasri pasti babuko jo rawon…
Komentar oleh Suryadi — September 8, 2008 @ 2:37 pm
assalamu’alaykum… pak Fad…..
salam kenal …
http://www.ariex.co.cc
Komentar oleh abuipah — September 15, 2008 @ 1:18 pm
salamaik Ari Rayo. Makasuik ati nak pulang ka kampung. Apo dayo kapa lah panuah. Lewat blog ko silaturahmi kita sambuang. Salam dari kami urang nan jauh. Ary sastra (Kobeks) sekeluarga mengucapkan mohon maaf lahir batin untuk dunsanak kasadonyo. Kalau ado utang piutang mohon direlakan sajo.
Komentar oleh arysastra — September 27, 2008 @ 2:25 pm
Met idul Fitri kasado alahe. Mohon maaf lahir batin.
Komentar oleh Zulmasri — Oktober 5, 2008 @ 12:01 am
Salamaik hari rayo, Malin. Baa kaba kini, lai sehat-sehat sajo.
Komentar oleh elfialdi — Oktober 6, 2008 @ 2:02 pm
Halo Uda Fadh. Baa kaba kawan awak si Elfialdi tuh. Lai bakadai nasi juo di simpang anam tu lai. Kalau lai ambo taragak ikan bakanya. Lai ado nomor HP nyo tolong sms kan ka nomor ambo, 081372255454. Tarimo kasih yo da Fadh
.
Komentar oleh ary sastra (kobeks) — Oktober 9, 2008 @ 5:46 am
Aa…talambek mangucapkan salamaik Rayo. Tapi bialah talambek daripado indak samo sakali. Elfialdi, lah lamo kito ndak sobok. Kama Elfialdi?
Nco…kama Nco? AMbo sms ndak manjawek2?
Komentar oleh Suryadi — Oktober 12, 2008 @ 12:48 pm
Ej ajo. alah salasai novel tu?
Komentar oleh Zulmasri — Oktober 13, 2008 @ 7:05 am
Hai apa kabar?
Komentar oleh wahyunimuliahelmi — Oktober 23, 2008 @ 4:20 am
Ambo indak pandai manulih novel ko, Zul. Tunjuak’anlah caronyo.
Komentar oleh Suryadi — Oktober 25, 2008 @ 9:43 am
Kama konco ambo, Drs. Fadlillah Malin Sutan Kayo, M.Hum. ko? Lah lamo baliau indak mancogok. Di-sms indak pulo manjawek2. Ambo kirobaliau sibuk pilkada ko?
Komentar oleh Suryadi — Oktober 25, 2008 @ 9:56 am
Da zul, ambo ka mangiriman horizin nyo, yo. Tunggu dulu.
Pak Surya, lah lamo kito indak bakirin kaba. Baa kaba. Ambo liek sosok e tapampang di kota. Iyo lah hanyuik urang piaman di Bulando. Salamaik an taruih carito lamo tu, Pak. Banyak generasi awak nan talupo. Bak kecek Sukarno jo : Jasmerah e, Pak.
Pak Fadh, Lai baa kaba. Lah lamo lo kita ndak kontak.
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Oktober 29, 2008 @ 9:35 am
Koreksi: Ambo liek sosok Pak Surya tapampang di Kompas- sorry salah tulih di ateh tua – Elas- tatulih di ateh di kota -
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — Oktober 29, 2008 @ 9:38 am
oke elas. awak tunggu. paralu ndak nanti di tulih di http://zulmasriwordpress.com ? Judulnyo: Pusako nan alah babaliak.
he he he
eh, las. tolong ajo sur mambuek novel tuh. alah kapayahan ajo manulih supayo taraso sero dibaco….
Komentar oleh Zulmasri — November 3, 2008 @ 7:35 am
oke elas. awak tunggu. paralu ndak nanti di tulih di http://zulmasri.wordpress.com ? Judulnyo: Pusako nan alah babaliak.
he he he
eh, las. tolong ajo sur mambuek novel tuh. alah kapayahan ajo manulih supayo taraso sero dibaco….
Komentar oleh Zulmasri — November 3, 2008 @ 7:36 am
Da zul, alah pilkada urang di pekalongan.
Ikuik ambo ciek a
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — November 4, 2008 @ 2:50 am
Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah.
Kami berharap bisa meningkatkan kerjasama dengan memasangkan WIDGET Lintas Berita di website Anda sehingga akan lebih mudah mempopulerkan artikel Anda untuk seluruh pembaca di seluruh nusantara dan menambah incoming traffic di website Anda. Salam!
Komentar oleh lintasmarketing — November 8, 2008 @ 5:44 am
trims, komandan sdh mampir ke blog saya. kalo mampir lagi tinggalkan jejaknya ya…
sehat dan kreatif selalu…jgn letih..
salam,
manix
Komentar oleh manix — November 28, 2008 @ 1:35 am
ada beasiswa ke luar negeri.
bagi yg berminat, silahkan kunjungi http://informasi-pendidikan.blogspot.com
Komentar oleh education info — November 29, 2008 @ 8:24 am
kunjungan dengan pesan perdana, Pak.
Komentar oleh MalaM — Desember 1, 2008 @ 2:38 am
pak fad, numpang main yo. Lun dapek banyak kawan wak di siko lai. Koko seperti biasa, agak susah dibao maota hehe. Urang IAIN ndak lo banyak nan punya rumah di internet. Tapi tamu pak Fad kok laki-laki se? Kama Umil Khalis atau Defina bagai?Sajak jadi pagawai ko uni-uni tu ndak sempat buka internet bagai nampaknyo lai atau memang untuk laki-laki se ndak?
Kok iyo talongsong wak mah. Semoga tidak begitu yaa dan pastinya tidak
salam dari Gwangju
Komentar oleh kabati — Desember 3, 2008 @ 7:27 pm
Assalam..
pak, bilo maaja kami yang 08 pak
trims
Komentar oleh willy — Desember 13, 2008 @ 10:26 am
ondeh pak fad lapeh taragak ambo jo pak fad, saraso basobok muko awak kiniko. baa kaba pak fad lai sehat se. Posisi dipadang dima kni, mungkin kalau ambo ka Padang ambo sempatkan batamu jo komandan kito. Kalau ambo masih di Jambi, di nagari kubu kato urang. Pak fad, tatompang salam ambo ka Elasmendri jo pak Suryadi ( masih ingek ndak beiau2 tu joambo) . Klau ka Jambi agaiah tau ambo buliah ambo carian pak fadh minyak Jambi nan paten. Talabiah takurang ambo mohon maaf, ambo mohon diri dulu, Sakian.
Komentar oleh Ed ( Zuhdi Darma ) — Desember 13, 2008 @ 4:47 pm
Oi, Da Ed.
Baa Kaba?
Iko ambo, Elasmendri.
Sanang bana ambo basobok lewat blog ko.
Agiah lah ambo e-mail jo nomor telepon. Kalau ka jambi ambo tokok kawek tu anggak sangenek.
Kalau ado e-mail, yo kirim-kirim e-mail awak.
Komentar oleh elasmendri — Desember 17, 2008 @ 4:31 pm
siang komandan…ambo kini ado di siko…blog lamo ambo kanai virus…hehehe…salam perjuangan
Komentar oleh kinoi — Desember 18, 2008 @ 4:34 am
elas, baa kabanyo? alah bakirimkan horison tu? awak tunggu di pekalongan, kok ndak sampai-sampai?
Komentar oleh Zulmasri — Desember 19, 2008 @ 7:39 am
Ok, Da Zul, Hari Senin tanggal 22 Desember 2008 ambo kirinan. Tunggu jo di Pekalongan, yo.
Ambo masih sibuk jo proyek pulau ambo. Sorry, yo.
Komentar oleh elasmendri — Desember 20, 2008 @ 4:09 am
pak Fad Numpang liwaik yo…..
Elas, baa kaba, ambo lai baiak2 se, kalau ambo baco diwaruang pak fad ko, elas kiniko di bali apo iyo tu?
Kontak salanjuiknyo ko El….
zuhdi_lola@yahoo.co.id Hp 081366519234
Komentar oleh Ed ( Zuhdi Darma ) — Desember 22, 2008 @ 2:58 pm
pak fad,
numpang lewat.
pak kasih komentar ke blok ci ya pak,
di tunggu.
Komentar oleh samsiarni — Januari 9, 2009 @ 6:07 am
lamlekom ndan…..
baa kaba nyo komandan kiniko…..ambo la lama ndak suo jo komandan… mungkin kini saatnya kito basuo kembali setelah 6 tahun….
mungkin ambo dianggap kawan yang kurang ajar selamoko karena tidak pernah beri kaba samo komandan…..tapi karena satu dan lain hal makonyo ambo harus hilang sementara dari peredaran.
ambo sekarang tingga di kota subulussalam NAD. ambo bekerja sebagai wiraswasta kecil-kecilan yang hasilnyo hanya cukup untuk makan sajo. untuk saat ini ambo jo kawan2 di subulussalam coba membangun sebuah organ di bidang kebudayaan yang namonyo LKP (lembaga kebudayaan Pakpak) Suak Boang. ambo telah menikah dan telah dikarunia seorang anak laki laki bernama Muhammad Din Satrianta Solin. anak yang nantinya akan meneruskan kerja-kerja ayahnya yang belum selesai. Insya allah.
kalo boleh minta tolong samo komandan….. tolong bantu ambo untuk tato di bimbing dalam melaksanakan kerja2 kebudayaan di wilayah Aceh ini dan dibantu juo masalah buku n info2 tentang kebudayaan. ambo Nurdiansyah Putra Solin/ Bp 97 184 012. Add Jl Panglima Polem no 48 Subulussalam. Hp 081269405678
Komentar oleh ucok 97 — Januari 10, 2009 @ 2:16 am
Assalamualaikum, Pak …, bilo wak kubak utak Adonis ko Pak?
Komentar oleh ilhamyusardi — Januari 15, 2009 @ 7:49 pm
ass komandan. yo lah lupo jo utang tu yo? atau balupo2 an?la panek ambo manunggu indak juo dapek kaba…ambo mgkn alun bs s2 dlm 5thn ko pak…bos kalera tu alah definitif…nyo skak ambo ndak buliah s2 kecuali ambo amuah manuruikan kecek2 anjiang gadang tu…dan kini ambo sadang menikmati ‘karajo’ ambo 4thn belakangan…memang pahit menyuarakan kebenaran tu yo pak…ambo lillahita’ala se lai nyo…Allah pasti ado mukasuik jo rencana dlm perjalanan hiduik awak…ndak sia2 kan pak?ambo nio curhat jo apak,tp nantik se lah kalau awak lah bersitatap muko…baa kaba keluarga pak?aman?salam utk rang rmh…jo kwn2 di sastra…
hanya ada satu kata: LAWAN!!
SALAM RINDU JO KOMANDAN…
Komentar oleh kinoi — Februari 2, 2009 @ 6:51 am
salam. pak gabung di facebook pak. mungkin lebih interaktif diskusinya
Komentar oleh il — Februari 28, 2009 @ 6:12 am
What kind of world do we have now?
Komentar oleh elasmendri, BP 92, Sasindo Unand — April 7, 2009 @ 12:14 am
Salamaik jadi Doktor, Pak Surya.
Tingga Profesor lai Pak.
Gapailah Cito-Cito Satinggi Bintang di Langik, Pak.
Tapi jan lupo ka lauak di lauik Piaman.
Komentar oleh elasmendri — April 12, 2009 @ 9:59 pm
Pak Fadh, bilo awak basobok di Bali baliak?
Komentar oleh elasmendri — April 12, 2009 @ 10:03 pm
Pak Fadh, Bara no HP kini. Nomor nan dulu hilang karano HP ambo masuak mesin cuci.
Komentar oleh elasmendri — April 12, 2009 @ 10:05 pm
Assalamualaikum, pak fad.
partamo, mokasi pak. Artikel meramal bahasa Indonesia masa depan dipercayakan masuak buletin apak. ingek2 an juolah wak pak. kok lai ka jadi urang juo.
soto ciek pak, main-main dumah apak. byk urang pinta kiRo e dumah pak fad ko. sampai an salam wak samo pak suryadi ciek pak. wak salute ka e mah.wak nandak lo ka bulando co e tu. tapi baa caRo e tu yeh..? ko dak dialah,,in may dream i go to keukehoff.liek bungo tulip pak suryadi. Apo je warno tulip tu pak suryadi?
Pak fad sampaian lo salam wak samo bg agus hernawan yo pak. sebaris puisi e wak kutip dalam cerpen Menuai Rinai.
Salam kasadonyo uda2, uni2, abg2, angku2, keluarga besar sasindo unand. eh buya fahmi dima kini pak? salam lo ka e pak. mokasi yo pak.
By: anak ketek nan jolong gadang…(defie)
Komentar oleh Defie — Mei 6, 2009 @ 12:19 pm
Apa yang terjadi seandainya para pahlawan yang telah terdahulu hidup bersama kita kembali.
Salam Sejahtera
Dari Pulau
Komentar oleh elasmendri — Mei 8, 2009 @ 11:17 pm
El Gabuang di FB Ell
Komentar oleh zuhdi darma — Juni 11, 2009 @ 4:02 pm
lapeh sumbu e, Pak. Lah baroyak lo di Padang.
Baa kampus.
Komentar oleh elasmendri — Agustus 16, 2009 @ 11:24 pm
Pak Suryadi, kabanyo pulau Angso di Piaman, lah takalabuang lo dek gampo. Pai lah caliak pulang dulu, kok ado kabek e nan lapeh ndak.
Ajo Surya ala di kampuang kini, Ajo Elasmendri nan alun lai, El banyak maaf ka masuak puaso ko.
Fadlillah MSK
Komentar oleh elasmendri — Agustus 16, 2009 @ 11:29 pm
Samo-samo Pak Fadh.Bulan puaso ko iyo lamak mandanga lagu malayu di kejauahan. Gamaik jo tikam tuo. Mantap.
Talabiah ka sahur tu a. Taraso puaso raso e.
Ingek kampuang, seneak.
Pak Surya, Pacik an bana tagok-tagok Pulau Angso tu.
Komentar oleh elasmendri — Agustus 22, 2009 @ 12:06 am
Salam maaf banyak-banyak Pak Fad. Takana di awak zaman di Padang dulu. Salamaik bapuaso!
Komentar oleh Syukri Datasan Al-Pauhi — Agustus 24, 2009 @ 8:05 pm
Sutan, iko blog bagus sekali, banyak penggemarnyo.
Nomor satu di Ranah Minangkabau hehehe.
Salam untuak Syukri Datasan Al-Pauhi. Takan Tahun 1987, puisi-puisi kito saling beriring.
WNS
Komentar oleh Wannofri — Agustus 27, 2009 @ 3:00 pm
semoga selalu dalam keadaan baik pak fad. salam…
Komentar oleh meif — September 2, 2009 @ 6:58 pm